Tiga bulan kemudian, Tatjana sudah benar-benar bisa menjalankan tugasnya tanpa bantuan siapapun. Setelah Wahyuni mengkhianatinya, ia tidak memilih dayang utama untuknya. Ia melakukan semua tugas sendiri dan mempersiapkan dirinya sendiri.
Awalnya, ia cukup kesulitan ketika harus mengenakan pakaian dan menyanggul rambutnya. Namun, Derish selalu ada untuk membantunya melakukan hal-hal yang tidak bisa ia lakukan sendirian.
Derish akan bangun dan bersiap lebih pagi untuk membantunya dan Tatjana merasa sangat senang akan hal itu.
"Kamu masih bisa melakukan semuanya sendirian? Kita bisa memilih dayang utama untuk membantu kamu," kata Derish yang sedang memegangi perut Tatjana dari belakang, sedikit mengangkat perut wanita itu, membuat Tatjana merasa sedikit lega.
"Aku suka situasi sekarang," jawab Tatjana sambil menoleh untuk mencium bibir Derish. "aku suka kamu yang membantuku."
"Jadi aku adalah dayang utama kamu, hm?" tanya Derish sambil membalas ciuman Tatjana.
Tatjana mengangguk dengan gembira, sementara Derish tertawa. Karena tahu kalau posisi mereka cukup sulit, ia perlahan melepaskan pegangannya pada perut Tatjana dan membalik tubuh wanita itu untuk berhadapan dengannya.
"Aku akan memperlakukan kamu seperti bayi, bukannya kamu tidak suka kalau aku memperlakukan kamu seperti bayi?" tanya Derish lagi, sambil menatap wajah cantik Tatjana.
"Aku sangat menyukainya."
Derish tersenyum lebar. Ia tahu kalau semua ini karena kehamilan Tatjana dan ia berpikir untuk membuat Tatjana kembali mengandung secepatnya untuk bisa melihat sifat Tatjana yang seperti ini. Namun, ia tahu kalau dirinya tidak bisa bersikap egois. Tatjana sudah mengorbankan dirinya untuk kehamilannya, dan ia tidak bisa memaksa wanita yang sangat ia cintai ini.
Ia akan menerima jika Tatjana merasa cukup dengan seorang bayi saja.
Derish menundukkan kepalanya dan di jarak yang sangat dekat seperti sekarang, ia bisa melihat pucuk payudara Tatjana yang terlihat sangat penuh, meskipun Tatjana sudah berusaha untuk memilih kebaya yang sangat sopan.
Ia berjongkok untuk mencium payudara itu, membuat Tatjana sedikit mendesah. Wanita itu langsung mencengkeram lengan kokoh Derish.
"Kita sudah cukup terlambat untuk sarapan," kata Tatjana yang terdengar seperti rengekan di telinga Derish.
"Kita bisa membuat semua orang menunggu," jawab Derish dan ia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Tatjana.
Kemudian, ia kembali bermain-main dengan benda yang sangat ia sukai itu.
"Derish," kata Tatjana. "Aku merasakan kontraksi. Kamu enggak boleh menggoda aku."
Mendengar itu, Derish membenarkan posisi berdirinya dan tersenyum. "Maaf."
Wajah Tatjana berkerut karena kontraksi itu terasa lama dan tidak menyusut rasanya. Ia mencengkeram kedua lengan Derish dan kembali berkata, "sepertinya... Sepertinya ini bukan kontraksi palsu. Aku merasa kontraksi lebih sering dan yang ini—"
Tatjana menahan napasnya karena merasa sangat mulas. Tangannya berpindah dari lengan Derish kepada bagian bawah perutnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Derish khawatir. "Kita akan ke Payon Omah Tabib."
Tatjana hanya mengangguk dan Derish segera menggendong Tatjana. Mereka tidak tahu apakah ini adalah salah satu dari banyaknya kontraksi palsu atau bukan. namun, mereka harus bergegas ke Payon Omah Tabib.
Meskipun mereka memilih untuk tetap melakukan persalinan di dalam kedhaton—sesuai dengan tradisi —namun, Derish memastikan kalau Payon omah Tabib memiliki semua peralatan modern juga dokter yang bisa membantu persalinan Tatjana.
Ia tidak berharap kalau Tatjana akan memerlukan semua peralatan yang ia datangkan itu. Namun, ia hanya memikirkan hal terburuk.
Sementara di gendongan Derish, Tatjana mengatur napasnya. Meskipun sibuk dengan semua tugas kerajaan, ia tetap memastikan kalau dirinya memiliki pengetahuan seputar persiapan persalinan. Ia sudah mempelajari tentang cara bernapas dengan benar. Namun, semua yang ia lakukan tentu tidak akan bisa menghilangkan kekhawatirannya, membuat keringat mulai membasahi dahinya.
Ini adalah pengalaman pertamanya.
"Aku pasti bisa, kan?" tanya Tatjana menatap Derish.
"Tentu saja. Kamu adalah wanita yang kuat dan aku akan berdoa," jawab Derish yang sama sekali tidak terlihat lelah karena menggendong Tatjana.
Ia menolak para abdi dalem yang menawarkan kereta kuda, karena takut Tatjana tidak nyaman dengan guncangan di dalam kereta. Maka, ia memutuskan untuk berjalan dengan cepat supaya Tatjana tidak merasakan guncangan apapun.
"Aku mungkin tidak bisa membawa bayi kita ke rumah sakit dengan mobil yang keren seperti ayah pada umumnya, Ta. Tapi aku akan menggendong kamu dengan selamat," kata Derish lagi.
Di tengah rasa sakit yang hilang timbul, Tatjana tersenyum. "bayi kita akan sangat bangga dengan kamu."
Derish tersenyum dan beberapa saat kemudian, mereka tiba di Payon omah Tabib. Para dokter yang sudah bersiap karena abdi dalem sudah memberitahukan mereka pun segera meminta Derish untuk membsringkan Tatjana di atas ranjang.
"Gusti harus keluar," kata seorang tetua.
"Aku harus bersama dengan istriku," jawab Derish sambil mengerutkan dahinya. "Aku akan menemaninya di sini."
Tetua itu menggelengkan kepalanya. "Seorang raja tidak bisa melihat persalinan, Yang Mulia."
"Yang dikatakan tetua benar, Yang Mulia. Sebagai gantinya, Ibu dan Eyang akan menemani Tatjana. Tidak ada yang lebih baik dari kami berdua, karena kamu sudah pernah merasakan persalinan," kata Araya yang tiba bersama dengan Ningsih.
Derish sangat bimbang. Di satu sisi, ia harusnmendengsrkan ucapan tetua namun di sisi lain, ia tidak ingin meninggalkan Tatjana.
"Kamu bisa pergi, Derish. Sebagai gantinya, kamu harus berdoa," kata Tatjana.
Akhirnya, Derish menyerah dan ia akan menunggu di suatu tempat. Ia akan menunggu kelahiran putranya sambil berdoa. Ia akan berdoa untuk keselamatan bayi dan juga istrinya.
"Berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah meninggalkanku?"
Tatjana menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan pergi dan kamu akan selamanya menjadi dayang utamaku."
Derish tersenyum dan mengecup dahi Tatjana. Di antara semua itu, ia mulai berdoa untuk keselamatan Tatjana dan bayi mereka.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect Stars
RomanceBuku ketiga dari seri The Perfect Bouquet Disclaimer: Kerajaan, adat dan semua yang ada di dalam cerita ini murni hanyalah imajinasi dari penulis dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. φ Setelah terjaga dari tidur panjangnya, Tatjana sama...
