chapter twenty-five

3K 225 56
                                        

Seminar hari itu dimulai dari pagi sampai sore

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Seminar hari itu dimulai dari pagi sampai sore. Saat mereka keluar dari auditorium hotel, matahari telah terbenam di ufuk barat sana. Sehingga gedung-gedung disana mulai berlomba menyalakan penerangan mereka, membuat langit gelap itu sedikit lebih bersinar. Jelly menghembuskan nafas panjangnya menatap Edinburgh yang masih sama indahnya dengan beberapa tahun lalu. Pokoknya, kalau nanti uangnya sudah banyak dan dia sudah mendapat jabatan karyawan tetap, ia akan mulai menyisihkan uang untuk kembali ke sini dengan tujuan liburan dan nostalgia. Ia berjanji akan mengelilingi Edinburgh dari sudut ke sudut dengan kakinya sendiri, memotret sana-sini seperti kehidupannya sebagai IISMA Awardee dulu, lalu menyantap stovies hangat dan meminum butter beer berlagak menjadi Hermione Grange. 

Ah, rindunya ia pada masa-masa itu. 

“Kenapa mataharinya cepat banget terbenam?” suara Samuel membuyarkan lamunan indah Jelly. 

“Di Edinburgh kalau musim dingin emang selalu gitu, Kak. Mataharinya cuman bertahan 9 jam doang, habis itu pergi lagi deh. Terbit sekitar jam 7 lebih” jelas Jelly.

“Jadi, mau jalan-jalan kemana kita?” suara Pak Oka membuat Jelly dan Samuel berbalik. 

“Makan dulu bagaimana? Saya lapar” Margo melemparkan pandangan pada masing-masing anak departemennya dan berakhir pada Jelly yang mengangkat alis berusaha menahan tawa. 

“Saya juga, Pak. Lapar banget” 

Jelly pun menjentikkan jarinya, “Kalau begitu saya punya tempat makan yang bagus untuk perut kayak kita” serunya senang. 

“Wah boleh tuh, mumpung Jelly tahu banyak soal Eden, kan” celetuk Pak Oka. 

“Wah, you exactly know how to say Edinburgh in the short way, Pak” balas Jelly girang. 

Pak Oka tersenyum lebar dengan pujian simpel itu, “Oh iya dong, selama di pesawat saya baca buku soal Edinburgh yang saya beli di bandara” akunya. 

“Yasudah, kita ketemu di lobi setengah jam lagi ya, gimana?” sambung Jelly sudah layaknya our guide betulan, padahal kemarin begitu enggan menyandang jobdesk dadakan itu. Tak ada yang membantah, maka semua dianggap setuju. Lantas keempat pasang kaki itu beranjak dari sana mulai berjalan menuju lift yang sama. 

Not chinese again, please”  Jelly tersontak ketika mendapat bisikan dari Margo yang ternyata mengambil posisi paling belakang dan menjadikan itu kesempatan untuk mendekati Jelly. 

Refleks Jelly tergelak lalu menatap sok kecewa pada permintaan Margo, “Why?” bisiknya, “Chinese food is yummy, everyone loves chinese food” ejek Jelly. 

Margo mendengus, “I love you, love. But, can we go to anywhere but chinese restaurant?” 

Tawa Jelly meledak melihat wajah memohon Margo. Dan sepertinya ledakan tawa itu membuat Pak Oka juga Samuel berbalik. Sontak Margo mundur berpura-pura memasang wajah bingung. Untung saja Jelly pintar, jadi ia hanya menjawab “Aku dapat pesan lucu dari temenku, Pak, Kak Sam” 

The Way I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang