bab sepuluh

28K 1.3K 144
                                        

⚠️WARNING⚠️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⚠️WARNING⚠️

this content is loaded with sweetness that can cause your heart beat faster, unconscious smile, and butterflies in your stomach. Please leave a vote and comment before you melt •

 Please leave a vote and comment before you melt •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bahu Shaza merosot tidak bersemangat. Meskipun dia berkata seolah baik-baik saja. Nyatanya Shaza sedikit kecewa, bukan karena pacar Adhisti yang sakit, soal itu apa boleh buat, lagipula adik iparnya itu sudah banyak berjasa menemani harinya selama ini. Namun, karena Shaza sudah lama ingin pergi ke tempat yang akan ia kunjungi hari ini. Dirinya sudah membuat janji dengan Adhisti sejak dua minggu lalu, tetapi tertunda berkali-kali. Pagi ini semuanya berjalan lancar, Shaza sudah siap tinggal menunggu kedatangan Adhisti yang berkata sudah di jalan. Akan tetapi, hidup memang selalu punya banyak kejutan.

Shaza melepas kardigan biru mudanya, menyisakan kaos dalaman putih. Pita di rambutnya pun juga sudah ia letakkan kembali di kotak aksesoris. Shaza menuruni tangga menuju dapur, ingin melampiaskan kekecewaannya pada makanan. Untung pagi ini Prad memasak ayam rica-rica super pedas sesuai permintaan Shaza. Cocok sekali dengan suasana hatinya sekarang.

"Kamu mau makan lagi?" Tanya Prad baru memasuki dapur.

"Kenapa? Nggak boleh?" Tanya Shaza balik dengan ketus. "Tadi aku cuma makan dikit doang, nggak sampe setengah centong nasi. Wajar dong kalo udah laper lagi. Nasi sama ayamnya juga masih banyak tuh, nggak bakal aku habisin kalo kamu takut nggak kebagian!"

Prad tidak tahu jika pertanyaan sepele yang ia ajukan sepertinya membuat Shaza tersinggung. Karena raut perempuan itu kini terlihat masam.

"Saya cuma nanya aja, Shaza. Kamu habiskan semuanya juga nggak apa-apa. Kalau kurang, nanti saya masakin lagi," jawabnya lembut.

"Emang aku serakus apa sampe ngehabisin semuanya? Atau kamu mau bikin aku gendut ya?!"

Daripada salah lagi, Prad enggan menjawab dan memilih untuk menuangkan susu putih ke dalam gelas yang akan ia berikan untuk istrinya. Ia ikut menarik kursi dan duduk di hadapan perempuan itu. Dengan telaten Prad mengambil nasi-nasi yang tidak sengaja terjatuh dari piring Shaza, ia kumpulkan menjadi satu di tisu.

The Day You Came [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang