Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Prad bertekad mengajak istrinya berbicara. Dia sengaja dari malam hingga pagi tidak beranjak dari ruang tamu, hanya sesekali saat perlu ke kamar mandi. Itu pun, Prad memastikan dia masih mendengar jejak langkah dari luar. Khawatir kecolongan seperti tempo hari. Dia tidak akan membiarkan istrinya kabur lagi.
Rasa kantuk tidak sebanding dengan ketakutan Prad melewatkan kehadiran Shaza. Untungnya hari ini hari libur, dia tidak perlu izin ke kantor. Andai harus bekerja pun, Prad tidak yakin jiwa dan raganya akan baik-baik saja. Dia dihantui perasaan tidak tenang.
Rupanya perasaan tidak tenang itu berubah menjadi ketakutan nyata, tatkala Prad melihat Shaza sedang menuruni anak tangga. Bagaimana tidak takut, istrinya itu membawa tas ransel di pundak. Siapa pun pasti akan berpikiran sama dengan Prad saat ini. Dan laki-laki itu tidak siap mengatakannya.
"Shaza, kita perlu bicara," pinta Prad memelas meraih tangan Shaza. Suaranya tercekik tapi dia terus memohon. "Dengerin penjelasan saya, Shaza. Kamu boleh percaya atau nggak, tapi tolong kita duduk dulu dan bicarain semuanya baik-baik ya, Sayang?"
"Oke." Shaza melihat senyum merekah di wajah Prad, dia balas dengan senyuman sekilas, lalu kembali memasang raut datar saat melanjutkan, "tapi nggak sekarang."
Lutut Prad terasa lemas nyaris jatuh ke lantai jika dia tidak menguatkan diri.
"Sayang ...." Tanpa sadar Prad memanggil sang istri seperti merengek frustrasi sembari menarik tangannya agar memberi kesempatan.
Gawai Shaza berbunyi, ia pun menarik tangannya dari Prad untuk memeriksa. "Regi udah di depan, dia mau ngambil motornya. Sekalian aku mau ikut sama dia. Aku mau nginep di kos Regi. Terserah kamu kasih izin atau nggak, aku bakal tetep pergi!"
Prad menduga ini akan terjadi melihat tas di punggung Shaza. Dia tahu menentang keinginan sang istri saat ini bukanlah pilihan yang baik meski sebenarnya dia berhak atas itu. Namun, ia menurunkan ego untuk menuruti Shaza.
"Berapa hari?"
"Nggak tau."
"Satu hari. Besok saya jemput."
"Terserah," jawab Shaza tidak peduli.
"Motor Regi biarin di sini. Kamu sama Regi saya antar ke kos. Besok waktu jemput kamu, saya nyuruh orang buat bawa motornya sekalian."
Shaza berdecak tak suka. "Ribet. Aku pengen ke kos Regi buat menenangkan diri, Mas. Kemarin aku ke Jakarta, karena butuh waktu buat sendiri, tapi kamunya malah dateng dan bikin aku makin pusing. Bisa nggak kasih aku waktu sedikit aja?"
Tidak ada nada amarah, tapi Prad bisa menangkap keputusasaan Shaza. Istrinya itu benar-benar terlihat tidak ingin melihat dirinya saat ini. Prad menyadari kesalahan yang ia buat. Dia ingin segera memperbaikinya secepat mungkin, tetapi dia juga harus memikirkan kondisi Shaza.
Dan memaksa Shaza di tengah kondisi seperti ini, Prad tahu hal tersebut akan semakin menyiksa istrinya. Lagi, ia menahan diri.
"Oke. Saya nggak akan ganggu kamu, tapi jangan larang saya buat tetap mengawasi kamu. Seenggaknya saya harus memastikan langsung keamanan istri saya," ujar Prad final.