UNDER REVISION
Liam Mavrendra yang berusaha keras keluar dari jeratan sang Mantan, ia melakukan segala cara untuk berusaha lepas. Namun nyatanya takdir malah membuatnya semakin terikat dengan Kaiza Lavinia. Wanita licik yang membuat Liam susah lepas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kaiza membuka pintu rumahnya perlahan, ia langsung terdiam melihat sosok Papanya masih duduk di ruang tamu dengan seluruh lampu rumah yang mati. Saat ia keluar dari rumah tadi Papa dan Mamanya itu masih berada di ruang tamu menonton TV, mereka sempat menanyakan kepada Kaiza akan pergi kemana namun Kaiza buru - buru pergi dan tidak menjawab sama sekali.
"Kai?" Papanya itu menoleh melihat ke arah dirinya yang masih berada di depan pintu.
"Kai, Papa mau minta maaf.. Papa tau kamu kecewa dan ga bisa maafin Papa sama Mama Kai.. Tapi izinin kami buat perbaiki semuanya, izinin kami buat buktiin ke kamu kalau kami bakal dan bisa untuk berubah" Ucap Lio yang berjalan ke arahnya.
"Terserah, mau berubah atau enggak. Enggak ada juga untungnya buat saya" Kaiza langsung pergi meninggalkan yang terpaku di tempatnya.
Kaiza mendesah pelan saat menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus bertahan untuk tiga hari kedepan. Entah ia bisa tahan atau tidak, pasalnya emosinya terus terpancing jika berhadapan dengan Papa dan Mamanya itu.
Kaiza membuka pintu kamarnya dan melihat Liam yang sudah tertidur di kamarnya. Kaiza menutup pintu perlahan, dan berjalan ke arah Liam. Ia bisa melihat bekas air mata mengering di sudut mata dan pipinya itu. Ia yakin sekali anak itu langsung menangis setelah ia pergi meninggalkannya.
Tangan Kaiza ter-ulur untuk mengusap air mata di pipi Liam, lalu mengelus pucuk kepala anak itu dengan lembut dan mengecup dahinya. Ia terdiam sebentar untuk menatap wajah yang damai itu, dan beranjak ingin pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan kakinya.
"Kaii..." Rengekan lembut serta tangan yang menahannya itu membuat Kaiza menghentikan aksinya.
Ia menoleh ke arah Liam yang menatapnya dengan mata sayu itu, suaranya yang parau itu terdengar akan menangis lagi dalam hitungan detik.
"Maaf... Gue ga maksud buat lo sakit hati, maaf gue maksa lo.. Maaf udah buat lo marah.. Maammhh" Kaiza langsung mencium bibir yang sepertinya tidur akan berhenti bicara itu.
"Jangan nangis, gue ga marah" Ucap Kaiza sambil mengelus pucuk kepala Liam menangkannya.
"Gue.. Gue cuman mau kalian baikan.. Gue mau lo bahagia" Ucapnya sambil mengigit bibirnya dengan kuat menahan isak tangisnya.
Kaiza menarik dagu Liam agar gigitan di bibirnya itu telepas.
"Jangan digigit nanti luka" Ucapnya lagi dan mengusap bibir ranum itu.
"Gue udah bahagia dengan punya lo.." Ucapnya lagi membuat Liam ingin kembali menangis.
"Tapi.. Kalo lo bisa baikan sama mereka kebahagiaan lo bisa berkali - kali lipat.. Gue cuman mau lo bisa ngerasain itu" Kaiza tersenyum melihat Suaminya yang bicara sambil menangis.
"Makasih" Kaiza mengecup bibir ranum itu dan menarik pinggangnya untuk merengkuhnya di dalam pelukannya.