Angin Saat Fajar

415 18 0
                                    

Sinar surya yang membumbung tinggi, menajamkan sorotan teriknya menuju suatu lapangan yang ada di kompleks gedung salah satu kampus di Ibukota. Banyak manusia yang terlihat tak nyaman karena gerah dan keringat yang semakin merongrong akibat pancaran sinar matahari khas musim panas, seakan-akan Sang Mentari sedang dendam hari ini dikarenakan ada seseorang yang lebih bersinar di lapangan tersebut. Wanita dengan paras khas Negara Tengah dan mata rubah, mungkin dia yang membuat mentari dendam karena keindahannya. Bagaimana tidak, senyumnya setara dengan angin yang berhembus langsung dari gunung Mahameru. Ya, wanita itu tersenyum dan terlihat bahagia hari ini.

*Pov Cynthia

Hari ini ospek hari ke-3, suasananya cukup panas dilapangan. Namun, tak ada satupun hal yang mengusikku hari ini, jadi aku menghabiskan istirahat makan siang dengan bercanda tawa bersama teman-teman kelompokku. Sedari pagi tadi, aku tak melihat sosok bernama Simo yang biasanya mengusikku. Bukan aku khawatir atau bahkan rindu padanya, aku hanya penasaran saja kemana perginya Penyair Urakan itu.

"Ehh, Cyn. Ngomong-ngomong kamu tahu ngga sih kalo di penutupan ospek besok kelompok kita mau nampilin Stand Up Comedy" ucap Dina yang membuyarkan lamunanku.

"Sok tau kamu, din. Emangnya kamu yang mau tampil?? " Tanya Rani.

Dina yang mendengar itu pun memasang wajah kesalnya.

Dinarti dan Hasyarani, dua orang tersebut adalah teman yang satu kelompok denganku. Dina ini satu jurusan denganku, sedangkan Rani ia satu jurusan dengan Penyair Urakan, yaitu DKV. Mereka adalah teman yang baik, selama tiga hari ini mereka yang menemaniku saat ospek.

"Sudah-sudah, bukannya nanti sore ya kita putusin buat menampilkan apa? " Jelasku.

"Iya juga ya, Cyn. Kalo kamu pengennya nampilin apa?? " Tanya Dina

"Aku sih terserah temen-temen, aku juga gapunya keterampilan apa-apa" Balasku datar.

Dina dan Rani pun hanya mengangguk pelan. Kemudian datang seorang pria, awalnya aku mengira dia adalah penyair urakan, tapi dugaanku salah. Pria ini adalah ketua kelompokku, ia bernama Damar.

Damar adalah tipe-tipe pria yang ramah, baik, dan patuh dengan lalu lintas hehehe. Sangat bertolak belakang dengan Pendekar Lendir itu, ia menghampiri kami dan berkata,

"Cyn, buat penampilan besok, aku mau nyaranin kamu buat nyanyi diatas panggung. Nanti kalo kamu malu atau takut, aku bisa kok nemenin kamu sambil main gitar" Ucapnya

Akupun kaget dengan penawaran itu. Bukannya kita mau diskusi kelompok ya nanti sore. Kenapa dia malah seperti memutuskannya sendiri

"Hmm, gini deh mar. Nanti sore kan kita ada diskusi kelompok, nah waktu itu aja kita kumpulin ide dari teman-teman semua. Lalu baru deh voting, siapa yang paling disetujui sama teman-teman" Ucapku

"Iya nih, si Damar main nentuin-nentuin aja" Ucap Rani kesal.

"Iya deh, maaf. Kan aku cuma nyaranin aja" Ucap Damar.

Kulihat Rani dan Damar melanjutkan obrolannya, entah obrolan biasa atau berbalas argumen yang tidak jelas. Tapi yang jelas aku menatap seorang wanita yang sungguh indah dimataku. Bukannya aku penyuka sesama jenis atau apa ya, tapi sungguh, wanita ini sangatlah indah. Ya benar, siapa lagi kalo bukan sepupu dari Penyair urakan itu, Shani Indira Natio. Kulihat ia berjalan dengan seorang wanita dan bercengkrama cukup ramah. Mereka berjalan tepat didepanku, aku pun tak tahu dapat keberanian dari mana untuk menyapanya,

"Ci... Ci Shani" Panggilku pelan.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Motif dan Seni dari CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang