24. Bualan, Obat Patah Hati

746 86 8
                                        

Suatu hari yang panas, ketika Yunho dan Jaejoong sedang mengangin-anginkan badan mereka di ruang tamu, hanya menggunakan boxer, membiarkan udara hangat yang masuk dari balkon mengeringkan keringat yang mengucur di tubuh mereka yang terbuka, Yunho yang sedang bermain handphone sambil tiduran di sofa tiba-tiba bangkit berdiri.

"Ada apa?"
Tanya Jaejoong dari lantai, ikut terkejut.

Yunho hanya menggelengkan kepala, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil sibuk mengetikkan sesuatu di handphonenya. Dari senyum yang lebar itu, sudah pasti Yunho baru saja mendapat kabar yang menggembirakan.

Langsung terdengar suara gebyuran air begitu pintu kamar mandi tertutup. Bukankah 2 jam yang lalu Yunho baru saja mandi? Boros sekali, awas saja kalau tagihan air bulan ini melejit. Daripada sering mendinginkan badan dengan air, lebih baik mengeringkan keringat di tubuh seperti bintang laut. Jaejoong kembali memejamkan mata, melekat di lantai, melanjutkan tidur siangnya.

Selang beberapa menit kemudian Yunho sudah pamit untuk pergi. Cepat sekali keluarnya, Jaejoong bahkan tidak sempat bertanya mau ke mana. Hah, biarlah, padahal tadinya dia mau titip beli es krim kalau Yunho lewat di depan swalayan. Keluar di siang hari yang terik seperti ini hanya akan membuat badan dehidrasi, Jaejoong malas bergerak.
.
.
.
.
Jaejoong sedang memakan sup timun dinginnya ketika Yunho kembali.

"Oh? Sudah pulang? Kukira perginya lama, jadi aku makan duluan. Punyamu ada di panci."


BRUK.


Yunho tidak menjawab, atau mungkin menjawab tapi tidak terdengar, yang Jaejoong dengar hanya suara tubuh besar yang terhenyak di sofa.

"Kenapa Bear? Dehidrasi di jalan? Minum dulu sana."


PLOK.


Lagi-lagi Yunho tidak menjawab, hanya melempar sesuatu ke atas meja. Sambil masih mengunyah, Jaejoong melihat benda itu. Sebuah undangan.


Kepada: Tuan & Nyonya Jung


"Uhuk! Uhuk!"
Jaejoong langsung tersedak.

Tuan dan Nyonya Jung?? Apa itu maksudnya Yunho dan dirinya?? Nyonya Jung?? Yang benar saja!~ Bagaimanapun dia tetap laki-laki, meskipun memang berstatus istri, tapi Jaejoong merasa tidak nyaman disebut Nyonya.. eh? Tapi siapa yang tahu kalau dia adalah istri Yunho?? Hanya Bibi Sun dan--- Jaejoong cepat-cepat membukanya karena penasaran.

'Ah... Pantas saja...'
Jaejoong menatap iba pada Yunho yang masih terkapar di sofa. Dia mengerti sekarang, Yunho bukan lemas dehidrasi, tapi karena patah hati. Jihyun noona akan menikah minggu depan.

"Bear, makan dulu.. Menangis lagi nanti.."

"Brengsek. Aku tidak menangis."

Jaejoong terkekeh dalam hati sambil menangkap bantal yang Yunho lempar. Bahkan sudah begini pun masih belum mengakuinya.

Sudah tidak ada kesempatan.. Yunho menghela napas panjang, lagi.. Meskipun sejak dulu dia tahu kalau kesempatan untuknya bersanding dengan Jihyun noona sangatlah kecil, tapi setidaknya pintu yang kecil itu masih terbuka. Sekarang semua kesempatan benar-benar tertutup rapat.. Jihyun noona akan segera menjadi milik orang lain.. Satu-satunya orang yang dia kagumi sejak kecil, yang selalu ada ketika dia mencari bantuan, tidak akan ada lagi.. Seharusnya dia ikut bahagia, tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan.. Yunho kira pertemuan mereka di kafe tadi akan menjadi penyejuk hatinya, ternyata.. Yunho benar-benar menitikkan 1-2 air mata di balik lengannya.


5 Years M-ContractCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang