Sore ini tepat sebelum maghrib. Tiga Minggu sebelumnya tampak tak ada kendala. Hari ini semua meledak. Dan akulah sumber ledakannya.
Di ruang yang merasa merana itu. Aku dicerca di sana. Semua kesalahan yang tak kusadari selama ini menyerang bertubi-tubi. Sialan sekali sore ini, aku diam namun hancur di dalam.
Pulang yang aku rindukan sudah tidak menjanjikan. Aku ingin sekali berhenti sekarang. Malu dan rasa sesal datang menusukku. Jika digambarkan ini semua adalah kekacauan dalam pikiran.
Rasa benciku beberapa tahun lalu ternyata tidak lebih buruk dari pengalaman sore ini. Ketakutanku selama ini membunuh raja yang berdiri. Tidak melakukan apa-apa dan mencari aman justru menyesatkan. Semuanya adalah kesalahan.
22 akan diingat oleh manusia pendiam itu. Nanti setelah semua berhenti, setelah selesai mentari. Dia bisa berharap diam dan sendiri. Agar bebal tidak menjadi dirinya.
Semua itu harus diterima dengan hati paling lapang. Harus dirawat perlahan-lahan, agar kembali ke muara pikiran. Semoga dia tidak menjadi boneka kemunafikan. Tidak hanya dikendalikan, tidak hanya topeng berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dan Kini.
PoesiaDan Kini, tidak lebih dari sebuah karangan tidak masuk akal. Berupa puisi yang ditulis hati-hati. Keluh kesah dan keresahan yang tidak pernah berhenti, ialah ide utama dari tulisan ini. Kumpulan tulisan ini tidak banyak yang bersuasana riang, cender...
