Pagi ini, Tatjana mengajak Emmett untuk berbelanja beberapa keperluan. Ibu dan neneknya mengatakan kalau dirinya belum bisa berbelanja perlengkapan bayi karena usia kandungannya yang masih menginjak enam bulan. Maka, hari ini ia akan berbelanja buah-buahan karena kebetulan persediaan di rumahnya sudah menipis.
Seharusnya, itu adalah tugas asisten rumah tangga. Namun Tatjana menginginkan pekerjaaan yang dilakukan oleh asistennya.
"Aku rasa, terakhir aku berbelanja seperti ini waktu SMA, ketika menemani Mama yang mempersiapkan makan malam ulang tahun kamu," kata Emmett sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali ia berbelanja seperti ini.
"Kamu ketinggalan dari Fred, Jo, Nathan dan Matt, tahu? Mereka selalu berbelanja menemani wanita-wanita yang mereka cintai ketika mereka punya waktu," jawab Tatjana. "kamu harus menemukan wanita yang kamu cintai."
Emmett hanya tertawa dan memberikan sekotak stroberi dari negara Korea Selatan kepada Tatjana. "Aku masih baik-baik saja."
"Kamu masih normal kan, Em?" tanya Tatjana sambil mengerutkan dahinya, merasa takut akan orientasi seksual kakaknya. "Kamu masih tertarik dengan wanita kan?"
Tawa Emmett kembali menggema. "Aku tidak memiliki kelainan, Ruby. Astaga."
"Tapi aku tidak pernah melihat kamu pacaran."
"Kamu cuma tidak melihatnya," balas Emmett dan mendorong troli supaya mereka bisa berjalan ke tempat yang lainnya.
Tatjana mengikuti Emmett berjalan dan mengingat-ingat apakah ia melewatkan sesuatu tentang Emmett dan kisah cintanya. Kemudian, ia menyentuh lengan pria itu untuk menghentikannya. "Kamu.. masih menunggu Pauline yang meninggalkan kamu?"
Wajah Emmett berubah menjadi kaku dan ia berdeham beberapa kali. "Oh apakah ini mangga Thailand? Sepertinya semua mangga sama saja di mataku."
"Emmett," kata Tatjana yang tidak akan berhenti hingga ia mendapatkan jawaban dari kakaknya itu. "Emmett.. Pauline mungkin tidak akan mengingat semuanya—"
"Aku yang akan mengingatnya," jawab Emmett sambil tersenyum. "Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, walaupun dia tidak mengingatku, aku yang akan mengingat dan mengenalinya."
Tatjana menatap Emmett. Namun, Emmett justru menatap ke arah lain dan kembali berkata, "oh. Sepertinya aku pernah melihat wanita itu."
Pandangan Tatjana mengikuti arah pandang Emmett dan ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya. "Wahyuni?"
***
Nataline pulang ke rumah besar keluarganya dan cukup terkejut ketika melihat seorang wanita yang ia ketahui, namun tidak seharusnya berada di sini. Cepat-cepat ia menemui Emmett yang sedang duduk di taman ruang keluarga.
"Mama melihat Wahyuni di sini," kata Nataline ketika ia duduk di kursi yang bersebelahan dengan Emmett. "Kamu yang mengizinkannya untuk masuk ke rumah ini?"
Emmett menatap ke bagian dalam ruang tamu, dimana Tatjana dan Wahyuni yang sedang bercengkrama seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu itu. Ia ingat ketika Wahyuni mengatakan kalau wanita itu Luntang lantung selama dua hari di sekitar rumah mereka ini hanya untuk menunggu Tatjana keluar dari rumah.
"Tatjana sangat bahagia karena kedatangan Wahyuni dan itu pasti akan baik untuk dirinya, Ma."
"Saudara-saudara kamu yang lain pasti tidak akan merasa tenang. Terutama Matthew yang sudah membawa Tatjana keluar dari Balwanadanawa dan melarang siapapun untuk menemuinya di sini," jawab Nataline yang terlihat khawatir.
Bagaimana tidak? Dirinya merasa kalau keberuntungan di keluarganya tidak memiliki akhir ketika mereka mendapatkan berita membahagiakan kalau Tatjana dan bayinya berhasil bertahan di situasi yang sangat buruk kala itu.
Ia sangat mengkhawatirkan Tatjana dan cucunya. Ia juga sangat setuju dengan Matthew, bahwa tidak ada siapapun dari Balwanadanawa yang bisa tinggal bersama dengan Tatjana selama putrinya ini mengandung.
"Matthew sedang di Korea Selatan dan dia tidak akan bisa pulang meskipun dia menginginkannya. Dia terjebak dengan jadwal praktek dan operasi dan hanya bisa memarahiku dari telepon, Ma."
Emmett terlihat sangat yakin dengan keputusannya, membuat Nataline akhirnya bertanya, "kamu yakin tidak akan ada apa-apa, Emmett?"
"Aku akan menjaga Tatjana," jawab Emmett. "Mama tidak perlu khawatir. Sekarang aku sedang menikmati waktu liburku dan tidak akan melepaskan Tatjana dari pandanganku, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkannya. Kebahagiaan Tatjana adalah semuanya untuk kita sekarang kan?"
Sementara di dalam ruang keluarga, Tatjana dan Wahyuni terus saja berbicara dan sangat banyak informasi mengenai Balwanadanawa yang diceritakan oleh Wahyuni. Salah satunya adalah tentang hukuman yang diterima oleh Sekar dan juga Nariah.
"Sepertinya keadaan di Balwanadanawa tidak akan sama seperti sebelumnya, tapi Kulo yakin kalau kedhaton akan lebih baik untuk Gusti Kanjeng Ratu dan juga calon pangeran mahkota."
Tatjana tersenyum dan mengelus perutnya. "Derish sudah mengusahan kedhaton yang aman untuk bayi kami."
"Kulo sangat lega ketika mengetahui kalau calon pangeran mahkota baik-baik saja. Dia pasti adalah pangeran yang sangat kuat," kata Wahyuni lagi dengan senyumannya.
Tatjana yang melihat senyuman Wahyuni pun membalas senyuman itu dan kembali menunduk untuk melihat perutnya. Lalu, ketika Tatjana tidak lagi melihat Wahyuni, wanita itu menghilangkan senyum dari wajahnya dan menggantikannya dengan raut masam karena masih belum bisa menggugurkan bayi itu.
"Kulo yang akan bertanggung jawab atas makanan, Yu," kata Wahyuni sambil menatap Tatjana.
Pada saat itu, Nataline memasuki ruang keluarga dan menjawab, "kamu harus bersantai di sini, Wahyuni. Aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan. Mungkin sekarang adalah waktu berlibur untuk kamu, seperti putraku yang juga sedang berlibur di sini."
Wahyuni menundukkan kepalanya. "Tapi Kulo merasa tidak enak jika tidak melakukan apapun di sini."
Nataline tersenyum. "Aku sangat senang dengan kedatangan kamu. Tapi, aku akan lebih senang jika kamu menikmati waktumu di sini dengan baik."
"Benar, Wahyuni. Kamu adalah tamu kami. Kamu bisa berlibur setelah selalu menemani dan menyediakan keperluan Tatjana selama ini," timpal Emmett.
Mau tak mau, Wahyuni mengiyakan ucapan mereka semua. Namun, di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana demi rencana untuk menjalankan tujuannya.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
The Perfect Stars
RomanceBuku ketiga dari seri The Perfect Bouquet Disclaimer: Kerajaan, adat dan semua yang ada di dalam cerita ini murni hanyalah imajinasi dari penulis dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. φ Setelah terjaga dari tidur panjangnya, Tatjana sama...
