Malam hari tiba, Luna mendengar langkah kaki mendekatinya. Dia merasakan ketegangan memenuhi ruangan saat langkah tersebut semakin dekat. Luna merinding saat menyadari bahwa langkah itu bukan milik penjaga yang biasa, melainkan milik Lana. Hatinya berdebar kencang karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lana, membawa tongkat baseballnya, mendekati Luna, menarik dagunya dengan tatapan penuh benci.
"Aku akan membunuhmu sekarang juga," kata Lana dengan nada bergetar karena kemarahannya.
Luna melihat tongkat yang dibawa Lana dan merasa bahwa dia akan dilukai dengannya.
Luna mencoba menunda serangan Lana. "Kenapa kamu membenciku?" tanya Luna, berusaha mengalihkan perhatian.
"Kenapa? Kamu tanya mengapa? Gara-gara kamu, orang tua kita terbunuh," jawab Lana dengan marah.
"Tapi itu kan diluar kuasa kita, Lana," bantah Luna, sambil berusaha melemahkan ikatan di tangannya.
"Tetap saja itu salahmu. Kalau kita tidak merayakan kemenanganmu di villa, kita tidak akan diserang oleh pembunuh bayaran itu." Kata Lana dengan marah.
"Kamu tahu, Luna, dan berkat kamu juga aku diperkosa oleh para pembunuh bayaran itu," keluh Lana.
"Tapi kamu yang duluan meninggalkan aku dari persembunyian itu, Lana. Jika kamu tidak pergi, mungkin ini tidak akan terjadi," tolak Luna.
Lana memandang Luna dengan tatapan tajam. "Diam kamu, kamu emang tahan mendengar teriakan orang tua kita saat itu? Emang ya kamu ga punya perasaan sama sekali!" katanya dengan suara penuh kemarahan.
"Pokoknya kamu paling bersalah, Luna. Kamu harus merasakan yang orang tua kita rasakan," kata Lana penuh amarah.
"Kamu harus mati, Luna," desisnya tajam, membuat bulu kuduk Luna merinding.
Lana mulai mengayunkan tongkatnya kearah Luna. Namun tongkat itu berhasil dihalau oleh Luna, dia berhasil melepas ikatan tangannya.
Dalam serangan baliknya, Luna berhasil melepas ikatan tangannya dan berusaha keras untuk juga melepaskan ikatan kaki yang mengikatnya. Namun, Lana tidak membiarkannya begitu saja. Dengan kejam, Lana kembali menyerang Luna dengan tongkatnya, kali ini mengenai rusuk bagian bawah Luna.
Luna berteriak kesakitan saat tongkat itu mengenai tubuhnya. Rasa sakit menusuk-nusuk melanda tubuhnya, membuatnya hampir terjatuh ke tanah. Meskipun demikian, Luna tetap berusaha bertahan dan melawan rasa sakit yang menusuk dirinya.
Lana terus memukul Luna dengan tawa yang menyeramkan, menikmati setiap detik penderitaan saudaranya. Luna yang sudah tak berdaya hanya bisa melihat Lana dengan merinding.
Lana melihat Luna yang tidak berdaya, lalu berhenti mengayunkan tongkatnya dan mengembalikan posisi Luna seperti semula. Luna, yang sudah kembali ke posisi duduk dengan tangan terikat, merasakan sakit yang amat parah. Dia bisa merasakan tulang-tulangnya yang retak akibat pukulan Lana.
Di dorm Start Up, Jisung merasa tidak tenang. Beberapa bagian tubuhnya terasa tidak enak, seperti pegal tanpa alasan. Entah mengapa, dia tiba-tiba mengkhawatirkan Luna.
"Lun, Luna, apakah kamu masih bangun?" tanya Jisung, tapi tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Sepertinya dia sudah tidur," pikir Jisung.
Kembali ke tempat penculikan, Lana mendesis menatap Luna dengan kebencian. "Kamu pikir kamu bisa lari dari ini? Kamu akan membayar untuk semua yang telah kamu lakukan."
Luna mencoba menahan air matanya, menatap Lana dengan pandangan penuh penderitaan. "Aku tidak pernah ingin ini terjadi, Lana. Kita seharusnya bersama, bukan saling menyakiti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Secrets of the Vampire School
Hayran KurguLuna adalah seorang fangirl setia yang tergila-gila dengan boyband terkenal, "Start Up." Ketika mendengar bahwa seluruh anggota Start Up akan berkuliah di sebuah universitas elit yang baru dibuka, dia bertekad untuk diterima di universitas yang sama...
