bab empat puluh enam

32.7K 960 50
                                        

Akibat pergumulan sepasang suami istri yang lama tidak bertemu, keduanya lupa waktu dan menghabiskan seluruh tenaga hingga tak tersisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Akibat pergumulan sepasang suami istri yang lama tidak bertemu, keduanya lupa waktu dan menghabiskan seluruh tenaga hingga tak tersisa. Kini mereka terkapar di kasur setelah membersihkan diri.

Suhu tubuh Prad kembali panas, tidak hanya dirinya, Shaza pun sedikit hangat. Efek dari berlama-lama berendam dan bermain dibawah guyuran pancuran air.

Prad merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol diri. Ia merangkul erat Shaza dari belakang, istrinya yang menolak untuk minum obat, Shaza bilang dia hanya kelelahan dan jika setelah istirahat tidak ada perubahan, malah semakin naik, perempuan itu akan meminum obat penurun panas.

"Aku nggak apa-apa kok, Mas," ujar Shaza menenangkan Prad dengan mengusap lengan laki-laki itu yang melingkar di perutnya.

Masih belum menemukan kantuknya, Shaza membalikkan badan menghadap Prad yang kini menatap bingung.

"Kenapa? Badan kamu sakit-"

"Seandainya aku hamil gimana, Mas?" tanya Shaza membungkam mulut sang suami. "Ya, kita, 'kan, nggak tau. Barangkali kebobolan atau apa gitu yang bikin aku hamil. Perasaan kamu gimana? Seneng nggak?"

Entah mengapa Shaza tiba-tiba memikirkan hal tersebut. Perkataan Soraya dan Dessy mengenai kehamilan, masih sedikit membekas di hatinya. Mungkin hal tersebut yang membuat ia susah memejamkan mata setelah kegiatan mereka.

Keheningan menyelimuti, Shaza mulai gugup karena ekspresi Prad tampak rumit. Dan ia semakin bingung ketika Prad kini malah menariknya ke dalam pelukan seraya mengusap punggungnya.

"Membayangkan itu terjadi, perasaan saya selalu campur aduk," jawab Prad, mengendurkan jarak di antara mereka, lalu tersenyum tipis. "Pastinya saya akan senang sekali mendengar kabar itu, tapi ... di sisi lain, saya juga memikirkan kondisi kamu yang pastinya nggak mudah."

"Kalau aku ... ehm, aku kayaknya seneng deh, Mas. Emang awalnya aku nggak kepikiran soal anak, tapi kalau dikasih, aku bakal seneng," jawab Shaza tersenyum lebar. Ia memainkan kaos Prad tidak berani menatap. "Temen-temen kamu udah banyak yang punya anak nggak sih? Emang kamu nggak mau juga? Kalau nunda terus nggak takut kelamaan keburu kamu makin tua?" tanyanya dengan nada polos. Jujur, tidak ada niatan untuk menghina, Shaza hanya mengungkap yang ada di pikirannya.

Untung Prad tidak tersinggung, ia balas dengan tawa kecil ucapan sang istri mengenai usianya yang tidak bisa dibantah.

"Teman-teman saya yang sudah punya anak emang banyak. Yang belum nikah juga banyak. Yang belum menikah tapi sudah punya anak, juga ada. Yang belum punya semua, tapi sudah meninggal ... juga ada. Saya nggak menganggap hidup sebagai perlombaan, tapi sebuah kesiapan, Shaza. Dan titik siap setiap orang itu berbeda-beda. Untuk sekarang, saya siapnya berdua dulu sama kamu, saya nggak siap melihat kamu harus menunda mimpi kamu, karena itu jauh lebih menyakitkan buat saya," terangnya secara lembut dan tenang seraya membelai rambut sang istri.

The Day You Came [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang