52. Wish

134 19 2
                                        




"Puas?"

Seokjin beringsut mengusap matanya yang basah dengan lengan sweater yang bertumpu di atas kedua lutut.

"Puas lo sekarang?!" Tinjunya melayang menghantam dinding bilik toilet di sisi tubuhnya.



"Hidup lo ya hidup lo, Jin..."

"Sekarang lo tinggal nikmatin rutinitas lo yang bakal membosankan gara-gara lo ga punya temen lagi"

"Kaya dulu..."

Eungkwang tergelak dengan kedua tangan terlipat di dada.

"Diem.....diem!"

Seokjin berdiri dan mendorong kasar pintu toilet kemudian berjalan cepat melewati beberapa orang yang menatapnya ngeri.

Hampir seluruh pasang mata mengikuti langkahnya sepanjang koridor.

Seokjin terus berjalan tertunduk menggenggam tali tasnya erat.


BRUK

Tubuh kurusnya oleng setelah bertabrakan dengan Hoseok yang berjengit kaget setelah berbelok menuju kelasnya.

"S-sorry...."

"Jin!"

"Lo tinggal dimana sih sekarang?"

"Pulang ke asrama please...." Hoseok menggenggam kedua bahu lebarnya.

Seokjin berusaha tersenyum dan menggeleng. Menepis tangan sang sahabat kemudian berjalan kembali setelah kedua manik hazel berhias lingkaran hitam di bawahnya tak sengaja bertemu dengan kacamata yang menghalangi sepasang mata membulat dengan dahi berkerut.

Ia terpejam singkat lalu berjalan cepat meninggalkan Hoseok, Jackson dan Namjoon yang masih menatapnya.

"He's getting worse, Kim...." Jackson berucap pelan tanpa menoleh.


"His choice...."

"Wha....." Hoseok dan Jackson membulatkan mata mengikuti langkah Namjoon yang berucap datar dan meninggalkan mereka.





Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Seokjin tengah meringkuk di atas tempat tidur. Menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.

Sesaat pintu kamarnya berayun terbuka. Amber masuk lalu melempar sebuah kantung plastik kecil ke atas meja belajarnya.

"What took You so long, damnit!" Seokjin merangkak tergopoh meraih benda itu dengan tangan gemetar.

"I thought You said You quit" Perempuan itu terkekeh pelan.

"I was..." Seokjin menelan pil itu kemudian kembali berbaring memeluk tubuhnya sendiri.



"You need help, Jin..."

"I know I'm the one who put You in this mess..."
"But it's not worth your life"

Tak menjawab, Seokjin memejamkan matanya.


"This is My last week here, Jin...."
"I'm going home with My parents"

"I can't afford this college anymore"

Seokjin berbalik menatap sang perempuan dengan dahi berkerut.

"And what am I suppose to do?!" Ia duduk setelah rasa sakitnya berkurang.



"Get help...."
"Please, Seokjin...."

"I've lost so many friends too, You know?" Amber duduk dan menggenggam tangannya bersebelahan.

"The anger of feeling like You're the cause of them passed away..."
"It'll always haunt You if You let'em....." Ia terkekeh pelan.

"You're the only one who can make them go away...."

Seokjin menelan ludahnya berulang.


"Remember one thing....they choose their way out of this life"

"And what You are doing now, is exactly the same..."



"What makes it different is.....You have somebody to turn to..."

"Someone who makes You feel loved, important and happy..."


"But You pushed Him away..."

Seokjin tertunduk. Air mata yang ditahannya tumpah.



"Promise Me one thing, Seokjin...." Amber menarik kedua tangannya mendekat.

"That we will meet again..."

"Not in this kinda shitty situation" Ia tertawa pelan.


"But in a happier, healthier condition"

Seokjin tertawa kecil ditengah isakannya dan mengangguk-angguk.

"I'm sorry I drug You..." Perempuan itu mengerang dan terkekeh.

.

.

.

"Ga ngaruh, Jin...."
"Lo ga bakal sembuh!"

"Lo liat deh....lo udah bikin Namjoon benci sama lo, Jin!"

"Ngerti ga? Namjoon benci sama lo!"


"Diem!"

"Diem Eungkaaaa!"

PRANGGG

"Lo liat aja!"

"Lo liat kalo gw bisa ngilangin lo dari idup gw"

Seokjin terengah melirik tajam pada sosok tak nyata di hadapannya.
Darah menetes dari buku-buku tangan yang sedetik tadi beradu dengan cermin wastafel.


"Lo jahat, Jin...."
Sebuah suara lirih membuatnya menoleh.

Tatap mata penuh kesedihan itu seolah menusuk-nusuk hati kecilnya.


"Jae...." Kedua bahu lebar itu melemas.

"Ngga..."

"Lo ga nyata......." Seokjin mengerang lemah.


"Please....gw cape..."
"Jangan ganggu gw lagi...."

"Pleaseee....." Ia menutup kedua telinganya, merosot pada dinding di belakangnya dan menangis keras.



"Hiks......" Seokjin mengerjap pelan.

"Kalo gw ga ada....."


"Lo ga bakal ganggu gw lagi kan?"

Telapak tangan gemetar itu perlahan terulur meraih pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar mandinya.

"Lo ga bakal dateng lagi kan Eun, Jae?"


"Kenapa diem?" Potongan kaca itu menempel pada pergelangan tangannya.




"You have somebody to turn to...."

"Kalo kamu kesepian...liat ini..."
"Ini kita..."



"Karena gw suka sama lo, Jin!"





"Hiks....Namjoon...."
"Namjoonie....."


"Maafin aku....."

My Happy PillTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang