Buku pernikahan baru saja keluar, Jaejoong dan Yunho sedang menemui Bibi Sun untuk menyerahkan salinannya.
"Ya ampun, kalian benar-benar menikah ternyata. Kupikir kalian hanya main-main karena tidak kunjung memberikan berkas ini. Aku baru saja mau memasang iklan untuk kamar kalian. Maafkan aku sudah meragukan kalian~"
"Ahahaha~ Tidak apa-apa Bi, kami yang salah karena terlambat dari batas waktu yang Bibi tentukan. Ada keterlambatan dari kantor catatan sipilnya."
Jaejoong hanya bisa tertawa sumbang.
"Tunggu sebentar."
Bibi Sun masuk, kemudian kembali lagi dengan cepat.
"Ini, sedikit bekal untuk kalian. Selamat ya, semoga rumah tangga kalian selalu rukun hingga ajal menjemput."
"Ah! Tidak usah Bi! Kami tidak mengadakan perayaan~"
Jaejoong berusaha mengembalikan angpao yang Bibi Sun selipkan ke tangannya.
"Eeeh jangan begitu, pengantin baru tidak boleh menolak berkat. Siapa yang tahu kesulitan apa yang akan kalian hadapi nanti. Simpanlah."
Jaejoong sudah akan menolak lagi, tapi Yunho menyenggolnya, sehingga Jaejoong akhirnya menerima.
.
.
.
.
.
"Aku merasa tidak enak kepada Bibi Sun.."
Keluh Jaejoong sambil masih menatap amplop angpao itu sesampainya di kamar.
"Tidak apa-apa. Kalau terus ditolak nanti Bibi Sun malah curiga."
"Lalu kita apakan uang ini? Aku tidak mau memakainya."
"Aku juga. Simpan saja. Kita kembalikan ketika sudah tidak menyewa kamar ini lagi. Atau kita kembalikan dalam bentuk lain?"
"Ah! Benar juga! Kita belikan bingkisan saja! Aku baru ingat kalau di desaku ada tradisi memberi hantaran kepada tetangga setelah acara pernikahan. Aku tidak mau menyimpan uang panas terlalu lama. Ayo ke supermarket!"
"Sekarang??"
"Tahun depan."
.
.
.
.
.
Yunho mendorong troli dengan malas di belakang Jaejoong. Baru saja menginjakkan kaki di rumah, sudah diajak keluar lagi untuk belanja, mana jam makan malam juga sudah terlewat.
"Aku lapar..." keluh Yunho.
"Sebentar, uangnya masih sisa."
Jawab Jaejoong sambil memilih-milih barang. Di tangannya sudah siap memegang kalkulator untuk menjumlahkan nominal pembelanjaan seharga angpao dari Bibi Sun.
"Sudah terlalu malam untuk memberikannya sekarang.."
"Tidak apa-apa, akan kuberikan besok, yang penting disiapkan dulu."
"Aku lapar.." keluh Yunho lagi. Dia sudah memberikan iuran makannya kepada Jaejoong, maka dia berhak menuntut.
"Sudah pas. Ayo."
Akhirnya mereka selesai. Yunho keluar dengan menenteng banyak kantong belanja, sementara Jaejoong tidak membawa apapun karena masih sibuk memeriksa struk.
"Tunggu. Ada 2 barang yang harganya tidak sesuai display."
"Bagaimana kau tahu.. Kita sudah di luar.."
"Ingatanku tentang angka bagus tau. Ketika melihat angka aku seperti memotret .cekrek.cekrek. Seperti itu, lalu semuanya tersipan di sini." Jaejoong mengetuk keningnya.
"Hah..Memangnya berapa selisih harganya.."
Yunho bertanya malas.
"1500 won."
"Ah sudah relakan saja. Ayo pulang."
"Eeeh jangan! Aku ke kasir dulu."
.
.
.
.
.
Yunho pun hanya bisa berdiri menunggu di depan pintu swalayan. Setelah beberapa saat, pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Susah selesai? Ayo pulang."
"Pulang ke mana Yun?"
Suara seorang pria menyapa. Yunho terkejut ketika itu ternyata bukan Jaejoong, melainkan orang yang tidak dia harapkan untuk dijumpai.
"......"
Pria itu menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap ke wajah Yunho.
"Kudengar dari Siwon, katanya kau sudah tidak tinggal dengannya lagi? Kau sudah punya rumah sendiri eh?"
"Bukan urusanmu."
"Hehehehe, kau benar, urusanku denganmu adalah hal yang lain." Balas pria itu sambil melempar puntung rokoknya.
"......"
"Belanjaanmu banyak juga. Sepertinya dompetmu semakin tebal?" Pria itu menepuk kantong celana Yunho.
"Aku tidak punya uang."
"Ck. Kreatiflah sedikit, dari dulu jawabanmu selalu sama."
"Aku memang tidak punya."
"Benarkah? Sini, biarkan aku memeriksanya seperti biasa. Kau ingat kan apa yang kulakukan jika---"
"Halooo! Kau pasti teman Yunho. Kenalkan--"
Jaejoong memotong dengan senyum lebarnya sambil mengulurkan tangan. Tapi karena tidak kunjung mendapat balasan, Jaejoong kemudian mengambil sendiri tangan pria itu untuk dia salami. "Aku Kim Jaejoong, senang berkenalan denganmu! Kau...?" Jaejoong menunggu.
Pria itu mengernyit sambil mencoba menarik tangannya, tapi Jaejoong terus menggenggamnya erat. Sampai kemudian pria itu menariknya dengan kasar hingga terlepas.
"Cuih! Kita selesaikan lain kali." Katanya kepada Yunho.
"Hei! Tunggu! Aku belum tau namamu!"
Jaejoong berteriak.
"Ya ampun, cepat sekali perginya~ Sini kubawakan satu."
Gumam Jaejoong sambil mengambil salah satu kantong belanjaan dari tangan Yunho.
Yunho berjalan sedikit lebih lambat. Karena Jaejoong tidak lagi mengatakan apa-apa, jadi dia pun tidak, atau lebih tepatnya Yunho memilih diam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Dia membenci situasi tadi, apalagi sampai dipergoki.. Yunho terus menjaga jarak 1 langkah di belakang Jaejoong.
"Mau makan malam apa? Aku punya telur, tahu, buncis, dan lobak." Pertanyaan Jaejoong tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
Yunho mendongak, sedikit terkejut.
"...Terserah kau saja."
Terjadi keheningan lagi. Tapi kali ini Yunho yang menghalaunya.
"Apa kau masih ingin tahu nama pria tadi?"
"Tidak. Untuk apa berkenalan dengan preman."
Kali ini Yunho lebih terkejut. Jadi Jaejoong tahu.. Yunho kembali diam. Jaejoong pun tidak berusaha bertanya lebih lanjut.
"Shindong."
"Apa?"
"Namanya Shindong. Orang yang membuang ludah di depanmu tadi.."
"Oooh preman itu."
"Dia bukan preman. Kami satu sekolah waktu SMA."
"Tetap saja, di desaku kami menyebut orang seperti itu preman. Gaya dan badannya saja yang besar, tapi nyalinya kecil. Aku yakin dulu dia pasti selalu datang bergerombol setiap kali mengganggumu."
"....."
"Ck. Harusnya kuremat lebih keras lagi tadi tangannya. Jarang ada anak-anak seperti itu di desaku, karena kalau ada, orang tua mereka pasti sudah melemparnya ke kandang sapi! Hahahaha!"
Yunho tersenyum kecil. Jaejoong benar. Kalau diingat-ingat, memang baru kali ini Shindong mendatanginya seorang diri. Sebelum-sebelumnya dia selalu dikeroyok dan berakhir babak belur jika tidak menuruti kemauan mereka. 'Mungkin aku juga harus berlatih meremat tangan.' Batin Yunho sambil membuka-tutup jemarinya.
----------------------------Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
5 Years M-Contract
FanfictionKim Jaejoong dan Jung Yunho, 2 orang mahasiswa yang sama-sama miskin, berbagi rumah demi berjuang dalam kesulitan hidup mereka.
