Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah yang telah ia tinggalkan tepat satu minggu itu tampak tertutup rapat. Setelah mengucapkan terima kasih pada Regi yang sudah mengantarnya, Shaza bergegas membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa di tas.
Bukan hanya Shaza yang terkejut dengan pemandangan di depan matanya, tetapi laki-laki berbibir pucat yang sedang kesusahan memakai kardigannya itu juga sama membeku di tempat. Mereka saling pandang cukup lama sampai akhirnya Shaza mendekat dan memegang kening laki-laki tersebut.
"Badan kamu panas banget. Obatnya diminum nggak sih, katanya kemarin ke dokter," omel Shaza dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Prad tidak mengindahkan amukan Shaza. "Saya baru aja mau ke kampus kamu, saya kira kamu masih di sana."
"Kalau pingsan di jalan terus nabrak gimana? Kamu itu mikir nggak sih, Mas? Lagi sakit itu harusnya istirahat, minum obat teratur, terus makan yang banyak. Dan ... kabarin aku."
Prad tersenyum tipis, senang istrinya itu mengkhawatirkan dirinya. "Saya nggak bisa mikir, Shaza. Isi kepala saya cuma kamu. Saya pengen lihat kamu. Seharian nggak lihat wajah kamu, badan sama hati saya tambah sakit semua," jawabnya jujur.
Sial, kenapa hati Shaza berdebar mendengarnya. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam perasaanya sebelum semua jelas.
"Ya udah, sekarang, 'kan, aku ada di sini. Jadi nggak usah ke mana-mana. Istirahat sampai kamu sembuh," perintah Shaza. Ia menengadahkan tangan. "Obat dari dokternya mana? Udah diminum?"
Prad berjalan menuju kamar, di mana ia meletakkan obat-obatan di sebelah nakas. Shaza mengikuti dari belakang.
"Ini obatnya. Udah diminum kok ..." Prad menggaruk tengkuknya tidak berani menatap Shaza yang memicingkan mata. Ia menambahkan dengan lirih. "...kemarin."
Shaza menggelengkan kepala tidak habis pikir. Jelas-jelas tertulis di keterangan, obat dikonsumsi tiga kali sehari. Pantas saja saat memegang kening sang suami, panasnya tidak turun.
"Tapi udah makan, 'kan?"
"Udah kok, tadi pagi Yudhistira beliin saya bubur."
"Itu aja? Nggak makan apa-apa lagi?" Gelengan Prad membuat Shaza mendesah panjang. "Mau makan apa sekarang? Bubur lagi?" tawarnya tidak ingin menghabiskan waktu untuk marah. Melihat wajah pucat Prad mengangguk pasrah, Shaza jadi tak tega. "Aku pesenin aja ya yang terdekat. Biar cepet."
"Iya, Shaza, terserah kamu."
Selesai memesan bubur, Shaza menyuruh Prad untuk rebahan di kasur. Sementara dia ingin ke dapur, hendak menanak nasi untuk dirinya dan makan kedua Prad.
Belum sempat Shaza melangkah, tangannya ditahan oleh Prad. "Lepasin, Mas. Aku mau masak bentar, sekalian nungguin delivery. Kamu istirahat dulu aja," perintahnya.
"Nggak bisa di sini aja temenin saya?" tanyanya dengan nada sendu memohon.
Hampir saja Shaza terlena untuk mengiyakan, tetapi ia segera menepis perasaan tersebut. Dia harus memastikan kesehatan Prad terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan mereka.