⚠️BXB WARNING⚠️
⚠️OHMNANON⚠️
⚠️21+⚠️
Nanon yang tiba-tiba memutuskan liburan seorang diri bertemu dengan Ohm Pawat yang selalu jadi topik pembahasan anak-anak dikelasnya.
Ohm Pawat yang merindukan orang tuanya di desa, akan berkunjung liburan kali i...
Hp Ohm berdering, memperlihatkan nama Ibunya dilayar. Ibunya sudah lama tak pernah menelpon, Ohm segera mengangkat.
"Halo, ibu?"
"Paw. Maafin ibu ya nak. Ibu udah jahat sama kamu. Bapak udah cerita?"
"Tidak apa bu, bapak udah cerita, aku harus bisa paham. Jika ibu ga bisa liat aku, mungkin aku harus pulang ke rumah bunda?"
"Paw, boleh tidak, jangan pulang dulu ke rumah bunda kamu. Ibu masih kangen."
"Ibu, Sudah satu minggu aku pulang ke sini. Kita belum ada ngobrol apapun. Kalau ibu kangen harusnya kita ketemu. Tapi ibu selalu menghindar. maaf, aku gak marah sama ibu. Aku hanya ingin ngobrol dengan ibu seperti ibu dan anak."
"Ibu akan coba. Paw, kamu pulang ya? Ibu masak ini banyak sekali. Kalau gak pulang siapa yang habisin?"
"Ibu mau aku pulang ke ibu?"
"Iya, pulang ya?"
"Iya bu, aku pulang."
"Bapak lagi ke sana buat ketemu kamu. Bilang aja ibu yang suruh pulang. Jadi kalian bisa pulang sama bapak. Mungkin sekarang udah di sana Paw bapakmu."
"Iya bu." Ohm memandang hpnya. Nanon yang melihat kesedihan Ohm memegang tangannya dan meremasnya. Membuat Ohm tersenyum.
"Ayok ke villa. Mungkin bapak udah disana." Setibanya mereka memang bapak sudah berada di sana untuk mengunjungi Ohm dan Nanon. Bapaknya berharap mereka tidak bersedih karena disuruh menjauh sementara.
"Bapak cuma sebentar sih pengen tau mungkin kalian lagi butuh barang atau baju ganti."
"Kalau baju sih pak bisa beli di sekitaran sini. Banyak yang jual baju pantai."
"Sudah makan?"
"Ee pak, Ibu tadi telpon di suruh pulang katanya dia masak banyak."
"Hah? Ibumu suruh kamu pulang?"
"Iya tadi ibu suruh pulang katanya kangen."
"Ahh untung saja bapak bukan bawa motor. Siap-siaplah kalian itu, kita pulang!" Ohm dan Nanon mengangguk, melipat pakaian handuk dan barang lainnya masuk ke dalam tas. Setelah itu mereka kembali ke rumah Ohm.
Ibu dan sikembar menyambut mereka di depan pintu. Tapi Ohm dan ibunya menjaga jarak. Sudah hampir jam dua siang Ohm dan Nanon menghadap makanan yang penuh di meja makan. Untung saja mereka banyak makan cemilan dan air kelapa sehingga tak terlalu lapar perutnya. Ohm dan Nanon diminta untuk duduk sedangkan ibunya masih cukup jauh dengan mereka, Menggenggam tangannya. Bapak menenangkan ibu yang masih berusaha tetap tersenyum pada Ohm.
Saat Ohm ingin duduk dikursi sebelah Nanon, Alda menariknya tanpa suara dan menduduki kursi dekat Nanon. Ia tersenyum pada Nanon dengan manis membuat semua yang ada di ruangan itu terheran. Ohm yang terusir dari posisinya, mengalah. Mengambil kursi yang lainnya. Mereka makan dengan tenang. Hanya Alda terlihat lebih manja pada Nanon.
Setelah makan Ohm dan Nanon duduk bersama bapak dan ibu sambil menonton tv. Masih dengan ibu yang sangat jauh dari Ohm. Sedikit bercerita tentang waktu yang mereka habiskan di pantai. Tidak termasuk kegiatan malam mereka. Saat sedang membicarakan acara televisi yang menampilkan berita sore, Aldo dan Alda berlari kearah mereka.
"Ibu, Bapak...." Panggil Aldo. Sedangkan Alda dibelakangnya menarik Aldo dengan kuat. Mereka bertengkar dan Alda hampir menangis.
"Kenapa sih Aldo, jangan gitu sama adekmu!"
"Alda ibu, Alda katanya suka sama kak Nanon.
"HhngAaaaaa..." Suara tangisan Alda lepas setelah Aldo mengadu pada ibunya. Nanon mendekat pada Alda dan mengendongnya. Meletakkan alda diatas pahanya.
"Aldo, jangan gitu lah sama adekmu."
"Tapi bener kok pak Alda bilang suka kak Nanon." Alda masih saja menangis dalam pelukan Nanon. Sedikit tak senang Ohm dengan kedekatan mereka. Ohm memegang tangan Nanon yang lepas sebentar dari Alda. Nanon melihatnya sambil membesarkan mata. Kesal dengan tingkah Ohm padahal ada kedua orang tuanya yang untung saja tak sadar.
Setelah dibujuk untuk berbaikan, Aldo dan Alda bermain lagi di luar. Cepat sekali anak itu berbaikan. Mungkin karena mereka saudara, kembar. Ingin sekali Nanon punya satu saja saudara yang bisa jadi sahabat dan tetap bersama walaupun bertengkar.
Banyak yang mereka obrolkan termasuk tentang pekerjaan orang tua Nanon. Tapi Nanon menjawab dengan singkat, tidak ingin menjelaskan apapun tentang kehidupan pribadinya. Hingga waktu juga cepat berlalu. Sedikit kemajuan karena ibu dan Ohm diruangan yang sama selama beberapa jam.
Ohm dan Nanon masuk kedalam kamar saat jam sebelas malam. Bersiap merebahkan tubuhnya, tapi masih terduduk.
"Paw,"
"Hm?"
"Eh,,kita pacaran kan?"
"Masih nanya? Ya iya lah."
"Kalau gitu, boleh cium?" Ohm mendekat dan mencium pipi Nanon.
"Bukan gitu." Ohm mendekat lagi dan kali ini mencium keningnya lebih lama. Nanon mendorong Ohm.
"Bukan gitu Paw," sedikit kesal karena Ohm tak tau apa maksudnya tapi Ohm mendekat lagi. Mencium dan melumat bibir bawah Nanon sedikit lebih lama. Ohm melepas ciuman mereka.
"Paw, kalau gue pengen lagi gimana?"
"Pengen apa Non?"
"Pengen kayak kemaren."
"Yang mana?"
"Yang kemaren Paw,"
"Yang mana Nanon, jelasin dulu." Ohm memeluk punggang Nanon dan mendekatkan tubuhnya.
"Ya udah, gak jadi pengen."
Melihat Nanon yang sudah mengalihkan pandangannya, Nanon yang terlihat marah padanya, Ohm tertawa kecil. Nanon ingin melepaskan pelukan Ohm tapi tangannya semakin kuat berada dipinggang Nanon.
"Lepas Paw, mau tidur."
"Nggak, jangan tidur dulu."
"Ngantuk." Ohm melepaskan satu tangannya, pikir Nanon dia akan membiarkannya tidur. Tapi salah, Ohm menyentuh pipinya dan mengangkat dagunya. Kembali mencium bibirnya dengan nafsu. Nanon membalasnya dengan lebih bernafsu.
"Suaranya dipelankan ya?" Ucap Ohm disela ciuman panas mereka.
"Hmm." Nanon membalas dengan mengangguk, mengalungkan tangannya dileher Ohm dan mencium Ohm seakan tak ada lagi hari esok. Dan memang benar, tak ada hari esok untuk mereka bercinta seperti ini. Nanon melepaskan semuanya. Tak ada rasa malu, tak ingin menyesalinya. Mungkin ini seumur hidupnya hanya kali ini dia bersama Ohm Pawat, orang yang ia kagumi. Hanya saat inilah Ohm menjadi miliknya dan dia milik Ohm.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kegiatan panas mereka dilakukan dengan menahan suara yang keluar. Tapi tetap saja seseorang mendengar rintihan halus dari kamar Ohm. Berhenti di kamarnya yang sedikit terbuka. Melihat Ohm dan Nanon yang tak menggunakan pakaian sehelaipun dan menyatu. Hanya sebentar, ia pergi tak mengganggu apa yang mereka lakukan. Senyuman mengambang dibibir tipisnya.