Ini hari liburnya, Yunho bangun pagi, dan membuat sarapan. Sedangkan Jaejoong, tentu saja ini hari liburnya juga, bahkan sudah sejak bulan lalu dia meliburkan diri, ah, lebih tepatnya diliburkan. Seperti melihat guci bergoyang yang bisa jatuh sewaktu-waktu, semua orang di kantor berdebar ketika melihat Jaejoong melintas, mereka akan memberikan tangan mereka terulur diam-diam di balik punggung Jaejoong untuk berjaga-jaga. Bagaimana tidak, Jaejoong berjalan dengan punggung melengkung dan kaki yang sedikit terbuka, bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap kali melangkah, siapapun yang melihat akan tahu jika dia sedang membawa beban berat di depannya. Dan seakan menemukan jarum emas, Junsu mendapat alasan untuk membuat dirinya terbebas dari pengawasan Jaejoong yang semakin hari semakin cerewet padanya. Maternity leave. Yuhuu untuk Junsu, Yuhuu untuk Jaejoong, Oh No untuk Yunho. Bukankah itu berarti sebentar lagi anaknya akan segera lahir?? Siapa yang tidak gugup ketika akan menjadi ayah untuk pertama kalinya??? Tik tak tik tak tik tak, hari kelahiran semakin dekat. Setiap hari menjadi sangat mendebarkan untuk Yunho, apalagi ketika meninggalkan Jaejoong untuk pergi ke kantor. Jadi sejak 3 hari yang lalu, dia pun mengambil cuti untuk menemani Jaejoong di rumah.
"Room service."
Yunho masuk membawa nampan makanan untuk trenggilingnya yang masih meringkuk di tempat tidur.
Jaejoong menyibakkan sebagian selimut dan makan sarapannya dengan lahap. Lalu kembali menaikkan selimutnya lagi sambil menonton tv dari tempatnya berbaring.
"Sayang, kau tidak bosan setiap hari di rumah? Bagaimana kalau sedikit jalan-jalan?" Yunho menawarkan sambil memijat kaki Jaejoong yang bengkak seperti gajah.
"Aku malas bergerak."
"Tapi dokter menyuruhmu banyak berjalan untuk melancarkan peredaran darah."
"Aku berjalan ke kamar mandi."
"Kurasa itu tidak cukup, kamar mandi hanya berjarak 5 meter..."
"Tidak mau ke mana-mana. Syuh, syuh."
Jaejoong menarik lagi kakinya masuk ke dalam selimut.
"Ada pasar malam di lapangan dekat sini nanti malam, mau melihat?"
"Tidak."
"Ada banyak permainan."
"Tidak."
"Ada banyak makanan."
Glup. Jaejoong sedikit melirik. Menggiurkan. Tapi...
"Tidak."
"Tidak jauh."
"Tidak! Tidak! Tidak! Dan tidak!"
"Kenapa?"
"Aku malu oke! Aku seperti pria paruh baya yang perutnya buncit karena segentong bir!"
Yunho tersenyum. Dia tahu itu. Sejak perutnya terlihat membulat di bulan ke-6, Jaejoong malu untuk berjalan di depan umum. Kecuali di dalam kantor saja. Jika di luar, dia akan menarik rapat mantel oversizenya, dan membalikkan badan jika berpapasan dengan orang.
"Orang-orang pasti mengejek jika melihatku berjalan bersamamu. Badanmu bagus... uh.. kapan aku mendapatkan lagi badanku yang dulu.. hiks.. hormon sialan.." Jaejoong mengelap air matanya dengan bantal. Beberapa waktu terakhir ini dia sangat mudah menangis. Dia bahkan akan menangis jika Yunho terlambat pulang 1 menit saja dari waktu yang dijanjikan.
"Bagimana kalau begini?" Tanya Yunho.
Jaejoong mengintip dari balik bantalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years M-Contract
Fiksi PenggemarKim Jaejoong dan Jung Yunho, 2 orang mahasiswa yang sama-sama miskin, berbagi rumah demi berjuang dalam kesulitan hidup mereka.
