Liang lahat harus menunggu sejenak. Biarkan aku menggerutu sebentar. Menyalahkan dunia, menyalahkan semesta dan isinya. Protes pada basa basi sementara.
Lihat langit sebelah barat itu. Aku kalah gagah dengan senja yang membiru. Yang tak pernah palsu. Yang juga enggan menipu.
Seharusnya kau membunuhku saja ibu. Sebelum dilahirkan ataupun setelah dilahirkan. Beri tahu aku cara bertahan? Dari semua hal yang memuakkan.
Lapar hanya mengundang harimau buas. Keong mas di sawah juga sedang lapar. Apa yang harus ku keluhkan pada ayah? Kita bahkan tidak pernah berterus terang.
Duduk berdua dalam diam, namun mengerti banyak hal. Saling tatap tanpa bicara. Tanpa bergerak, hanya begitu saja. Mungkin ia tahu semua kerisauanku.
Ketika tiba makan malam, bersama denting sendok dan garpu. Pencuci mulut dari darah saudaraku. Buah apel yang juga merah. Sekarang aku jarang melihatmu marah.
Memangnya ada yang benar di dunia? Kita semua terlalu angkuh, belum tahu saja angkasa juga bisa mendendam. Dendam yang disimpan rapat, tidak teduh pada naungan ruang hampa. Tanpa udara, tanpa suara.
Kehabisan kata-kata, tak perlu mengerti semuanya. Cukup sadari, cukup dibaca dini hari. Sebelum ibadah akhir pekan. Semoga hatiku tidak lagi memilukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dan Kini.
PoesíaDan Kini, tidak lebih dari sebuah karangan tidak masuk akal. Berupa puisi yang ditulis hati-hati. Keluh kesah dan keresahan yang tidak pernah berhenti, ialah ide utama dari tulisan ini. Kumpulan tulisan ini tidak banyak yang bersuasana riang, cender...
