Ujung kota

5 1 0
                                        

Puan cemburu di batas kota abu-abu. Dadanya terasa panas dan berasap. Asalkan tidak ada lalu lalang kendaraan. Puan pasti sudah menari di jalanan.

Katanya, manusia cenderung dusta. Luar biasa keburukannya. Sesalnya tidak pernah benar. Gesturnya hanya tipuan.

Katanya, percaya justru menyakitkan. Berbohong lebih bisa dimaafkan. Manusia dan rasa malas. Dengki pada pembakaran mayat.

Sungai tidak harus menjadi pelarian. Puan mungkin berpikir sejenak. Dia tidak boleh pasrah pada keadaan. Jika semangat enggan datang dia bisa semakin berang.

Merana di ujung kota. Puan pasrah pada asmara yang berkelana. Pujaan sama sekali menghiraukannya. Entahlah, biarkan puan sendirian.

Dan Kini.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang