Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Assalamu'alaikum."
Mendengar suara sang suami dari ruang tamu membuat Shaza terkesiap. Dia tidak menyadari suara deru mobil karena sibuk memikirkan banyak hal. Alhasil Shaza tidak sempat melarikan diri seperti sebelumnya, apalagi Prad lebih dulu mendatangi Shaza di ruang makan.
Ya. Mereka memang minim interaksi beberapa hari ke belakang. Namun, jika ada kesempatan Prad selalu mengusahakan agar mereka bisa berbicara, meski pada akhirnya Shaza mencari alasan untuk pergi.
"Udah dijawab kok, di hati," sahutnya malas.
Kepala Prad bergeleng-geleng menatap Shaza tidak percaya, tetapi Shaza tidak peduli. Ia segera mengangkat piring, ingin pergi dari sana walaupun makanannya belum habis.
"Kamu mau ke mana?" Prad mencekal tangan Shaza. Ia tuntun untuk kembali duduk, lalu ia mengambil tempat di sebelahnya. "Temani saya dulu, ya?"
"Kenyang. Aku mau ke kamar."
Prad menunjuk piring dengan dagu. "Itu belum habis, masih banyak nasi sama lauknya," sangkal Prad tidak mengendurkan pegangannya sama sekali. "Kamu beneran udah kenyang makan segitu?" Shaza mengangguk kecil. "Ya, udah, biar saya yang lanjutin. Kamu taruh lagi di meja. Sayang kalau dibuang."
"Jangan, ini makanan sisa aku. Kamu nggak jijik?" tanya Shaza berusaha menakuti.
"Mana ada saya pernah ngerasa gitu sama kamu, Shaza." Prad terkekeh seraya mengambil piring tersebut dari tangan sang istri. Kemudian ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tanpa beban. "Kamu yang masak?" tanya Prad di sela makan.
"Iyalah, siapa lagi," ketusnya.
Tangan Prad menepuk kepala Shaza pelan. "Makin pinter masaknya, Sayangku."
Seketika Shaza lupa dengan rencana kaburnya. Dia kembali duduk di sebelah Prad, memandangi laki-laki itu yang kini menyantap nasi, ayam goreng dan sambal buatannya dengan lahap.
Bibir Shaza gatal untuk menanyakan bagaimana rasanya pada Prad, tetapi dia sudah bertekad untuk menahan diri. Dia harus tetap diam sampai laki-laki itu membiarkannya pergi.
"Mau minum nggak?" tanya Shaza tanpa sadar lepas kendali saat melihat Prad berdesis, bibirnya memerah.
Padahal Shaza hanya memakai lima cabai, itu pun kecil. Baginya tidak ada pedas-pedasnya sama sekali. Namun, Shaza tidak merasa bersalah, karena siapa suruh memakan masakannya. Dia kan tidak memasak untuk Prad.
"Nggak usah."
"Kamu kepedesan tuh."
Prad tetap menolak, kembali mencekal tangan Shaza. "Jangan di sini aja. Nanti pedasnya lama-lama hilang kok."
"Dih, susah banget dibilangin," rutuk Shaza.
"Saya takut kamu pergi," ujar Prad membuat Shaza tertegun menatapnya. Dengan mata berair karena menahan pedas, Prad balik memandang sang istri. "Saya takut kamu nggak kembali."