chapter twenty-eight

2.8K 227 15
                                        

“Bagaimana proyek mandirimu?” tanya Margo menoleh kepada Jelly yang kelihatan asik sendiri dengan satu cup es krim di tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Bagaimana proyek mandirimu?” tanya Margo menoleh kepada Jelly yang kelihatan asik sendiri dengan satu cup es krim di tangannya. 

Hari ini bukan akhir minggu, melainkan baru hari pertama di minggu kedua bulan desember. Sepasang kekasih itu baru saja selesai menonton salah satu film yang sejak dulu ditunggu-tunggu oleh Margo. The night is still young, maka mereka memutuskan untuk makan dan membeli gelato—kesukaan Anjelly. 

Everything is fine” jawab Jelly menyuapkan sesendok gelato matcha nya pada Margo, walau tahu Pria itu tak begitu menyukai matcha. 

“Kamu tahu kan kalau ada yang susah atau kamu butuh bantuan, you can call me” Margo membawa Jelly kedalam rangkulannya. Ia tak pernah merasa cukup berkontak fisik dengan Jelly. Setiap dekat dengan sosok Anjelly, dia selalu igin menggandengnya, menciumnya, memeluknya. Semua ingin ia lakukan. Tapi ia tahu, Jelly terkadang risih bila mereka sedang di tempat publik. 

“Tahu, Mas . . .” 

“Ada yang kamu butuhkan tapi belum kamu dapat?” tanya Margo. 

“Aku butuh draft pernjanjian showroom sama pihak leasing sih, Mas. Tap—“

“Saya minta Christ cari bu—“ 

“Mas! Aku belum selesai ngomong” cegat Jelly, “Tapi aku udah minta ke Pak Oka, Pa Oka bilang nyuruh nunggu sambil dicariin draft nya” jelas Jelly. 

Margo mendengkus saat tawarannya ditolak, “Padahal kalau minta di saya lebih cepat” 

Jelly tertawa, “Jangan ah, gak adil sama intern lain. Lagian aku bisa minta sama Pak Oka, Pak Oka juga responnya baik. Kalau bisa sama Pak Oka kenapa harus sama Bos nya Pak Oka?” perkataan barusan mengundang tawa Margo. Karena gemas, tangannya mengancak-acak pelan rambut Jelly. 

“Sesekali pakai power pacarmu kan gak papa” 

Jelly menggeleng, “Mas tahu kan? Selama aku masih bisa sendiri, I would do it all by my self” 

Baby . . .” 

I know, Mas. Jangan maksaan diri sendiri, jangan terlalu keras ke diri sendiri, gak ada salahnya minta bantuan orang lain.” Jelly melirik pada Margo setelah mengulang kalimat-kalimat yang sering sekali Margo lontarkan padanya. 

“Aku tahu? Oke? Aku udah hafal semua kalimat kamu diluar otak aku” ucap Jelly, “Untuk sekarang, aku lagi gak butuh bantuan kamu. Kalaupun aku butuh, pasti the first one I call is you” tekan Jelly pada kalimat terakhir. 

“Lagian aku juga takut, kalau misalnya kita putus nanti aku malah terkesan kerja kerasku bergantung banget ke kamu dan bikin aku ketergantungan sama kamu. Ntar pas putus juga, taunya aku malah gak puas sama hasilnya, Indirectly aku bisa nyalahin kamu. Those aren’t sound good, right?” 

The Way I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang