"Jin masih belom bisa masuk?"
Jackson duduk bersebelahan dengan Namjoon yang tengah melayangkan tatapannya pada gedung asrama di seberang bangkunya.
Ia menggeleng.
"Gimana keadaannya?"
"Ga berani, Jack...." Namjoon mengusap keningnya lalu menunduk.
"Itu bener-bener bukan Seokjin yang gw kenal...."
"Gw ga berani nanya-nanya lebih lanjut..."
"Jin bukan orang yang kaya gitu ya?" Jackson memutar tubuhnya menghadap sang sahabat.
"Ceritain dong gimana dia yang lo kenal dulu..." Ia tersenyum menatapnya lekat.
"Kim Seokjin....." Jeda sejenak sebelum Namjoon menghela napas dan tersenyum tipis.
"Tampangnya jutek banget dulu mah..." Ia menopang dagu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Tatapannya menerawang.
"Tiap gengnya muncul, anak-anak pasti pada nyingkir..."
"Mereka jarang bikin keributan di sekolah"
"Tapi di luar....mmhhh....jangan tanya" Ia terkekeh pelan.
"Mabok, balap motor, clubbing sampe pagi..."
"He's an athletic hearthrob..." Namjoon tersenyum lebar.
"Jago olahraga....."
"Fisiknya kuat banget...."
"Ga kaya sekarang...." Ia tertunduk menautkan jemarinya di atas lutut.
"Dia juga sering ngisengin gw..."
"Mmm....lebih ke.....ngebully gw sih tepatnya" Ia terbahak renyah.
"Tapi gw kangen sama ide-ide gilanya..."
"Gw........baru sadar kalo gw kesepian tanpa dia, Jack..."
"Gw kangen Seokjin yang dulu..."
"Yang ga kenal takut, yang nyolot kalo dilawan..."
"Gw.........pengen tau apa sih bikin dia berubah kaya gini..."
"Kim....." Jackson mengusap wajahnya kasar.
"Sorry gw keterlaluan ngisengin dia..."
"Kita, Jack.....kita...."
"Bukan cuma lo doang kok..." Namjoon tersenyum menoleh pada sang sahabat.
.
.
.
Denting sendok beradu dengan mangkuk bergema di ruang makan.
Seokjin duduk sendiri dengan semangkuk sup krim ayam hangat yang biasa ia masak sebagai makanan saat suasana hatinya sedang tidak baik. Sup itu pun disendok dan ditiupnya perlahan.
Suara langkah sepatu mendekat terdengar. Seokjin menegakkan kepala dan menoleh ke arah pintu ruang makan. Senyumnya perlahan mengembang.
"Nam......." Sapanya riang.
"Kok makan sendirian?"
"Yang laen masih pada ada kelas ya?" Pemuda berdimple itu mempercepat langkahnya kemudian duduk di samping sang pemuda yang kembali menyuap supnya.
"Iya....masih jam 3 juga sih..."
"Jamnya nanggung.....loh..."
"Lo ngapain disini?!" Ia menoleh dengan bola mata membulat.
Namjoon tertawa melihat raut wajah polos itu kemudian mengusap sisa sup krim yang menempel di dagunya dengan ibu jari.
"Tadinya gw mo ngajak lo keluar"
"Pasti lo belom makan dari kemaren kan?"
"Udah....tadi malem gw nyeduh mi cup kok..." Seokjin mengangguk-angguk masih dengan mata bulatnya.
"Lo bolos ya?"
Seringai lebar menjawab pertanyaannya.
"Lahhh....jangan, Nam..."
"Nanti nilai lo turun lohh..." Tak sadar jemari lentik itu menyisir surai pirang yang jatuh menutup dahinya.
"Eh....sorry...." Seokjin menarik cepat tangannya.
"Ng-ngga kok....lagian sore ini cuma teori doang"
"Gw juga udah ampir apal materi yang bakal dikasi"
"Sombongnyaaaa....." Seokjin tergelak.
Kedua mata mereka bertemu.
Hening.
"M-makan lagi....nanti supnya dingin loh...." Namjoon mengalihkan tatapannya pada mangkuk yang masih terisi penuh.
"Comfort food lo?"
"Iya...hehe...." Seokjin mengaduk-aduk sup yang mulai dingin dan mengental.
"Kok jadi ga napsu gitu sih?"
"Gw temenin makan deh..." Namjoon mengeluarkan bungkusan kecil dari tasnya.
Seokjin menoleh dan terkekeh. "Lo belanja?"
"Tadinya buat nemenin gw belajar ntar malem"
"Gw beli roti-roti sama cup...cake..." Ia melirik hati-hati.
Seokjin mendengus tersenyum. "Brings back memories, huh?..."
"Gw bilang gw kangen dijailin lo...."
"Walopun parah sampe bikin gw teler abis"
"Tapi gw jadi doyan cupcake vanilla gara-gara lo" Didorongnya kue kecil berhias krim putih itu mendekat.
"Ga ada obat tidurnya kok...." Namjoon tersenyum tipis.
Seokjin berdiri dari bangkunya, membawa mangkuk yang masih terisi itu ke dapur dan membuangnya kemudian berjalan cepat menaiki tangga.
"Jin!"
"Mau lo apa sih, Nam?!" Ia berbalik cepat dari anak tangga ketiga.
"Bentar lo baik banget...bentar lagi lo kaya sengaja ngungkit-ngungkit masa lalu gw!"
"Mau lo apa sih sebenernya?!" Teriakan itu menggema di ruang sepi.
Tak menjawab, Namjoon hanya tersenyum menatap sang pemuda dengan napasnya yang memburu.
"Ini Seokjin yang gw kenal...."
"Persetan sama Seokjin yang lo kenal, Nam!"
"Gw ya gw sekarang.....lo ga usah nyari-nyari lagi Seokjin yang jahat, yang sok jago, yang seneng ngebully lo!"
"Lagian lo bego banget sih! Padahal lo bisa nolak apa yang gw kasi kalo tau itu niat jahat gw!"
"Ngapain juga lo harus nurutin semua kemauan gw?!"
"Lo tinggal lapor kepala sekolah kaya Jim......."
Namjoon berdiri kasar dari kursinya.
"Karena gw suka sama lo, Jin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Happy Pill
FanfictionLove makes me wanna be a better person [ Teenage angst, addiction, self harm, harsh words ]
