"Papa! Papa! Lebih tinggi! Hahahaha!"
"Aaah! Berat sekali! Turuuun!"
"Tidak mau!"
Seorang anak laki-laki yang berusia 5 tahun dan seorang gadis kecil 10 tahun kompak berteriak bersamaan. Mereka masih asik bergelantungan dan berayun di lengan papanya.
"Ayo semua makan dulu, makanan sudah siap."
Seorang wanita dengan celemek di badannya sedang sibuk memindahkan mangkuk-mangkuk makanan ke atas meja.
Melihat panggilan lembutnya tidak digubris, wanita itu pun berteriak lebih keras, "Jung Woosung! Jung Jihye! Jung Yunho!", melafalkan setiap kata dengan penuh penekanan.
Dengan cepat semua bangku di meja makan terisi. Siapa yang tidak takut ketika nama lengkap mereka sudah dipanggil seperti itu?
"Haaah apa aku harus selalu mengabsen kalian dulu baru kalian ingat makan??"
"Salahkan para gorila kecil ini."
"Papa aku bukan gorila!" Yunho cemberut.
"Benarkah? Kalau begitu monyet kecil."
Melihat wajah adiknya semakin jelek, Jihye kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya. Cemberut di wajah adiknya seketika menghilang dan tergantikan oleh kikik kecil keduanya.
"Apa yang kakakmu katakan sayang?"
Sang ibu bertanya.
"Jika aku monyet kecil, maka papa dan mama adalah monyet besar karena aku anak papa dan mama!"
Tawa di ruangan itu langsung pecah, makan malam yang ramai meskipun hanya berempat.
"Ya ampuuun, kenapa kalian terus memberikan lobak kalian kepada Papa~ Papa sudah cukup besar! Jangan memberinya makanan terus! Nanti dia jadi raksasa! Kau juga! kenapa mau saja memakan semua lobak itu?? Ayo kembalikan!"
"Aku hanya menjadi relawan hehe.."
Irisan lobak yang sudah siap memasuki mulut Woosung pun akhirnya tidak jadi lepas landas, lobak-lobak itu kembali ke mangkuk asalnya
"Ayo Jihye, makanlah, ini enak."
"Rasanya aneh, Ma.."
Keluh gadis kecil berambut panjang itu sambil mengerikiti dengan malas irisan lobaknya.
"Kalau makannya begitu sampai kau jenggotan juga tidak akan habis. Ayo, kalian harus makan sayur, itu penting untuk pencernaan."
Ji-Ah akhirnya menyuapi kedua anaknya supaya sayuran itu termakan, jika tidak, hanya daging sapinya saja yang habis, para lobak akan tetap mengambang di dalam kuah sup.
"Ayo Yunho, aaaak"
Yunho menutup mulut dengan kedua tangan.
"Lobak mama tidak enak!"
"Baiklah, kalau begitu coba lobak Papa. Yang ini didatangkan khusus dari planet Ultra. Aaaak"
Melihat istrinya sudah mulai lelah, Woosung dengan sigap membantu, menyuapkan lobak dari mangkuknya. Yunho yang tertipu pun membuka mulut. Tapi getirnya rasa lobak langsung membuat kedua alisnya mengkerut.
"Tidak apa-apa, lobak istimewa memang terasa seperti itu. Setelah lobak dalam mangkuk ini habis, kekuatan planet Ultra akan mengubahmu menjadi pahlawan super! Ayo selamatkan dunia, Ultramen!"
Yunho kecil mengangguk dengan tatapan yang serius. Dari balik badan Yunho, Woosung menjulurkan lidah, mengejek istrinya yang gagal membuat Yunho memakan lobak.
"Baiklah Ultrapapa, sekarang giliranmu untuk memakan daun bawang. Jangan selalu menyisakannya di pinggir mangkuk!"
Woosung menggeleng cepat sambil menghindari sumpit Ji-ah yang sudah menjepit sejumput makanan yang tidak disukainya itu. Jihye dan Yunho tertawa, lalu turut menyerang papanya dengan suapan daun bawang. Canda dan tawa mengiringi makan malam keluarga kecil itu seperti malam-malam sebelumnya. Sangat harmonis, rumah tangga yang telah mereka arungi selama 12 tahun ini. Hidup dalam kesederhanaan dan cinta, tidak ada yang mereka pikirkan selain hari esok yang bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years M-Contract
FanfictionKim Jaejoong dan Jung Yunho, 2 orang mahasiswa yang sama-sama miskin, berbagi rumah demi berjuang dalam kesulitan hidup mereka.
