BAB 31

440 39 5
                                        

Derish duduk diam di kursinya, namun pikirannya sangat kacau. Semua pikirannya hanya tertuju pada Tatjana. Ia ingat semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada istrinya, yang sedang mengandung bayinya. Mengapa waktu itu ia marah kepada Tatjana ketika wanita itu mendatanginya di Kedhaton utama, tanpa bertanya alasan Tatjana melakukannya? Mengapa ia mengabaikan istrinya? Mengapa ia mengacuhkan Tatjana yang sangat ingin bicara kepadanya?

Ia adalah pria yang sangat kejam.

Rasa bersalah begitu besar di dalam dirinya. Bukan Tatjana yang salah. Wanita itu selalu saja ingin memberitahunya, tapi ia lah yang mengacuhkan semua itu.

"Derish?"  panggil Araya. Derish tahu kalau ibunya memanggilnya. Namun, ia tidak bisa mengatakan apapun. Pikirannya terlalu penuh sekarang. Lalu, Araya kembali berkata, "Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Le. Semua ini sudah terjadi. Sekarang, Tatjana melakukan hal yang tepat dengan memutuskan untuk ke paling timur Balwanadanawa."

Tatjana mungkin melakukan hal yang tepat, namun itu terasa sangat berat untuknya. Setidaknya, ia harus menunggu selama dua minggu untuk benar-benar bertemu dengan Tatjana. Di sana, siapapun tidak diperrbolehkan membawa peralatan elektronik, sehingga ia tidak akan bisa mengirimkan pesan pada siapapun di sana.

Derish harus tersiksa dengan semua rasa bersalahnya, setidaknya untuk dua minggu ke depan.

"Bu," kata Derish. "Apa tidak ada cara supaya kulo bisa menemui Tatjana?"

"Kamu harus menunggunya kembali, Derish."

"Bagaimana kulo bisa melakukan semua ini kepadanya, Bu? Kulo sudah sangat jahat, hanya memikirkan diri kulo sendiri, tanpa tahu apakah dia tersiksa selama ini ketika bersama dengan kulo," kata Derish sambil menatap ibunya.

Ia menatap matahari yang akan tenggelam di kejauhan. Sinarnya yang berwarna oranye dan tidak begitu menusuk menyetuh permukaan kulitnya. Pemandangan indah seperti ini selalu bisa mengobati rasa lelahnya setelah seharian mengurus wilayah ini. Namun sekarang, semuanya terasa hampa.

Derish ingat tentang hukuman yang ibunya berikan untuknya dan juga Tatjana, bahwa mereka harus berjalan bersama setiap sore, pada setiap harinya. Mereka pasti akan selalu menatap matahari terbenam bersama. Meskipun mereka tidak bicara satu sama lainnya, namun, Derish merasa kalau matahari terbenam yang mereka pandang sangatlah indah.

Lalu sekarang, ketika ia menatapnya tanpa ada Tatjana di sekitarnya, ia baru mengerti kalau keindahan matahari terbenam bukanlah keindahan yang bisa ia nikmati sendiri. Ia melihat indahnya matahari terbenam hanya karena Tatjana ada di sebelahnya.

Ia menatap ke sekitarnya, lalu mendapati Elijah yang berdiri tidak jauh darinya. "Elijah. Panggilkan Raden Ajeng Nariah untuk menemuiku di sini, sekarang juga."

Elijah menganggukkan kepalanya dengan patuh dan segera pergi untuk menemui dayang utama yang mengurus Nariah dan menyampaikan pesan ini. Setelah Elijah benar-benar pergi, Derish kembali menatap ibunya. "Kulo ingin meminta pertolongan Raden Ajeng Nariah untuk menyusul Tatjana, Bu. Kulo akan merasa lebih tenang jika ada orang lain, yang kulo percayai bersama dengannya."

Araya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kamu bisa melakukannya, jika Raden Ajeng Nariah menyetujuinya. Itu adalah pilihan yang baik. Setidaknya, selain Wahyuni, ada orang yang menjaganya."

Derish mengangguk-anggukkan kepalanya, tahu kalau apa yang sedang ia lakukan sekarang adalah yang terbaik untuk Tatjana. Setidaknya, ia bisa mempercayakan Nariah dan meminta Nariah menyampaikan permintaan maafnya kepada Tatjana. Ia tidak bisa menunggu selama dua minggu, karena Tatjana harus tahu kalau pada akhirnya, dirinya sudah tahu semuanya. Istrinya itu pasti akan merasa lebih baik jika tahu kalau dirinya meminta maaf.

Derish bisa membayangkan bagaimana wajah gengsi Tatjana ketika nanti, Nariah menyampaikan permintaan maafnya. Wanita itu pasti merasa senang, namun dia tidak akan menunjukkan wajah senangnya. Pemikiran itu membuat Derish sedikit tersenyum.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Nariah tiba di Payon Omah utama. Wanita itu terlihat tergesa-gesa karena sangat jarang Derish memanggil di waktu seperti ini. "Kang Mas? Apa ada sesuatu yang sangat mendesak?"

"Nariah," panggil Derish dan meminta Nariah untuk duduk di kursi lainnya. Nariah duduk dan menunggu dengan tidak sabar. Lalu, wajah bingungnya kini mulai mengendur ketika Derish mulai menceritakan semuanya.

"Gusti Kanjeng Ratu sedang mengandung?" tanya Nariah dengan wajah yang cukup terkejut. "Dan sedang berada di paling timur Balwanadanawa?"

"Ya," jawab Derish. "Aku ingin kamu membantuku, Nariah. Bisakah kamu menyusul Tatjana ke sana dan menyampaikan permintaan maafku? Aku juga berharap kalau kamu mau tinggal di sana bersamanya, menjaganya untukku."

Dengan cepat dan tanpa pikir panjang, Nariah langsung menganggukkan kepalanya. "Kulo bersedia. Kulo akan pergi menyusul ke sana besok. Kulo akan mempersiapkan semuanya pada malam ini, Kang Mas. Kulo akan menjaganya."

"Kang Mas percaya padamu," jawab Derish.

Araya tersenyum di antara mereka berdua. Di dalam hatinya, ia bersyukur karena ikatan antara Derish dan Nariah terjalin sangat erat. Meskipun mereka bukanlah saudara kandung, namun Nariah selalu bersedia untuk membanru Derish di situasi apapun.

"Ibu berdoa untuk keselamatan kalian semua," kata Araya sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke tempat masing-masing.

***

"Kita akan mempersiapkan semuanya, Gusti Raden Ajeng?" tanya Naya, dayang pribadi Nariah ketika mereka berjalan cepat meninggalkan Payon Omah Utama.

Nariah yang berjalan di sebelah Naya pun menoleh. Lalu ia menganggukkan kepalanya. "Tolong siapkan semua keperluanku, untuk dua minggu. Aku akan menemui seseorang terlebih dahulu. Kamu bisa meninggalkanku di sini, karena aku tidak akan lama."

Naya berhenti ketika Nariah juga berhenti. Ia tidak ingin meninggalkan Nariah di senja hari seperti ini. "Kulo akan ikut bersama Gusti Raden Ajeng."

Sebentar lagi, waktu para wanita tidak diperbolehkan untuk keluar Payon Omah dan ia tidak tahu akan sampai kapan Nariah pergi. Akan tetapi, mau tak mau, ia menuruti keinginan Gusti Raden Ajeng-nya ini karena Nariah memaksa dan meninggalkannya begitu saja.

Sementara Nariah berjalan lebih cepat sambil menatap ke sekitarnya. Tidak ada siapapun di sekitarnya, dan tidak ada orang yang menatapnya dengan kecurigaan. Lalu, ia segera menaiiki tangga untuk menuju ke pintu utama sebuah Payon Omah. Dengan cepat, ia mengetuk pintu. Lalu, ketika pintu terbuka, ia segera masuk.

"Bulik," sapa Nariah ketika menatap wajah Sekar.

"Gusti Raden Ajeng," jawab Sekar sambil menggosok dadanya, terlihat sangat lega. "Apa yang membuatmu menemui Bulik?"

Nariah tersenyum. "Sekarang, Gusti Kanjeng Ratu sedang berada di paling timur Balwanadanawa untuk menyeimbangkan energinya. Dan Bulik tahu? Yang Mulia Raja sendiri, yang meminta kulo untuk menyusul ke sana dan meminta kulo untuk menjaga Gusti Kanjeng Ratu."

Mendengar itu, Sekar benar-benar terlihat bahagia. Akhirnya, kesempatan bagi mereka tiba. "Kita bisa menjalankan rencana kita kalau  begitu. Bulik sudah mendapatkan ramuan yang harus diminum oleh Gusti Kanjeng Ratu dalam waktu satu minggu. Kamu harus meletakkan ramuan itu di makanan dan minuman Gusti Kanjeng Ratu, untuk menggugurkan kandunganya."

"Kulo akan melakukan apa yang Bulik minta," jawab Nariah dengan yakin.

"Pastikan Gusti Kanjeng Ratu memakannya, selama satu Minggu berturut-turut," kata Sekar lagi.

Sekali lagi, Nariah menganggukkan kepalanya, lalu ia mengambil sebuah bungkusan dari kain yang sebelumnya diambil oleh Sekar di salah satu lacinya. "Kalau boleh tahu, dari mana Bulik mendapatkan ramuan ini?"

"Dari ibuku. Walaupun ibuku dikeluarkan dari Balwanadanawa, bukan berarti bulik tidak bisa menemuinya, Nadiah."

Nariah menatap bungkusan itu dan segera menyimpannya ke balik pakaiannya. Setelah itu, ia berjalan keluar. Bagaimanapun, ia harus segera tiba di payon omahnya sebelum waktu keluar habis. Ia harus cepat dan mempersiapkan perjalannya esok hari.

Bersambung

The Perfect Stars Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang