"Awas gw mo mandi, Jack!"
"Astaga ngapain lo mandi hari libur gini" Jackson melirik tenang sambil bercukur di depan cermin.
"Udah sih langsung tidur aja sana..."
"Ish! Lo aja jorok jarang mandi!" Namjoon melempar kepala sang pemuda dengan segumpal kertas dari meja belajarnya.
"Mandi nih....gw mandi!" Terburu-buru, Jackson meletakkan alat cukurnya dan mengambil handuk.
"Eh! Gw dulu!"
Namjoon berlari mendorong pintu kamar mandinya namun terlambat. Pintu itu terkunci seiring Jackson yang terbahak puas di dalamnya.
Sesaat Namjoon menunduk terpaku, tersenyum mengingat sebuah kenangan bersama seseorang.
"Seokjin apa kabar ya?...." Ia berbalik dan kembali duduk di atas tempat tidurnya.
'Seokjin?'
'Apa kabar?'
'Masih nyimpen nomor ini kan?'
Masih mengulum senyum, Namjoon menatap layar ponsel itu sebentar, menunggu jawaban sebelum meletakkannya kembali ke atas nakas.
"Lagi liburan kali ya?"
Tatapannya beralih pada sudut meja belajar, berdiri dan berjalan pelan mengangkat sebuah bingkai kecil berisi foto mereka berempat saat menikmati libur akhir tahun kemarin.
Kembali senyumnya mengembang.
Namjoon memiringkan kepalanya, jemarinya menyentuh pipi bayi yang selalu membuatnya gemas setiap pemuda itu tersenyum.
"It's been months without You..."
"Kok gw kangen ya..." Ia terkekeh pelan.
DUG
Benturan yang cukup keras itu membuat Namjoon menoleh ke arah suara. Ia melirik jam di dindingnya, hampir tengah malam dan koridor asramanya tak lagi dilalui para penghuni.
Ia beranjak menuju pintu kamarnya, khawatir ada teman asramanya yang terjatuh atau mungkin hanya mabuk.
Diputarnya kenop pintu lalu mengintip.
Kedua matanya membelalak saat daun pintu itu mengayun pelan.
"Gw jatoh...." Pemuda bersurai hitam yang masih bersimpuh di depan pintu mengusap dahi sambil meringis tertawa.
Sesaat kemudian kedua sudut bibirnya melengkung turun.
"Seokjin....." Desah lega meluncur pelan dari bibirnya.
"Gosh.....kamu ngapain tengah malem gini?"
"Hiks...."
"Gw ga tau harus kemana lagi...." Ia mengucek kedua matanya seperti anak kecil.
Namjoon tersenyum gemas.
"Sini...." Kedua tangannya terulur untuk membantunya berdiri.
"Kenapa jatoh segala? Kaya bocah aj....." Senyumnya sontak menghilang.
"Jin!"
"Kamu kenapa?!"
"Ini kenapa Jin?!!" Ia membalik pergelangan tangan sang pemuda bersweater hitam itu. Darah segar kembali mengalir dari lukanya.
"Help....." Seokjin tersenyum dalam isakannya.
"Please Nam......I need help..."
"Jack!"
"Jack open the door please!" Namjoon menggebrak pintu kamar mandinya.
Satu tangan melingkar di tubuh lemah Seokjin dan menggenggam pergelangan tangannya.
Bahu pemuda yang baru saja membuka pintu kamar mandi pun melemas. Kedua bola mata membulat itu terus menatap warna merah yang membasahi sela-sela jemari sang sahabat.
"W-what's going on?......" Ia berucap pelan tanpa ekspresi.
"Gw butuh perban sama cairan antiseptik gw, Jack..."
"Tolong bawa ke tempat tidur gw ya...."
Namjoon yang memapah Seokjin kini membaringkannya dengan hati-hati.
"Tahan ya....ini bakal perih" Ia mengusap kepala Seokjin yang masih terisak lemah.
"Hiks....." Seokjin meringis memejamkan matanya saat kapas berbalur cairan antiseptik itu menyentuh sisi luka terbukanya.
"Sorry....sorry....tahan ya...." Namjoon menggenggam jemari lemas Seokjin sementara tangan satunya lagi masih membersihkan luka.
"Aku ga tau harus kasih kamu dosis segimana..." Ia menggeleng singkat kemudian menyiapkan sebuah suntikan yang telah terisi obat bius.
Namjoon menyuntikkan obat itu di sekitar pergelangan tangannya kemudian menyiapkan jarum dan benang.
"Bilang ya kalo masih kerasa..."
Seokjin hanya mengangguk pasrah dengan air matanya yang terus mengalir. Jackson duduk di samping tempat tidur dan mengusap-usap kepalanya.
"Kim.....fokus..." Jackson berbisik melirik bergantian pada sang pemuda dan jemarinya yang bergetar dengan jarum yang menembus kulit Seokjin.
Namjoon mengerjap kemudian mendorong kacamatanya dan menggeleng singkat.
"Sorry...."
Ia menatap mata sembab Seokjin kemudian tersenyum lembut. "Sakit ga?"
Seokjin menggeleng pelan membalas senyumnya. Menatap sang pemuda yang mulai membalut pergelangan tangan dan menempelkan plester pada buku-buku jarinya.
"Seokjin udah tidur?" Namjoon melepas bekapan telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Udah...." Jackson duduk di sebelahnya.
"Dia nanyain lo sebelum ketiduran"
"Kenapa lo? Tiba-tiba keluar ga balik-balik lagi" Ia menyerahkan sekaleng bir yang telah dibuka.
Tak menjawab, Namjoon meraih kaleng minuman itu lalu meneguknya. Sesaat kemudian matanya melirik Hoseok yang berlari-lari kecil menghampiri mereka dengan raut wajah panik.
"Nam....Seokjin...."
"Udah gw jait lukanya" Pemuda berkacamata itu berusaha tersenyum menatap Hoseok yang masih tersengal.
"Gw mau liat...."
"Lagi tidur, Hob..."
"Nanti aja kalo udah bangun"
"Kasian..." Jackson menarik lengan jaketnya saat Hoseok berjalan cepat menuju kamar mereka.
"Seokjin tidur di kamar kita dulu aja malem ini, Kim..."
"Gw ngungsi lagi ke kamar Hoba..." Ia melirik pada sahabatnya yang terlihat tak menggubris.
"Nam....tolongin dia, please" Hoseok memohon dengan mata memelas menghias raut wajah khawatirnya.
"Ga peduli dia mau ato ngga..."
"Gimanapun juga dia pernah jadi bagian hidup lo, Nam..."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Happy Pill
FanfictionLove makes me wanna be a better person [ Teenage angst, addiction, self harm, harsh words ]
