Sudah dua minggu Shani berada di Kota Liwet, ia tak kunjung dapat menemui Roso dan keluarganya yang lain. Lebih tepatnya, Roso yang enggan untuk menemuinya. Setidaknya begitulah yang di ucapkan oleh penjaga yang menghalanginya saat gadis itu tiba di Keprabon, kediaman keluarga Roso.
Alasan ia masih singgah di Kota ini adalah intuisi nya yang mengatakan bahwa Simo sebenarnya ada di Kota ini. Maka dari itu ia melakukan pencarian sendiri di Kota ini. Simo sendiri bukanlah pria yang akrab dengan keluarga besarnya di Keprabon, jadi sedikit kemungkinan ia bertinggal disana. Bocah bajingan tak tau aturan macam Simo itu, tak mungkin jika hidup dilingkungan yang patuh penuh unggah-ungguh seperti itu.
Ingin Shani mengunjungi tempat tinggal Simo dengan Bundanya dahulu di daerah utara, hanya saja rumah tersebut sudah dijual sejak lama. Jadi Shani memutuskan untuk kembali mengunjungi Makam dari Bajradewi, Bundanya Simo.
Dengan bunga kenanga dan dupa di tangannya, shani pun melangkah ke sebuah pemakaman umum yang cenderung sepi itu..
Di depan sebuah batu Nisan, Shani pun meletakkan bunga dan bersimpuh disamping makam tersebut,
"Ngaturaken Sungkem marang Bunda Dyah Bajradewi, mugi diparingi panggon kang becik dening Sang Hyang Gusti Tunggal.. "
Shani pun meletakkan tiga buah dupa dan membakarnya.
Beberapa saat berlalu, kini Shani beranjak dari pemakaman tersebut, ia berniat pulang ke Ibukota malam ini. Mengingat, sudah dua minggu ia tak mendapatkan apa-apa di Kota Liwet.
Namun baru saja melangkahkan kaki dari pemakaman, ia dihadang oleh seorang pria dengan pakaian surjan yang khas. Shani sedikit terkejut, apa yang ia perbuat di makam Bunda, sampai-sampai juru kunci makam menghadangnya.
"Wonten nopo nggih, Ki?? (Ada apa ya, ki) " Tanya Shani pelan sembari menundukkan wajahnya.
Sang pria hanya mengernyitkan dahinya,
"Hmm. Ora ono.. Tapi aku weruh koe saben Legi moro rene. Koe sapa ne Bajra?? (Bukan apa-apa. Tapi aku tahu kamu kesini setiap Legi. Kamu siapanya bajra??) " Tanya pria tersebut.
Shani pun mengangkat wajahnya, untuk menatap wajah pria itu. Shani sedikit terkejut, bahwa pria itu mengawasinya setiap kali ke makam.
Pria yang ditatap Shani pun tak kalah terkejut. Pria itu baru menyadari sesuatu setelah melihat paras Shani secara jelas.
"Ohh. Simo. Koe madosi bocah kuwi to?? (Kamu nyari anak itu kan?) " Tanya sang pria.
Shani terkejut bukan main, tapi ia berusaha menutupi ekspresinya,
"Aku bisa membawamu ke dia. Tapi, mungkin Sasikiranawati ndak mau ya buat kesana??? " Lanjut pria tersebut.
Shani semakin terkejut dengan ucapan pria dihadapannya. Ia mengepalkan erat tangannya,
"Aku gatau samean ngomong apa, Ki" Ucap Shani yang merasa tak nyaman.
"Nek koe ora ngerti, ben Sasikirana seng wara (kalo kamu ga ngerti, biar sasikirana yang bicara) " Ucap pria itu tegas.
Wajah Shani pun menjadi datar, sorot matanya menjadi tajam ke arah pria itu.
"Jagadsirna... Ana urusan apa Sira karo Ulun??? " Ucap Shani geram..
"Lho-lho-lhooo.. Kenapa koe bisa angslup sembarangan ke bocah ini??"
Shani—yang kini dirasuki oleh Sasikiranawati, mendekat ke arah pria itu.
"Sira ra nimbali pitakonane Ulun (kamu tak menjawab pertanyaanku) "
Pria itu hanya tertawa kencang,
"Hahahah, Bukannya koe yang lupa sama siapa koe bicara!!?? " Ucap sang pria itu tegas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Motif dan Seni dari Cinta
ActionMerupakan kisah pemuda pemudi bernafaskan romantis dewasa dengan canda tawa, sedikit duka. Mengambil beberapa nama karakter dari member JKT48 tanpa memberikan label "Idol" dalam diri mereka. Sehingga memungkinkan untuk dinikmati baik oleh para Fans...