Lawatan dari Liwet

205 20 4
                                    

Petang mulai menjelang, cahaya nya menyilaukan seluruh penjuru Ibukota, begitu juga dengan dua pria bersaudara yang umurnya juga mulai senja itu.

Kedua pria itu memiliki ciri khasnya masing-masing, selain pakaian beskapnya yang khas, namun terlihat aneh di hingar bingar Ibukota ini.

Sang kakak bernama ParanaRasa, berjalan dengan mengenakan tongkat yang digunakan untuk menggantikan kakinya yang memang tak berfungsi entah karena apa. Sedangkan sang adik, ParanaSukma memelihara jenggot yang teramat panjang, yakni hampir melebihi ulu hati miliknya sendiri. Berbeda dengan rambutnya yang mulai memutih, warna jenggotnya sendiri masihlah hitam legam, mungkin karena teratur disemir layaknya sepatu kulit.

Mereka berdua kini berjalan menuju sebuah kantor kepolisian yang cukup besar di Ibukota, tujuan nya ialah menjenguk keponakan tercinta yang sudah dari semalam mendekam disana.

"Kang, kalo misal Si Simo udah di pindah ke nusakambangan piye?? " Tanya Sukmo

"Cangkemmu. Koe pikir ponakanmu itu Pramoedya?? " Jawab Roso kesal karena pertanyaan tak masuk akal dari sang adik.

"Heheh, intermezzo kang. Samean dak lihat dari tadi tegang terus. "

"Haissh. Masalahnya ini bukan jaman kita dulu, mo. Kita ndak tau apakah yang kita bawa ini masih bisa nebus Simo apa ndak. "

"Hahaha. Kan aku wis bilang kang. Samean tadi di rumah yang ngeyel kan?? "

"Ya semoga aja bisa. Setidaknya, jika mereka tidak kenal dengan pemilik koin ini, harusnya mereka masih menilai bahwa ini adalah emas murni yang mahal harganya" Ucap Roso sambil memainkan sebuah koin emas.

"Mugi-mugi yo kang" Ucap sang adik.

Sementara itu, di Kos Jangkar selatan, tepatnya di lantai dua kamar milik Gracia, terlihat bahwa Sang Pemilik kamar baru saja terbangun dari pingsannya yang sudah lebih dari 24 jam. Ia merasakan badannya pegal dan kaku. Sang gadis pun berusaha bangun dari tidurnya, dengan sempoyongan, sang gadis pun bergerak menuju lemarinya untuk bersiap mandi sore. Dan saat itu pula, ia baru tersadar akan beberapa perban yang tersebar di tubuhnya, mulai dari lengan, perut, paha, dan juga betis miliknya.

Gracia pun mengurungkan niatnya untuk mandi, ia keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai satu untuk mengambil minuman di lemari es.

Sesampainya di lantai satu, Gracia pun semakin bingung dengan kondisi kos yang sangatlah sepi seperti tak berpenghuni. Hingga tak lama kemudian, muncullah Shani bersama dengan Gita dari kamar milik gita.

"Ehh, Ge. Udah bangun?? " Tanya shani

"Apa sih, shan. Aku kan baru tidur jam 12 tadi, sekarang juga baru jam dua" Ucap Gracia sedikit kesal, dikarenakan nyawa nya yang belum terkumpul sempurna.

"Gre, kamu bener tidur jam 12, tapi itu kemarin. Bukan hari ini" Ucap Gita.

"Haaaahhh!! Yang bener kamu git?? "

Gita dan Shani pun hanya mengangguk pelan,

"Kemarin Simo yang bawa kamu ke kamar, terus masang perban itu juga. " Ucap Shani.

"Terus dimana sekarang dia?? " Tanya Gracia

Gita dan shani pun saling berpandangan,

"Dimana Shan?? Dia gak kenapa-napa kan?! " Desak Gracia.

"Dia lagi di tahan polisi" Ucap Shani pelan.

Gracia pun terduduk lemas,

"Siapa yang lapor, shan?? Kampus?? "

Shani menggeleng.

"Kita belum tau, ge. Tapi kemungkinan... "

"Orang tua Mbakyu yang lapor" Ucap Seruni yang tiba-tiba datang dari pintu depan.

Motif dan Seni dari CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang