Setelah menyelesaikan pertunjukan terakhirnya dua hari yang lalu, hari ini Tatjana harus menghadiri pesta perpisahannya dengan tim The Wicked yang sudah menemani hari-harinya selama satu tahun terakhir. Ia sangat mencintai teater dan juga perannya sebagai Glinda. Sepertinya, dirinya memang menyukai dunia peran, meskipun ia tidak memiliki ingatan apapun tentangnya.
Ia merasa sedikit senang karena masih memiliki hal-hal kecil yang tidak bisa ia ingat, namun secara alamiah, dirinya lakukan.
Ia mencintai teater, mencintai kedua orang tuanya, meskipun sekali lagi dirinya tidak mengingat apa-apa, kemudian dirinya merasa bisa menyayangi kakak-kakanya dan mengingat mereka semua sebagai orang-orang baik.
"Another shot?" tanya William, yang memerankan Fiyero Tigelaar karena sekarang mereka sedang melakukan perayaan di O'Donoghue’s yang ada di sekitar Times Square.
Pada saat itu, Emmett yang sedari tadi menjaga Tatjana mendapatkan telepon dari seseorang yang mengharuskannya untuk keluar dari bar ini. Sebelum meninggalkan Tatjana, ia membisikkan kata-kata kepada adiknya itu. "Aku akan segera kembali dan jangan minum terlalu banyak."
Tatjana menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan memiliki masalah walaupun Emmett tidak berada di sekitarnya. Ia sudah sering keluar untuk minum dengan mereka semua selama satu tahun terakhir dan berhasil menguasai dirinya sendiri.
"Tatjana?" panggil William karena Tatjana sama sekali tidak memperhatikan mereka semua yang sudah kembali meneguk Tequila. "Kamu dan Emmett.. memiliki hubungan serius?"
"Nope. Aku hanya dekat dengannya," jawab Tatjana sambil menggelengkan kepalanya.
Sekarang ia tahu kalau dirinya tidak boleh lagi meminum apapun karena kepalanya sudah mulai pusing. Ini adalah limit yang bisa diberikan oleh dirinya.
"Bagus. Kalau begitu, kamu bisa minum lagi untuk merayakan hari terakhirmu dengan kami semua?" tanya William.
Tatjana diam. Tubuhnya tidak memiliki toleransi tinggi terhadap alkohol dan sekarang dirinya sudah harus berhenti minum. Namun, ia tidak bisa mengecewakan wajah dari semua orang yang menunggunya. Akhirnya, ia tersenyum dan mengambil gelas kecil tequila dan segera meneguknya.
Semua orang di sana bertepuk tangan dan kembali meminum minuman mereka. Sementara Tatjana hanya tersenyum.
Ia tidak boleh minum lagi.
***
Derish tiba di New York dan tahu ke mana dirinya harus pergi karena ia sudah mendapat informasi lengkap tentang keberadaan Tatjana. Sekarang wanita itu sedang berada di sebuah Bar di sekitar Times Square.
Sejak tiba di sini, ia merasa khawatir karena tahu kalau Tatjana tidak akan bisa bertahan lama jika wanita itu terus saja minum. Sejak dulu, dirinya lah yang membawa wanita itu pulang dari bar.
"Yang Mulia mau ke mana?" tanya Elijah yang bersikeras untuk ikut dan memamerkan visa Amerika miliknya.
"Aku harus menemui Tatjana di sebuah bar, Elijah. Kamu bisa pulang ke apartemenku dan beristirahat," jawab Derish.
Mata Elijah terbelalak karena semuanya terasa seperti deja vu baginya. Bertahun-tahun yang lalu, ia juga seringkali melihat Derish yang pergi ke sebuah bar dengan terburu-buru hanya untuk menjemput Tatjana.
Sepertinya, semuanya sama sekali tidak berubah untuk wanita itu.
Sementara Derish tidak menunggu jawaban apapun dari Elijah dan langsung masuk ke sebuah mobil yang akan mengantarkannya ke bar yang akan ia tuju.
Tidak memerlukan waktu lama bagi Derish untuk tiba di bar itu, karena ia memang sudah berada di sekitar Times Square. Lalu, ia segera turun dan masuk ke dalam bar.
Tidak memerlukan waktu lama pula bagi Derish untuk menemukan wanita yang sangat ia cintai itu. Wanita itu berada di sebuah kursi, juga ada beberapa orang lain di sekitarnya. Tatjana sudah menundukkan kepalanya, tanda kalau ia sudah cukup mabuk untuk mengangkat kepalanya sendiri.
"Kita pulang," kata Derish dengan suara dalam dan mendominasi.
Tatjana menoleh. ada banyak rambut yang menutupi wajahnya yang kemerahan karena alkohol. Beberapa kali ia mengedipkan matanya dan ia tersenyum.
Jantung Derish berdebar ketika dirinya melihat hal itu. Karena, rasanya masih sama. Cintanya masih begitu besar kepada wanita yang ada di hadapannya ini. Senyuman itu selalu bisa menghilangkan kekhawatiran di dalam dirinya. Wajah wanita itu selalu bisa menenangkannya.
"Kamu di sini, di New York?" tanya Tatjana yang mulai melantur. "Kamu ada di mana-mana."
"Ya. Aku akan selalu ada di sekitarmu, Ta," jawab Derish pelan, sudah sangat terbiasa dengan situasi dimana dirinya harus menggendong tubuh Tatjana dan meladeni rancauan wanita itu. "Kita pulang."
Tatjana tidak mengatakan apapun. Ia juga tidak menolak ketika Derish menggendong tubuhnya. Sepertinya, wanita itu sudah sangat mabuk.
Tidak apa-apa, pikir Derish. Ia akan membawa Tatjana ke apartemennya dan ia akan menerima kemarahan wanita itu pada esok paginya.
"Aku akan pindah ke New Zealand," kata Tatjana yang sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Derish. "Dada kamu sangat nyaman, kamu tahu?"
"Kamu akan pindah ke New Zealand?"
Tatjana menganggukkan kepalanya. "Mhm.. Aku mengatakannya supaya kamu tidak mencariku. Hm.. Kamu akan selamanya menjadi pengawal gay-ku kan?"
Ucapan Tatjana yang terakhir membuat Derish menghentikan langkahnya. Apakah.. Apakah Tatjana mengingatnya? Apakah wanita itu akhirnya mengingat sedikit demi sedikit kenangan mereka?
"Ta?" panggil Derish.
Tidak ada jawaban.
"Kamu ingat kalau aku adalah pengawal kamu?" tanya Derish.
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Ia menundukkan kepalanya dan mendapati kalau Tatjana sudah tertidur pulas pada dadanya.
Tidak apa-apa. Tatjana pasti sangat lelah. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya karena ucapan Tatjana tadi. Sepertinya, ia memiliki kesempatan. Kesempatan kalau Tatjana akan mengingat dirinya.
Bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk bersama lagi dengan Tatjana.
***
"Ibu?" panggil Derish ketika ibunya menerima panggilan teleponnya. "Apakah Kulo mengganggu Ibu?"
Di ujung sana, Araya menjawab, "Sama sekali tidak, Yang Mulia. Apa kamu sudah tiba di New York? Apa yang sedang kamu lakukan, Le?"
"Kulo sudah sampai di New York dan baru saja membawa Tatjana pulang ke apartemen Kulo, Ibu. Sepertinya kulo sudah melanggar peraturan istana karena membawa seorang wanita ke apartemen kulo," jawab Derish.
Seharusnya, Derish merasa bersalah karena telah membuat kesalahan secara sadar seperti ini. Namun, nada bicaranya sangat bahagia, seolah dirinya baru saja memenangkan lotre.
"Apa Tatjana mabuk lagi, Le?" tanya Araya dengan senyumannya.
Sama seperti Elijah, Araya juga merasa kalau semua ini seperti terulang. Hal yang sudah bertahun-tahun lalu kini terjadi lagi.
"Dia mabuk, Ibu. Tapi kulo sudah membaringkannya untuk beristirahat. Tapi.. Tadi dia mengatakan kalau kulo adalah pengawal gay-nya. Sepertinya dia mulai mengingat diri kulo, Ibu.."
Senyuman Araya mengembang di ujung sana. Ia juga merasa kalau apa yang dikatakan Tatjana adalah sebuah keajaiban. "Sepertinya langit mulai merubah semuanya, Le. Langit mulai membantumu. Mungkin selama ini kamu hanya sedang diuji.'"
"Tapi, Derish Putraku.. Jangan pernah kamu memaksakan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kamu harus menguasai dirmu dan menunggu hingga Tatjana terjaga esok pagi. Jika Tatjana belum mengingat semuanya dengan utuh, kamu tidak boleh menyerah."
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect Stars
RomanceBuku ketiga dari seri The Perfect Bouquet Disclaimer: Kerajaan, adat dan semua yang ada di dalam cerita ini murni hanyalah imajinasi dari penulis dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. φ Setelah terjaga dari tidur panjangnya, Tatjana sama...
