Jaejoong pamit keluar sebentar ketika menerima panggilan telepon dari ibunya, membuat Yunho harus menjaga truk eskrim itu sendirian, tapi tidak apa-apa, hanya seorang pembeli Yunho bisa menanganinya sendiri. Mereka sedang kerja sambilan.
Yunho tidak ingin menguping, tapi dia jadi ingin sekali menoleh ke arah Jaejoong ketika tidak sengaja mendengar namanya disebut-sebut di kejauhan. Untung saja Jaejoong segera kembali sebelum rasa penasarannya memuncak.
Setelah tidak ada pembeli, akhirnya Jaejoong bercerita.
"Ibuku ingin kau ikut aku pulang ke Namhae akhir tahun nanti. Tapi aku sudah bilang padanya kalau kau mungkin tidak---"
"Aku ikut."
"---mau... Eh?"
"Aku ikut."
Jaejoong masih terkejut. Seingatnya waktu terakhir kali pulang ke Namhae dulu, Yunho enggan ikut meskipun sudah diajak berkali-kali, malah sampai mengusirnya pergi. Tapi sekarang--- Jaejoong tersenyum geli. Cepat sekali menjawabnya. Jaejoong memutuskan untuk tidak bertanya lagi, Yunho pasti kapok kesepian sendiri di rumah ketika dia pulang kampung dulu.
"Baguslah, ibuku akan senang mendengarnya. Dia sangat ingin bertemu denganmu. Tapi kau tidak keberatan kan menginap di gubug reyot?"
"Selama bisa makan dan tidur."
Jaejoong tersenyum lebar.
"Kita berangkat sebelum Natal."
----------------------------------
"Bear~ kita hanya pergi selama 1 minggu, bukan pindah rumah! Bawa sedikit barang saja! Bawa tas kosong lebih baik! Pulangnya nanti kita pasti dibekali banyak barang!"
"Aku belum pernah berwisata ke tempat yang jauh.."
"Haah ya ampun~ Turunkan semuanya!"
Sebuah ransel, tas jinjing, dan koper yang sudah Yunho tenteng pun akhirnya Jaejoong bongkar lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
6 jam perjalanan dengan bis, belum juga hilang rasa lemas di kakinya, Jaejoong sudah meneriakinya begitu menapak turun di terminal pulau Namhae.
"Bear! Cepat! Cepat!"
Yunho berlari mengejar Jaejoong yang sudah lebih dulu naik ke mobil pickup. Sesaat sebelum mobil itu menambah kecepatan, Yunho melompat.
"Brengsek! Kenapa tidak bilang dulu kalau mau naik mobil ini???" Hampir saja tertinggal, Yunho mengumpat di tengah napasnya yang masih memburu begitu berhasil naik.
"Hehe, maaf, aku tidak mengira mobil paman Ok sudah akan berangkat ketika kita turun dari bis. Paman kami menumpang!" Jaejoong mengetuk kaca belakang mobil. Sudah biasa, pria yang dipanggil paman Ok itu hanya membalas dengan acungan jempol.
Pemandangan mulai terlihat sangat indah ketika memasuki pedesaan. Apalagi dengan langit sore yang cerah. Yunho bergoyang di atas mobil sambil menikmati sejuknya udara.
"Bear, selama di sini, jangan panggil aku Boo."
"Kenapa?"
"Kau ingin masuk kandang sapi?! Bear, Boo, jangan pakai panggilan konyol itu di sini, orang-orang akan curiga. Terutama adik-adikku. Iblis-iblis kecil itu akan dengan senang hati melaporkanku ke ayah~ Pokoknya jangan sampai ada seorangpun di desa ini yang tahu kalau kita punya hubungan khusus, kau tahu, itu--- menikah." Jaejoong membisikkan kata terakhir agar Paman Ok tidak mendengarnya. Mulut tetangga sangat cepat dalam menyebarkan berita.
"Oke. Lalu siapa aku harus memanggilmu? Pipit kecil? Kaki bau? Rambut sapu?"
"Brengsek!"
"Hoi! Jangan bergoyang! Kalian mau kita masuk ke selokan!" Paman Ok meneriaki 2 orang pemuda yang saling menjejakkan kaki di baknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Eh, kita sudah masuk ke desaku. Sebentar lagi sampai."
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years M-Contract
FanfictionKim Jaejoong dan Jung Yunho, 2 orang mahasiswa yang sama-sama miskin, berbagi rumah demi berjuang dalam kesulitan hidup mereka.
