44. Where Happiness Lives

154 14 0
                                        



"Seokjin keliatannya udah sehat, Kim?"

Jackson melayangkan tatapannya pada aula olahraga tempat sang pemuda bersurai cokelat itu kini tengah melempar bola basketnya ke dalam ring.

Namjoon mendengus tersenyum.
"Dia masih suka mimpi buruk, Jack..."
"Kadang kalo malem dia suka kebangun"

"Tapi di luar semua itu gw juga ngerasa Seokjin udah mulai biasa lagi..."

"Lebih semangat dari biasanya...."

"Lebih mirip Seokjin waktu SMA"



"Aaarrgghhhh!"

Hoseok melompat berdiri dari hingga lututnya menabrak meja tempat mereka bertiga tengah menikmati makan siang.

Sebuah gelak tawa khas terdengar di balik bahunya.

"Jin! Kalo gw jantungan lo tanggung jawab ya!" Ia melempar kecoa karet yang beberapa detik lalu dilempar sang pemuda ke atas piringnya.

Seokjin tertawa puas lalu mengambil nampan berisi piring dengan Burger juga segelas Milkshake strawberry yang ia letakkan di meja belakang mereka sebelum menjahili Hoseok, kemudian duduk berseberangan dengan Jackson yang tersenyum lebar menatapnya.

"Sehat Jin?"

Seokjin mengangguk, kedua tangan menggenggam Burgernya yang telah masuk ke dalam mulut dengan mata membulat.

Lagi-lagi Jackson tersenyum gemas melihatnya makan dengan lahap. "Baguslah...."

"Namjoon masih ada kelas ya?" Seokjin menyeruput minumannya sambil melirik ke sekitar.

"Iya...lagi sibuk-sibuknya dia" Hoseok menyeka bibir dengan tissue setelah selesai makan.

"Dia ngambil beberapa mata kuliah ekstra biar bisa lulus lebih cepet katanya"

"Wow...." Seokjin mengembalikan tatapannya pada sang sahabat.

"Nanti gw bakal ditinggal lo pada duluan dong?"

Jackson dan Hoseok saling bertukar pandang sejenak.

"Gapapa sih....gw juga yang telat masuk" Seokjin terkekeh lalu menghabiskan makan siangnya.


"Hiks....." Rambut yang mulai memanjang itu disisirnya dengan sebelah tangan ke belakang.

Seokjin mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir kemudian keluar dari bilik toilet dan mencuci mukanya di wastafel.

'Namjoonie...'
'Aku pulang duluan ya...'
'Semangat kuliahnya....'

Ia tersenyum kecil, mengantongi ponsel, menyandang tasnya lalu keluar dan berjalan pulang.

'Namjoonie...jangan lupa pake sarung tangannya'
'Di luar ternyata dingin banget...'

Pesan-pesan itu dibiarkan terkirim tanpa balasan. Seokjin tersenyum dan kembali mengantongi ponselnya.




'Sayang...maaf baru bales'
'Kamu udah makan?'
'Aku baru beres nih...aku pulang secepatnya...'

'Sayang udah tidur ya?'


Namjoon berjalan cepat menaiki tangga. Perlahan kenop pintu itu diputar, kamarnya telah gelap. Ia menyipitkan mata menyesuaikan redupnya cahaya.

Seokjinnya tidak ada.

Namjoon menyalakan lampu, pandangannya berkeliling ke sekitar.

"Sayang? Kamu dimana?" Ia melongok ke kamar mandi bahkan kolong tempat tidur dan lemari bajunya.

Tak menemukan Seokjin dimana-mana, Namjoon berlari menuruni tangga menuju dapur. Berharap menemukan sosok itu tengah memasak atau menikmati camilan larut malamnya.

Namun tidak, Seokjinnya tak ada.

Bahkan di kamar Jackson dan Hoseok yang telah tertidur.


Panik, Namjoon terus menghubungi nomor itu hingga tak lagi tersambung.



04:00

Ia melirik jam di ponsel. Duduk bersandar pada bangku mobilnya setelah berkeliling mencari di setiap sudut taman kota.


PING


'Namjoonie....maaf ponselku mati'

"Sayang......kamu dimanaaa?" Desah keras itu meluncur setelah pesannya dibalas.

"Aku udah ngetik pesen bilang mau clubbing tapi ga aku kirim masa" Gelak tawa pun terdengar di ujung sambungan.

"Kamu dimana? Aku jemput sekarang ya...." Memijit pangkal hidungnya, Namjoon menghela napas lega.






"Namjoonieeee...." Pemuda manis itu berlari menghampiri Namjoon yang terburu-buru turun dari sedan hitamnya.

"Sayangggg....kamu bikin aku khawatir tau!" Ia mendekap erat tubuh ramping itu.

"Maaf....maafin aku Namjoonieee...."

"Aku udah ngetik panjang-panjang tapi ga aku kirim...." Ia mengerang manja dalam dekapannya.


"Kamu minum ya?" Namjoon melonggarkan pelukannya, menggenggam kedua bahu pemuda itu dan merendahkan kepalanya.

Seokjin tersenyum lebar dan mengangguk. "Dikit..."


"Yuk pulang...." Menghela napas panjang, Namjoon menarik dan menggandeng tangannya masuk ke dalam mobil.





"Namjoonie....ngantuk ya?"

"Sini gantian nyetirnya...." Seokjin mengerucutkan bibir menghadap sang pemuda yang berkali-kali menguap.

Namjoon mendengus tersenyum lalu menoleh dan menggeleng singkat. "Gapapa....bentar lagi juga sampe"

"Maaf ya Namjoonie...."

"Lain kali aku tulis surat aja deh kalo mau pergi...."

Punggung tangannya mengusap pipi berdimple sang kekasih, menyisir surai pirang di samping telinganya kemudian memijit tengkuknya pelan.

Sang pria memejamkan mata sejenak dan menarik napas panjang. Merasakan lembut jemari lentik yang selalu memberinya rasa tenang dan nyaman.



"Why can't I give You the same thing, Seokjin?"

My Happy PillTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang