Anjelly Stephanie Loman atau biasa dipanggil Jelly. Anjelly atau Jelly, sosok yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, hidup mandiri dengan hasil kerja kerasnya selama ini. Ditinggal orangtua yang sudah lama berpisah dan tinggal bersama oma opanya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
dalam merayakan ijel jadi BA LOEWE selamat membaca 6.1k words dan mengobati rindu kalian Semoga kita mendapatkan "margo" kita sendiri kelak... HAPPY READINGGG
_______________
Jelly tak pernah menyangka ia akan menyaksikan ini dalam hidupnya. Apa lagi kalau bukan melihat Margo dijadikan kanvas bagi anak mereka untuk bereksperimen menggunakan makeup Jelly. Makeup mahal yang dia sangat sayangi, tapi tidak masalah, suaminya kaya, bisa membelikan lebih lengkap lagi dari yang dia punya sekarang.
Di Sabtu sore sampai Minggu malam, Margo menolak panggilan kantor. Tak menerima satupun urusan pekerjaan juga jadwal meeting. Selama meetingnya bisa dilakukan di hari kerja, maka akan ia usahakan selesai saat itu juga. Tak mau berlarut-larut, tak mau berlama-lama semenjak ia berkeluarga dan memiliki dua putri cantik yang wajahnya perpaduan dirinya dan Jelly. Semenjak suara anak-anaknya menjadi suara yang paling ia tunggu setiap pulang.
“Senang kamu?” tanya Margo melirik pada Jelly yang duduk di sofa sisi kirinya sambil menikmati suap demi suap es krim matcha kesayangannya.
“Biasa aja tuh” celetuk Jelly sok cuek tapi sama sekali tak melepaskan pandangannya dari suami dan dua anaknya yang mengerubungi Margo.
“Hm? Biasa aja? it didn’t seems like th—”
“Daddy, diam” ucap Jennifer—si bungsu yang kini berumur 7 tahun sambil menahan rahang Daddynya agar bisa memakaikan perona pipi pada rahang Margo.
“Tuh, Daddy diam katanya” sahut Jelly yang membuat Margo memutar matanya tapi menahan kedutan senyum di bibir.
“Daddy, don’t roll your eyes. that is rude” tegur Mikhaila—si sulung yang tengah memainkan kuas eyeshadow, mencampur satu warna dengan warna lain sebelum dibubuhkan ke mata Margo.
Jelly terkikik. Senang sekali melihat Margo jadi kelinci percobaan anak-anaknya. Terlebih, dia sabar sekali. Tidak pernah marah. Meski rupanya jadi berantakan, meskin lipstik yang dioleskan anak-anak mereka lewat dari batas bibirnya, meski tampangnya terkadang berakhir mirip badut kuningan, tak pernah sekalipun Margo marah.
Alih-alih marah, Margo malah meminta Jelly untuk memotretnya dengan kamera polaroid yang Jelly beli kala itu. Sehingga anak-anaknya merasa karyanya dihargai dan bentuk rasa sayang Margo pada kedua anaknya.
Anak pertama bernama Mikhaila Aruby Margono Permadi yang biasa dikenal sebagai Mikha, sementara anak kedua mereka bernama Jennifer Listya Margono Permadi. Awalnya mereka berencana ingin punya anak pria juga, tapi Margo memutuskan untuk berhenti saja. Bukannya ia tidak siap menjaga dan membiayai, ia lebih dari siap untuk hal tersebut. Yang membuatnya mundur adalah, ia tidak mampu melihat Jelly meraung kesakitan saat melahirkan. Mau itu pakai proses c-section ataupun normal. Margo tidak tega. Terlalu sayang dia pada istrinya. Jadi lebih baik ia kubur keinginannya dibanding harus melihat istrinya tersakiti.