Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Batin seorang ibu tidak pernah keliru, kata-kata tersebut benar adanya. Karena bagaimana Inggid menghubungi Shaza dengan mata sembab, karena teringat wajah putrinya sepanjang malam. Inggid baru melakukan panggilan video saat ia rindunya sudah tidak terbendung.
Dari seberang Shaza pun ikut menangis, untuk pertama kalinya ia jauh dari orang tua saat sakit. Maka dia tidak tahan untuk menceritakan yang sesungguhnya terjadi, Shaza merasa bersalah memaksa Prad untuk merahasiakan insidennya.
Dan berita kecelakaan kecil Shaza seketika menyebar ke seluruh keluarga mereka. Januar dan Inggid tentu panik, mereka berniat mencari tiket secepatnya untuk menyambangi Shaza. Namun, tentu hal tersebut ditolak, bukan karena Shaza tidak ingin orang tuanya datang. Justru Shaza sangat butuh dipeluk mereka. Akan tetapi, ia menyadari orang tuanya memiliki tanggungjawab di sana yang tidak bisa sembarangan ditinggalkan.
Shaza berhasil meyakinkan Inggid dan Januar bahwa dirinya telah baik-baik saja. Mereka terpaksa setuju untuk tidak menjenguk, dengan syarat Shaza harus menginap di rumah keluarga Prad. Mertua perempuan itu pun juga sangat setuju, bahkan yang mengusulkan ide tersebut. Mereka siap mengirim sopir untuk menjemput.
Di sinilah Prad dan Shaza berada, di kediaman Salim. Ini bukan pertama kalinya Shaza menginap, tapi perasaan kali ini sedikit berbeda.
"Barang-barange dilebokke ning kamar tamu wae, Mbok," perintah Sekar dengan logat yang tidak ada medok-medoknya. Digandengnya tangan Shaza sebelah kanan. "Tidur di kamar tamu aja nggak apa-apa ya, Mbak? Seprainya udah diganti, udah dibersihin juga. Kamarnya Prad ada di atas, Ibu takut kamu susah naik turunnya." (Barang-barangnya dimasukkan ke kamar tamu saja)
Belum sempat Shaza menjawab, Adhisti dari sisi kiri yang juga memegangi tangannya ikut menyahuti. "Tidur di kamarku juga nggak apa-apa kok, Mbak. Kamarku ada di bawah."
Prad yang berdiri di belakang mereka pun akhirnya bersuara meski hanya suara dehaman.
"Atau sama Ibu? Biar Ayah tidur sama Prad," goda Sekar yang membuat Prad berdeham semakin kencang. "Lho kenapa tenggorokanmu, Mas? Kamu batuk? Wes, ndak usah deket-deket sama Mbak Shaza dulu. Nanti ketularan."
"Kulo sehat, Bu," dalih Prad panik. (Kulo: saya)
"Shaza tidur sendiri aja deh biar nggak jadi rebutan," guraunya hingga yang lain tertawa, kecuali Prad.
Ibu dan anak itu menuntun Shaza ke kamar yang akan ditempati walaupun perempuan itu berkata sudah lelah terlalu banyak rebahan, tetapi Sekar dan Adhisti tidak memberi izin Shaza duduk di sofa ruang tamu terlalu lama.
Tidak lama Salim datang bergabung, langkahnya terburu-buru menghampiri. "Gimana kondisinya, Mbak? Maaf Ayah baru balik dari resto."
"Sangat membaik, Yah. Aku cuma jatuh biasa aja kok. Maaf ngerepotin Ayah jadi harus pulang," balas Shaza tak enak.