chapter thirty-nine

3.2K 231 58
                                        




Mereka kembali bersama. 

Bedanya kali ini keduanya lebih terbuka seperti janji Margo kemarin-kemarin. Tak ada lagi drama Jelly menghindari Margo. Mau kabur kemana dia? Margo menempelinya tiap detik kalau mereka sedang bersama. 

Sampai sekarang Jelly belum juga melamar kerja. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak dari segala jenis deadline, chat bisnis, reminder, notulensi, legal opinion, contract drafting, dan banyak lagi yang selama ini selalu ia urus. Untung Margo paham, karena ia pun sependapat. 

Jelly merasa aman-aman saja menikmati masa-masa menganggurnya. Karena Margo kembali menjadi investor hidupnya. Walau Jelly hanya bisa membalasnya dengan pelukan, ciuman, quality time—tanpa suku bunga—setiap Margo mengunjungi indekosnya atau menjemputnya menuju apartemen mewah pria itu. 

Malam ini setelah mereka menikmati makan malam di sebuah restoran ramen otentik yang harganya bikin perut Jelly mules—tapi membuat lidahnya bersorak girang—Margo mengajaknya ke sebuah tempat. 

“Mau kemana sih?” Tanya Jelly ketika tesla Margo memasuki kawasan perumahan elit yang berada di kawasan Jakarta Selatan. 

“Nanti”

“Serius ini, Mas”

“Iya serius, Baby. Nanti saya jelasin kalau udah sampai” 

Tak lama kemudian, tesla Margo berhenti di depan sebuah rumah yang tampak minimalis tapi memberi kesan berkelas. Besar dan luas, dari luar sudah bisa ditebak. 

“Ayo masuk” ajak Margo setelah memberi sapa pada satpam yang kebetulan sedang bertugas menjaga. 

“Ini rumahmu?”

“Rumah saya dan Olivia” 

Langkah Jelly kontan terhenti. Margo yang menarik tangan Jelly pun ikut terjeda langkahnya. Lantas ia berbalik mendapati raut bingung nan kesal bercampur di wajah cantik Pacarnya. 

Baby?”

“Kamu lagi mau ngejek aku kah?” Luka Jelly mengenai fakta Olivia belum sepenuhnya sembuh, makanya ia masih agak sensitif bila nama Perempuan itu disebut. 

Bodoh memang, merasa tersaingi sama orang yang sudah meninggal. Tapi kan, dia bukan Tuhan yang tahu isi hati manusia. 

Jadi tolong, maklumilah perasaan Jelly untuk yang satu ini. Dealing with trust issue tuh gak semudah dikatakan. 

“Gak ada yang ngejek, Sayang”

“Terus?”

“Kamu bilang di rumah sakit dua minggu lalu kalau kamu mau tau soal Olivia. Kamu mau kenalan sama dia, so we should start from here. A place where she lives most often.” Jelas Margo lembut. 

Ia melirik sekilas pada satpam yang tersenyum kikuk pada mereka, lalu kembali mengarahkan matanya pada Jelly, “Tapi kalau kamu gak ready, kita bisa pergi dari sini” 

Jelly meneguk ludahnya. Ia terdiam karena dilema menghasutnya. Walau begitu, setelah mendengar alasan Margo mengajaknya kesini, ia dominan ingin mengiyakan. Tapi ia takut. 

Bagaimana kalau dia malah semakin trust issue? 

Bagaimana kalau setelah ini mereka malah tidak baik-baik saja?

Bagaimana kalau Margo malah semakin meragukan hatinya? 

“Kita pulang aja kalau gitu. Kita cari mak—”

“Tunggu” Jelly kembali menjeda kakinya ketika Margo hendak menariknya kembali keluar pagar, ke mobilnya.

“Gak papa, beneran, sayang. Gak perlu dipaksa. Salah saya karena gak ngomong ke kamu soal rencana ini”

The Way I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang