🔞
"Senyam senyum mulu....bukannya makan..."
"Udah Namjoonieee......" Seokjin mendorong tangan dengan sendok berisi sup ayam itu menjauh.
"Masih pusing?" Namjoon meletakkan mangkuk supnya di atas nakas dan menggantinya dengan segelas air.
Seokjin menggeleng pelan dengan senyum lebar yang tak sedikitpun menghilang dari bibirnya.
Namjoon menghela napas lega, menatap gemas pemuda manis yang tengah meneguk air minumnya hingga separuh.
"Udah ih....jangan diliatin mulu cincinnya" Namjoon terkekeh geli kemudian membereskan bekas makan malam sang kekasih.
"Seneng......" Seokjin membekap wajahnya dibalik selimut.
"Ih...." Pemuda berdimple itu kembali tertawa gemas.
"Mana liat muka senengnya sini..." Ia beranjak naik ke atas selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Ga mauuuu....maluuu..." Seokjin menarik kembali selimut yang disibak oleh pemuda berkacamata di atasnya.
"Makasih ya Namjoonie....." Kedua matanya mengintip dari balik selimut kemudian kembali menghilang.
Tak bersuara, Namjoon menarik selimut itu perlahan. Ditatapnya lekat kedua mata yang melirik polos dengan senyum manis.
Seokjin mengatupkan bibir. Surai pirang yang menutupi separuh kening sang kekasih pun disisir lembut oleh jemari lentiknya.
Sedetik kemudian wajahnya terasa panas.
Pemuda berdimple yang kini mengungkung tubuhnya memiringkan kepala dan tersenyum tipis.
Namjoonnya yang dulu ia kenal sebagai bocah kecil polos sekarang terlihat sangat besar.
Kacamata berbingkai tebal yang membuatnya terlihat seperti kutu buku sekarang malah membuatnya terlihat tampan.
Sangat tampan.
Seokjin membulatkan mata menahan napas saat sang pemuda perlahan mendekat dan mengikis ruang antara mereka.
Bibirnya yang masih terkatup pun bergerak mengikuti ritme pagutan sang kekasih.
Mereka mendengus tertawa pelan saat kacamata Namjoon jatuh mengenai pangkal hidung Seokjin.
"Sorry....." Namjoon melepas kacamatanya, berpindah untuk meletakannya di atas nakas.
"Namjoonie...." Seokjin beringsut duduk bersandar pada bantal kepalanya.
"Kenapa? Sakit?" Dengan cepat Namjoon merendahkan kepalanya, menatap wajah semerah apel itu khawatir.
Pemuda manis itu menggeleng, mengulum bibir bawahnya dan melirik perlahan. "H-have You ever......"
Wajah Namjoon sontak merona. Ia menelan ludahnya lalu menggeleng. "Have You?"
Tersenyum malu, Seokjin pun menggeleng.
"Gapapa kita norak bareng ya...." Namjoon menggaruk tengkuknya.
Keduanya pun tertawa kecil.
Perlahan Seokjin mendekat, mengecup lembut bibir Namjoon yang masih terpaku menatap wajah sayu sang kekasih yang kini tengah berpindah ke atas pangkuannya.
Pagutan dengan tempo lambat itu berganti menjadi lumatan rakus. Desah bergantian meluncur dari sang empunya.
"Nam..."
"Pintunya....." Seokjin melepas pagutan itu terengah.
"Wait...." Namjoon bergegas mengunci pintu kamar Seokjin.
Kembali menelan ludahnya. Kedua bola mata itu membulat ketika ia berbalik.
Seokjin bersimpuh di atas tempat tidurnya. Sweater putih dan kaus pinknya telah berada di lantai.
"Namjoonie?" Seokjin memiringkan kepala menatap wajah Namjoon yang merah padam.
Sekali lagi ia menelan ludah. Menggeleng singkat lalu menghujani bibir juga tubuh porselen itu dengan ciuman laparnya.
"Sakit?" Berbisik lelah, Namjoon terus mengusap punggung dan kepala sang kekasih yang terbaring di atas dada bidangnya.
Seokjin mengangguk pelan.
"Aku terlalu kasar ya?" Kepalanya merendah mengecup kening dan pipinya.
"Gapapa.....aku suka..." Seokjin melirik lalu menyembunyikan wajah meronanya di ceruk leher Namjoon yang terkekeh geli.
"Hey....liat sini...." Namjoon mengangkat dagu pemuda manis itu pelan.
Lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya kemudian mendengus tersenyum.
"Gila....."
"Ga pernah sekalipun aku mimpi bakal milikin kamu..."
"Liat badan indah kamu kaya gini" Jemarinya meluncur perlahan menelusuri seluruh lekuk tubuh Seokjin.
"Getting inside You......" Bisik rendah itu menyusup diantara surai yang menutup telinganya.
"Namjoonieee......" Seokjin menepuk pelan dada sang pemuda kemudian bangun untuk membersihkan diri.
Kedua tangan terlipat di dada tak terbungkus, Namjoon bersandar di dinding kamar mandi.
Mata sayunya memindai tiap jengkal tubuh Seokjin di bawah kucuran air hangat.
Hingga beberapa menit kemudian ia mengambilkan handuk untuk mengeringkan tubuh rampingnya dan kembali ke atas tempat tidur setelah pemuda manis itu selesai berpakaian.
"Sayang....." Namjoon menarik pelan pergelangan tangannya.
"Hmm?"
"Mau janji sesuatu?" Ia melirik hati-hati.
"Apa Namjoonie?" Mata membulat itu menatapnya bingung.
"Berenti?"
Seokjin mendengus tersenyum kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Meraih tas selempangnya lalu merogoh-rogoh mengeluarkan sesuatu.
"Ini?"
Namjoon terpaku menatap benda yang beberapa hari lalu menjadi alasan kemarahannya.
"Sini, Namjoonie...." Seokjin menarik jemari itu mengikutinya ke toilet.
"Udah ga ada lagi ya...."
Butiran-butiran itu hanyut seiring telunjuknya yang menekan tombol penyiram.
Kedua mata Namjoon terpejam singkat. Tubuh ramping dengan senyum lebar itu didekapnya erat.
"Terimakasih, sayang...."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Happy Pill
FanfictionLove makes me wanna be a better person [ Teenage angst, addiction, self harm, harsh words ]
