chapter fouty-two

3.5K 231 23
                                        

Saat pintu kamar mandi terbuka menampilkan Margo yang kelihatan lebih segar dengan rambut yang basah serta aroma lemon sabur menguar dari tubuhnya, Jelly langsung mengangkat kepalanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Saat pintu kamar mandi terbuka menampilkan Margo yang kelihatan lebih segar dengan rambut yang basah serta aroma lemon sabur menguar dari tubuhnya, Jelly langsung mengangkat kepalanya. Matanya bergerak mengikuti kemanapun sepasang kaki itu melangkah. Dari buffet laci kayu, menggunakan deodorantnya, berpindah ke mini wardrobe closet, muncul dengan celana pendek serta kaus oblong putih tanpa lengan, hingga ke depan meja rias untuk menggunakan pelembab malam yang Jelly beli untuknya. 

Drama kebohongan yang Jelly buat sampai sentuhan-sentuhan kecil yang diberikan Haikal membuat Margo mendiami Jelly sejak di jalan pulang tadi. Margo kesal. Margo marah. Jelly sadar sepenuhnya. Tanpa Jelly bertanya; tatapan, tingkah, serta aura yang menguar dari Margo sudah cukup menjelaskan semuanya. 

Jujur, selama mereka menjalani hubungan, Margo begitu jarang marah. Kalau pun marah, ia tidak pernah sampai membisu seperti ini. Tapi sekarang? dua jam lamanya Margo tak mengajaknya berbicara. Tak pula merespon omongan Jelly. Sehingga cukup menyimpulkan bahwa marahnya Margo sekarang bukan lagi marah dia yang biasanya. 

“Mas . . . Ngomong dong” ucap Jelly dari tepi ranjang ketika Margo mengambil duduk di solo sofa sudut kamar. Mencipta jarak yang agak jauh dari tempat Jelly. 

“Mas . . .” panggil Jelly lagi. 

Margo mendengus. Ia mengangkat pandangannya dari iPadnya, menelisik gerak gerik Jelly yang tampak gelisah. Mata gadis itu tampak takut dibawah kuning temaram lampu kamar malam itu. 

Lantas Margo menghela nafas panjangnya. Menurunkan pundaknya yang mengeras dan kaku karena emosi juga kecemburuan yang bercampur. Semakin ia berusaha untuk melupakan bagaimana Jelly berbohong tadi, semakin teringat-ingat pula itu di kepalanya. Malah makin membakar keemburuannya. Padahal salah satu alasan dia mandi air dingin tengah malam ya demi memadamkan emosinya. 

“Mas Margo . . .” panggilan Jelly menyadarkan Margo dari memorinya. 

“Saya cemburu, Anjelly. Saya cemburuuu” akhirnya Margo mengakui ketidaknyamanannya. 

“Kita udah pernah bicara soal ini” 

“Bicara apanya sih? Gak pernah. Every time I bring up your closeness to Haikal, you always shut me freaking uo. And insist it doesn’t matter for we talk about” 

Because, it literally doesn’t matter” 

Margo menghela nafas panjangnya, “Sorry, but for me. It does matter. Literally” tekan Margo. 

“Mas dia itu cuman teman. Teman aja, gak lebih”

Tangan Margo mengusap wajahnya penuh tekanan. Ia sontak berdiri, mondar mandir di depan Jelly yang masih duduk tenang. Pria itu sedang mencoba mengontrol emosinya, tak ingin meledak di depan pacarnya terlebih pada pacarnya sendiri. 

Tapi kalau dia dibiarkan terus, maka itu akan selalu terjadi. Entah sampai kapan. Dan Margo muak. MUAK SEKALI!

“Mas . . . Udahlah, gak perlu dimasalahin yang kayak gini tuh” 

The Way I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang