Shaza merasa sudah gila ketika menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah demi mendapatkan restu berkuliah di luar kota. Lebih gilanya lagi, dia akan menikah dengan mantan tunangan Shania-kakaknya yang telah meninggal dunia.
Shazana Nareswari t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada hari Minggu yang cerah, Inggid dan Januar merencanakan destinasi liburannya ke Candi Borobudur. Tempat yang tidak pernah mereka kunjungi meskipun sudah beberapa kali datang di Kota Pelajar tersebut. Terinspirasi dari unggahan foto pemandangan dari salah satu temannya, Inggid pun tergugah untuk menjelajahi keajaiban sejarah yang belum pernah ia saksikan secara langsung. Inggid berniat untuk menyewa mobil saja, pergi berdua dengan suaminya. Akan tetapi, satu hari sebelumnya, Prad sudah memesan tiket untuk empat orang, dirinya, Shaza, Januar dan Inggid.
Mereka kedapatan tiket untuk sesi tiga yaitu pukul sebelas siang, tapi pada pukul sepuluh mereka telah tiba di tempat tujuan karena harus menukarkan tiket dan mengurus lainnya. Semua keperluan untuk masuk tempat wisata telah diurus oleh Prad sehingga Januar, Inggid dan Shaza bisa langsung masuk setelah mendapatkan tiket berbentuk gelang. Mereka diarahkan untuk menukarkan voucher dengan upanat yang merupakan sandal tradisional biasanya digunakan untuk upacara adat. Guna pelestarian sejarah budaya, pengunjung diwajibkan untuk mengganti sandal pribadi yang selama ini menyebabkan terjadinya pengikisan pada bangunan.
"Ukuran berapa ini sandalnya?" Tanya Shaza melihat Prad membawakan sandal berbahan anyaman bambu untuknya. "Tanya dulu bisa kali, Mas. Kalau kegedean gimana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Shaza, laki-laki itu berlutut dan memasangkan sandal upanat di kaki istrinya. Shaza tidak bisa menolak atau memberontak karena Inggid dan Januar berdiri tidak jauh dari sana.
Sekitar pukul setengah sebelas, rombongan kloter tiga yang berkuota maksimal 150 orang itu pun berkumpul pada satu pemandu wisata. Selesai memberikan beberapa pengarahan, aturan dan hal apa saja yang akan dilakukan nanti, mereka pun berangkat ke tujuan utama.
Suasana cukup ramai dengan pengunjung yang datang dari berbagai kota, bahkan negara. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Inggid, didampingi Januar, perempuan itu kini berada paling dekat dengan pemandu wisata dan paling aktif melontarkan pertanyaan. Dia juga membaur dengan pengunjung lain yang kebetulan sebaya dengannya, asik bercerita tentang keluarga masing-masing sampai melupakan Shaza dan Prad yang berjalan paling belakang di rombongan tersebut.
Akibat pembicaraan semalam, Shaza merasa sedikit canggung dengan laki-laki itu. Bagi Shaza dirinya tidak sepenuhnya bersalah untuk meminta maaf. Namun, Prad yang hanya merespons pertanyaannya dengan singkat membuat Shaza tidak nyaman menikmati perjalanan ini. Jika saja tidak ada Januar dan Inggid, dirinya juga tidak akan peduli. Akan tetapi, Shaza tidak ingin kedua orang tuanya menyadari ada yang tidak beres di dalam hubungannya dengan Prad.
Shaza akui, sejauh ini Prad tidak melakukan sesuatu yang membuat Inggid dan Januar curiga. Laki-laki itu tetap memperlakukannya dengan baik melalui tindakan. Seperti pagi ini, selagi Shaza mandi, Prad menyeterika pakaian yang akan dikenakan istrinya hari ini, mengantre bubur di pagi buta untuk Shaza dan saat ini laki-laki itu pun masih memayungi dirinya agar tidak terkena paparan sinar matahari. Prad masih seperti biasanya, hanya saja laki-laki itu tidak banyak mengeluarkan suara.