Hari-hari Membosankan

149 16 4
                                    

Ibukota negara tercinta dan hiruk pikuknya di tiap-tiap waktu, seakan tak kenal lelah dan letih untuk beristirahat. Pagi hari, asap-asap karbon sudah semangat untuk memenuhi jumantara, dilanjut saat Siang hari, terik dan kabut polusi berlomba-lomba untuk menyusup ke dalam relung-relung kehidupan perkotaan, dan di malam hari, tugas dari rembulan dan bintang pun diembat secara paksa oleh lentera-lentera yang ada di tiap-tiap rumah.

Sebagaimana pada malam ini, suasana masih sangatlah ramai. Di jalan utama, gedung-gedung megah, bahkan taman-taman kota. Berbanding terbalik dengan suasana yang ada di rumah hunian para mahasiswa, yaitu Jangkar Selatan.

Suasana kos tersebut terbilang sepi bagai terkucilkan dari keramaian Ibukota. Hanya ada dua wanita yang terlihat di teras kos tersebut. Shani Indira yang sedang fokus pada laptop dengan tumpukan-tumpukan kertas di sampingnya, dan juga Shania Gracia yang sibuk memandangi bulan yang redup karena kalah dengan pencahayaan Kota.

"Ge... Geee... Gracia!! " Panggilan dari shani pun tak digubris oleh sang pemilik nama, gracia masih saja menatap langit yang gelap itu.

"SHANIA GRACIA!! " Teriak Shani tepat di telinga gadis pelamun itu.

Sang pemilik nama jelas terkejut dengan hal itu, ia pun menatap Shani dengan kesal.

"Apasih, shan. Gausah pake teriak kali" Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Shani pun hanya menarik nafas,

"Gee, besok jadi kan dateng ke SemHasku?? " Tanya Shani.

Gracia pun hanya mengendikkan bahunya pelan,

Shani pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,

"Koe ini kenapa sih, ge?? Akhir-akhir ini sering banget ngelamun"

Gracia menatap Shani dengan sayu,

"Kamu itu yang kenapa, Shan. Adikmu hilang kok bisa-bisanya kamu tenang seperti ini. " Batin Gracia.

"Simoo, shan. Dimana dia??? " Tanya Gracia lemas.

Shani pun menghela nafasnya,

"Aku juga gatau, ge. Yang jelas, kita harus fokus sama diri kita dulu, ge. Jangan kebanyakan mikirin dia, kegeeran nanti si penyair itu kalo dia tahu kamu mikirin dia terus. " Ucap Shani.

Gracia pun hanya diam dan menatap sendu shani,

"Kamu lagi UAS kan?? Gimana?? "

Gracia menggeleng pelan,

Shani pun hanya menghela nafasnya,

"Kalo Semhas PKL?? "

Lagi-lagi Gracia hanya menggelengkan kepalanya,

Tampak raut kecewa di wajah indah milik shani,

"Kamu tau sendiri, shan. Aku gabisa fokus kalo ada pikiran. " Ucap Gracia.

"Teruss. Kalo gini??? Ngulang lagi???! " Tanya Shani meninggikan nadanya.

Gracia pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis,

"Yaampun, ge. Aku gatau kamu kena pelet jenis apa, rasanya aku sudah berkali-kali bilang kalo kuliah itu jangan ditunda-tunda lagi. "

"Maaf" Ucap gracia pelan.

Shani pun hanya diam, enggan untuk menanggapi gracia lebih lanjut dan kembali fokus ke laptopnya

"Aku harus gimana, shan?? "

Shani pun menatap Gracia,

"Ya jalani hidupmu, ge. Kalo Semhas PKL bisa kekejar ya kejar, kalo ada matkul yang masih bisa buat ikut UAS ya dijalanin. Jangan mengejar apa yang gak bisa dikejar. " Tutur Shani.

Motif dan Seni dari CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang