Tengah malam yang tak terasa dingin. Ataupun jalanan lengang bersuara bising. Aspal itu mungkin membeku. Bersamaku, berbaring di trotoar bergaris kuning.
Pelajaran hidup apa lagi yang ingin kau berikan? Pada saat perutku telah kering. Pada saat jantungku berdegup kencang. Pada saat tubuh lemah ini bergetar.
Manusia egois dan berkata angkuh. Mencoba bersalaman dengan matahari. Jika esok aku mati. Kurasa jauh lebih baik.
Derita dan bicara. Angkasa dan lamunan. Bintang, yang sinarnya mencoba berbisik. Berkata lembut menyuruhku bertahan.
Malam sangat keras kepala. Sedari tadi meniup angin. Berusaha membuatku menggigil. Tak memberiku ampun walau sedetik.
Adiksi yang kini tak terbeli. Adalah alasanku pernah menari-nari. Terbang begitu tinggi. Sampai langit memusuhi.
Sudah berapa lama waktu terbuang? Menyerah sudah bukan pilihan. Butiran yang terjatuh di tanah. Sebaiknya segera aku telan.
Maka malam itu bisa aku lewati. Lagi dan lagi. Mungkin saja, semua ini. Untuk yang terakhir kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dan Kini.
ŞiirDan Kini, tidak lebih dari sebuah karangan tidak masuk akal. Berupa puisi yang ditulis hati-hati. Keluh kesah dan keresahan yang tidak pernah berhenti, ialah ide utama dari tulisan ini. Kumpulan tulisan ini tidak banyak yang bersuasana riang, cender...
