Anjelly Stephanie Loman atau biasa dipanggil Jelly. Anjelly atau Jelly, sosok yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, hidup mandiri dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Ditinggal orangtua yang sudah lama berpisah dan tinggal bersama oma opanya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Margo seperti kehilangan semangatnya sejak kemarin. Nomornya diblokir. Seluruh media sosialnya pun berakhir sama. Saat sampai di indekos Jelly, ia malah tidak menemukan gadis itu di kamarnya. Penjaga indekosnya pun juga mengatakan bahwa seharian itu Jelly sama sekali tak pulang. Hingga satu-satunya harapan Margo adalah menunggu kemunculan gadis itu di kantor.
Bersikap seperti biasa dan mencoba untuk terlihat profesional, Margo memasuki kawasan departemennya. Matanya mengedar ke sepenjuru ruangan. Sayangnya, ia tak mendapati tanda-tanda kehadiran Jelly disana. Lantas ia bertanya, “Anjelly tidak masuk, Na?” pada Nina.
Nina mendongak, “Tidak, Pak. Tadi pagi sahabatnya datang bawa surat sakit di resepsionis”
Hati Margo mencelus mendengar hal tersebut. Ia tidak tahu dampaknya akan sebesar ini. Disisi lain ia menerka-nerka, apa Jelly benar-benar sakit atau ini salah satu alibi Jelly untuk menghindarinya?
“Oh ya? Sakit apa dia?”
“Sepertinya kecapekan, Pak. Soalnya Dokter minta dia bed rest sampai 3 hari”
Margo sungguh merasa menjadi pria jahat diceritanya sendiri. Rasa bersalah semakin menariknya untuk tenggelam lebih dalam lagi.
“Kenapa ya, Pak?” tanya Nina melihat raut sendu sang Bos Besar yang tumben-tumbennya datang sendiri tanpa asistennya dan langsung bertanya mengenai keberadaan intern yang—ya satu kantor tahu—bagai fotokopian sosok mendiang istrinya, Olivia Margono Permadi.
Pertanyaan Nina membuat lamunan Margo buyar. Pria itu kontan menggeleng, “Nothing, just asking, Na.” Mau tak mau Nina pun hanya bisa mengangguk sambil melihat punggung Bos Besarnya yang kini menjauh memasuki ruangan Bosnya—Pak Oka.
“Mau saya pesankan kopi, Pak?” tawar Christ saat Margo keluar dari ruang meeting. Diam diam merasa iba pada Bos nya.
Tanpa mengangkat pandangannya dari deretan pesannya yang tak berhasil terkirim pada Jelly, Margo menggeleng sebagai bentuk penolakan. Setelah apa yang terjadi kemarin, Jelly yang mendadak memutus kontak secara sepihak, dan surat sakit yang dikirimkan atas nama Jelly, membuat Margo kehilangan semangat juga nafsu makannya.
Ia seperti tak punya alasan untuk menjalani hidup kalau seperti ini.
Untuk kesekian kalinya, pria itu menghela nafas panjangnya. Cukup lelah dengan seluruh kerjaan yang harus ia selesaikan, meeting yang menunggu, dan sekarang semua tentang Jelly membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ingin rasanya ia ikut mengambil cuti barang tiga hari hanya untuk mendapatkan gadis itu kembali. Bila memang belum memungkinkan, setidaknya ia bisa menjelaskan seluruhnya pada Jelly.
“Kebiasaan kamu banget, Love” ia mengusap wajahnya dengan gusar.
“Mutusin semuanya secara sepihak” sambung Margo dengan suara lelah.
“Apa gak bisa dengar penjelasan saya dulu?” monolognya.
Tanpa ada ketukan pintu, Joan masuk dengan dua gelas latte dingin di tangannya. Ia langsung mengambil duduk di kursi seberang meja Margo tanpa pelu menunggu si penghuni ruangan mempersilakan. Ini sudah mau jam pulang, tumben sekali temannya itu masih disini?