chapter thirty-five

3.1K 242 41
                                        

Sejak Jelly mengakhiri hubungan mereka, Margo seperti kehilangan arah di dunia percintaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sejak Jelly mengakhiri hubungan mereka, Margo seperti kehilangan arah di dunia percintaannya. Kepalanya kosong. Tak jarang Christ menemukan bos-nya itu melamun di jam kerja setelah bertemu koleganya. Kopi yang biasanya Christ siapkan pun seringkali tak disentu, dibiarkan mendingin sedingin ruangan itu.

"Tumben kamu main kesini" sahut Diana menghampiri anak bungsunya yang menyendiri di sun lounge tepi kolam dengan e-book yang terpampang di layar iPadnya malam itu.

Margo menghela nafasnya. Benar sekali, alih-aih berdiam dir di apartemennya. Pria itu memutuskan untuk kabur ke rumah orangtuanya. Apartemennya sudah penuh dengan Jelly. Setiap sudutnya mengingatkannya pada sosok Jelly. Terlebih beberapa barang-barang gadis itu masih tergeletak mengisi apartemennya. Memperparah rindu dan ngilu di hatinya.

"Butuh suasana baru" bohong Margo.

"Thank you, Ma" ucap Margo ketika melihat nampan dengan teh hangat serta beberapa soft cookies yang disajikan oleh Diana.

"Kamu kenapa?" tanya Diana tak mengindahkan alasan Margo barusan. Walau sudah dipertengahan 30-an begini, Margo masih sama seperti Margo di masa-masa kuliah dulu. Salah satu kebiasaannya adalah, Si Anak Lupa Pulang ini akan ada di rumah bila sedang banyak pikiran atau sedang ada masalah.

Maka itu, Diana sadar betul, tidak mungkin anaknya disini hanya karena butuh suasana baru. Kalau butuh suasana baru, seharusnya dia berakhir di Bali ataupun di Negeri Orang, bukan di rumah orangtuanya yang sudah ia tinggali hampir setengah hidupnya.

"Jelly, Ma" Margo menyeruput teh hangatnya.

"Jelly kenapa?"

"She is breaking me up" aku Margo. Tidak ada gunanya juga bohong ke Diana, ada Marisha yang akan selalu siap membocorkan berita tersebut.

Diana terdiam sejenak. Kemudian berdecak kesal, "Kamu sih, udah Mama bilangin dari kemarin" gerutu Diana, "Udah gede kok masih main hide and seek gitu" komen Diana lagi.

"Salah kamu ini" ketus Diana lagi.

"Iya salah aku, salah siapa lagi?" Margo melempar punggunnya bersandar pada sun lounge, memejamkan matanya seraya tangannya mengurut pelipisnya. Melihat Jelly menempel dengan Haikal disaat-saat hubungan mereka merenggang seperti ini bagai mimpi buruk untuk Margo. Ia tidak rela Jelly bersama yang lain. Mungkin ia bisa gila karena semua ini. Dan berakhir, ia harus mengeluarkan energi ekstra untuk fokus pada kerjaannya.

"Mama suka loh sama dia, Mar. Dia auranya positif banget, dia suka senyum, mana pintar masak juga. Bisa jadi teman mama buat masak dan belanja itu. Kamu dan Kakakmu kan sibuk kerja semua, mana Marisha udah punya anak juga"

"Ya aku juga suka sama dia, Ma" keluh Margo.

"Suka sama dia apa suka sama Olivia yang ada di wajah dia?"

Margo mengerang kesal, "Ya sama Jelly dong, Ma. Aku ngaku kalau sometimes she reminds me to Oliv, tapi fakta itu tetap gak bisa menyangkal kalau aku suka Jelly ya karena dia Jelly. Bukan karena dia Olivia"

The Way I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang