Anjelly Stephanie Loman atau biasa dipanggil Jelly. Anjelly atau Jelly, sosok yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, hidup mandiri dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Ditinggal orangtua yang sudah lama berpisah dan tinggal bersama oma opanya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sial.
Harusnya memang semalam ia bersikeras untuk tidak minum obat sebelum bisa bicara dengan Jelly. Lihat sekarang, ia malah ketiduran dan bangun-bangun, matahari sudah mengintip dari tirai kamarnya. Lebih parahnya lagi, matanya tak menemukan Anjelly, melainkan Christ yang berpakaian rapih dengan lanyard yang melingkar di lehernya.
“Kok kamu disini?” bukannya menyapa, Margo langsung melempar pertanyaan itu.
Christ memasang senyum ala robotnya yang telah Margo hapal semenja Pria itu bekerja di perusahaan, “Saya diminta Ibu Mari buat disini sebelum jam kantor mulai, Pak”
“Terus? Jelly mana?” tanya Margo dengan ketus.
Ini beneran sakit apa caper doang sih? Tanya Christ dalam hati.
“Jelly? Saat saya datang, saya tidak lihat Jelly disini, Pak”
Margo mendengus kesal. Ia refleks mengalihkan pandangan ke jendela yang ada di kamarnya. Memperhatikan langit Jakarta yang menerang dengan ranting-ranting pohon yang menutupi setengah pemandangan kamarnya. Apa Jelly kabur? Atau Jelly dicari Haikal? Atau yang semalam Jelly benar-benar datang hanya karena Marisha, bukan karenanya? Margo tak henti-hentinya ber-overthinking. Padahal overthinking-nya itulah yang membuatnya pusing dan sakit begini.
“Kata Ibu Mari sebentar lagi Dokter datang, Pak. Saya buatkan teh ya? Saya sempat diminta beli beberapa kebutuhan Bapak oleh Ibu Mari” Margo tak menanggapi. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya, menduga-duga jawaban terdekat yang mampu memuaskan rasa penasarannya.
“Meeting hari ini, kamu yang hadiri ya. Tuliskan semua hasil meeting, toh meeting-nya bukan saya yang pimpin. Jadi bisa kamu wakili” pinta Margo masih dengan tatapan kosong ke arah jendela. Sama sekali tidak tertarik dengan teh hangat yang baru disuguhi Christ.
“Siap, Pa”
“Notulensinya langsung kirim ke saya. Oh iya, boleh minta tolong?” akhirnya Margo menolehkan kepalanya pada Christ.
“Iya, Pak?”
“Minta tolong ambilkan iPad saya di tas” Sebenarnya Crist enggan, ia takut malah kena omel Diana dan Marisha, tapi karena ia butuh uang maka ia akan tetap melakukan apa yang disuruh Margo.
Seraya Margo—akhirnya—menyeruput teh dan sepotong roti mentega minimarket yang dibeli Christ, dua orang itu bercakap-cakap. Lebih tepatnya, Margo menjelaskan apa saja yang harus Christ lakukan saat ia tak masuk kantor seperti ini. Sampai kegiatan mereka terjeda karena daily check up dari dokter.
Sayangnya, teguran halus dokter tak juga Margo indahkan. Sekeluarnya dokter dan segerombolan perawat, Margo kembali menyuarakan topik pekerjaan. Yang sebenarnya makin membuat Christ geleng-geleng kepala. Bos nya ini sakit kok masih aja sanggup mikir kerjaan, ya?