Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ngelamun mulu lo di depan jendela. Nggak sekalian teriakin namanya biar dia keluar?" ledek Regi sesaat kembali dari kamar mandi mendapati posisi Shaza tidak berpindah. Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia mendekat, ikut melihat ke arah pandang sahabatnya. "Lah, tumben mobil suami lo nggak ada di garasi. Belum pulang dia?"
Shaza mengangkat bahu acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan bibirnya yang turun ke bawah. "Sibuk kali ... atau udah capek."
Wajar ini sudah menginjak hari ke enam, Shaza tahu Prad tidak akan berlama-lama mengikuti permainan kekanakannya. Laki-laki itu pasti bosan dan lelah, ia memilih untuk kembali pulang ke rumah dan menjalani aktivitas seperti biasa sebelum ada dirinya.
Ah, membayangkan hal tersebut saja ada perasaan tidak rela di hati Shaza.
Sungguh tidak adil menurut perempuan itu, karena hari-harinya mungkin berjalan normal. Dia berkuliah, mengerjakan tugas, rapat kepanitiaan dan sesekali bermain dengan teman-temannya. Namun, mengapa Shaza merasa ada yang hilang.
Keberadaan Prad yang samar-samar di sekitarnya membuat ia sedikit tenang, tetapi keabsenan laki-laki itu menyebabkan kehilangan Shaza semakin nyata dan dia tidak suka.
"Aduh, aduh, udahan cemberutnya. Mending kita cari makan sekarang atau lo mau nunggu Mas Prad pesenin makanan? Kalau opsi kedua, gue minta lo chat dia sekarang, soalnya gue udah keburu laper banget."
Selama ini tiap pagi, Prad akan memesakan makan untuk dua perempuan itu, saat siang hari, jika mereka sedang di kampus, Prad mengirim uang pada Regi untuk membelikan makan keduanya dan pada malam hari, terkadang Prad mengirim makanan atau membawa sesuatu saat pulang kerja.
Dan itu semua tentu melalui Regi, karena sampai detik ini, Shaza belum berpapasan dengan Prad sekali pun. Seolah laki-laki itu akan bersembunyi secepat kilat jika ada Shaza. Satu-satunya yang bisa ia lihat adalah saat pagi bangun tidur dan malam menjelang tidur, Shaza selalu duduk di depan jendela Regi melihat kamar Prad yang terlihat dari tempatnya, juga sedang membuka jendela.
Meski dekat tapi cukup berjarak untuk Shaza bisa melihat keberadaan Prad, mungkin jika ia menggunakan teropong, Shaza akan tahu apakah Prad diam-diam memperhatikannya atau hanya membuka jendela untuk sirkulasi udara.
"Lah, bengong lagi. Ngomong sama angin gue," gumam Regi sebal. "Kalau lo nggak mau chat Mas Prad, biar gue aja. Tapi, gue bilangnya lo yang nyuruh."
Regi akhirnya berhasil mendapatkan atensi Shaza. Perempuan itu segera merebut gawai Regi dengan paksa.
"Lo pesen langsung aja nih pakai hp gue, sayang saldonya udah gue isi, tapi belum kepakai sama sekali," ujar Shaza menyerahkan gawai.
Bukannya menerima, Regi tampak berpikir sejenak. "Bosen nggak sih pesen makan mulu? Kita keluar aja yuk? Makan di luar gitu."
"Sekarang?" Shaza melirik ke garasi, mobil hitam yang ia tunggu belum juga datang. "Agak nantian aja deh keluarnya."