Anjelly Stephanie Loman atau biasa dipanggil Jelly. Anjelly atau Jelly, sosok yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, hidup mandiri dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Ditinggal orangtua yang sudah lama berpisah dan tinggal bersama oma opanya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Seoul?”
“Gak, nanti yang ada bukannya honeymoon, kamu malah tinggalin aku pas lihat cowok koreamu itu” tawa Jelly meledak mendengar hal tersebut. Ada-ada saja ternyata pikiran suaminya ini.
“Jepang aja gimana?” Margo mengeluarkan sarannya yang langsung ditolak oleh Jelly tanpa alasan yang valid. Alasannya simpel, gak mau aja.
Diskusi tentang lokasi honeymoon mereka berlangsung alot. Dua orang pintar itu duduk dengan device di tangan mereka. Margo dengan laptopnya sementara Jelly dengan iPad Margo di pangkuannya. Ngapain? Ngapain lagi kalau bukan sibuk melakukan pra-penelitian dulu untuk lokasi honeymoon mereka.
Percayalah, dari sore sampai malam yang mereka lakukan hanya menggulirkan layar, mencoret atau menambahkan poin-poin penting di lokasi pilihan mereka masing-masing, bagai catatan kecil yang dipersiapkan untuk mempresentasikan lokasi yang mereka inginkan ke pasangan. Sudah banyak nama kota yang keluar dari mulut mereka, tapi mereka belum juga menemukan kata sepakat.
“Begini saja, kamu keep satu nama kota yang mau kamu sarankan. Kamu cari prosand cons nya, write it down and explain to me the whys. So do I” saran Margo kala itu.
Jelly langsung mengangguk setuju. Cara yang fair.
Sebenarnya, mereka bisa kemanapun yang mereka mau. Margo bisa mengiyakan permintaan Jelly, tapi dalam waktu cuti dua minggu yang ia ambil, tidak mungkin mereka mengelilingi dunia, iyakan?
Hingga perdebatan panjang itu mencapai ujungnya.
Disinilah mereka, di sebuah negara yang terkenal sebagai Negeri Kincir Angin. Setelah berdebat panjang antara Belanda dan Paris, mereka sepakat untuk menjadikan Belanda sebagai destinasi honeymoon mereka. Belanda adalah opsi yang ditawarkan Jelly, dia berusaha sebisa mungkin agar Margo tertarik akan opsi kota yang ingin ia tuju.
Sebenarnya sih, Margo tertarik-tertarik saja. Dia bisa langsung mengiyakan keinginan Jelly untuk ke Belanda. Hanya saja menurutnya Paris lebih baik. Mereka honeymoon, Paris dikenal sebagai The City of Love. Maka dia ingin menghabiskan cutinya dengan sang Terkasih disana.
Namun melihat Jelly yang menggebu-gebu dengan pilihannya, mencoba meyakinkan Margo, bahkan terus berusaha mencari kejelekan Paris—seperti tak berhenti menyoraki angka pencopetan yang tinggi di kota Paris—membuat Margo tak tega bila harus menolak. Lagipula kalau Jelly kekeuh dengan putusannya, begitupun dengan Margo, tidak akan ada habisnya perdebatan mereka. Dalam sebuah hubungan, harus selalu ada yang mengalah. Dan untuk kali ini, di perdebatan ini, Margo lah yang menjadi orang itu.
Hari pertama mereka habiskan beristirahat—berduaan, bermalas-malasan, bercinta di hotel—setelah jetlag panjang yang menghadang. Terlebih mereka harus beradaptasi dengan jam tidur yang berkebalikan. Untuk sesi bercinta, siapa lagi kalau bukan inisiasi Margo. Pria itu sungguh tak ada lelahnya. Untung Jelly masih muda.