.
.
.
.
.
Esoknya, Revan bangun sedikit terlambat. Ia berjalan ke kamar mandi dan mulai mandi.
.
Revan sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia membawa tasnya dan turun menggunakan lift. Hari ini, wajahnya sedikit murung, mood nya juga sedang tidak baik karena semalam.
Sampai di ruang makan, ia langsung duduk di kursinya dengan tenang.
Setelah semua berkumpul, sarapan pun dimulai.
.
Setelah sarapan selesai, Revan dan 3 adiknya pamit untuk berangkat ke sekolah.
Mereka menaiki motor masing masing dan mengendarainya dengan kecepatan rata rata.
Di sepanjang perjalanan, Revan sedikit tak fokus. Ia berkali kali sedikit menggeleng dan kembali mengendarai motornya. Semakin lama, ia meningkatkan kecepatan motornya hingga meninggalkan 3 adiknya.
Mereka bertiga yang kebingungan mulai menyusul Revan.
.
Setelah sampai di sekolah, Revan langsung memarkirkan motornya dan berjalan menuju kelasnya tanpa menunggu adiknya.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi. Revan hanya diam dan menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan.
Kali ini, ia merasa beban pikirannya bertambah lebih banyak.
Hingga tak lama, ia merasa kepalanya di tepuk tepuk pelan oleh seseorang.
Revan hanya abai. Ia terlalu malas hanya untuk mengangkat kepala.
"Makan" Ucap Arfan yang menepuk nepuk kepala Revan
"Males" Balas Revan dengan suara teredam
"Ck..gue aduin mama" Ancam Arfan
"Anak mama, gak laki lo" Ucap Revan, masih diposisi sama
"Ck...makan" Ucap Arfan lagi
"Atau gue tarik kaya kemarin?"
Revan berdecak kesal. Kenapa ketenangannya selalu terganggu? Seperti nya semesta tak membiarkannya hidup tenang.
Dengan kesal Revan berdiri dan berjalan begitu saja menuju kantin.
Sedangkan ketiga adiknya hanya menyusul di belakang.
Sampai di kantin, Revan langsung duduk di tempat kosong. Sedikit pojok, agar tak terlalu mencolok.
.
Setelah selesai makan, baru saja Revan berdiri, tapi tiba tiba punggungnya terasa panas.
"Maaf kak.." Ucap seorang gadis sambil mengambil mangkuk bakso panas nya yang tumpah
Sedangkan Arfan, Aron, dan Arza sudah menggeram tertahan karena melihat punggung Revan yang basah karena kuah panas.
Dan Revan sendiri, ia hanya terdiam dengan wajah dingin.
"Liat ke depan, bukan bawah" Ucap Revan dingin, setelah itu pergi begitu saja dari kantin yang tiba tiba sunyi
"Punya mata dipake" Ucap Arza dingin, setelah itu ikut meninggalkan kantin, diikuti Arfan dan Aron
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Boy [END]
FantasiaTentang seorang bernama Revandra Alvaro Bagastra, yang sekarang marga Bagastra itu sudah ia hapus. Pemuda berumur 18 tahun itu memiliki sifat dingin dan datar, serta acuh pada yang menurutnya bukan urusannya. Orang tuanya sudah tidak ada karena kece...
![Transmigrasi Boy [END]](https://img.wattpad.com/cover/357368777-64-k470975.jpg)