Chloe terdiam, semakin di perhatikan foto itu semakin mirip Wisma. Chloe ragu tapi tak mungkin Karina berbohong dengannya, namun dia baru saja mengetahui fakta bahwa Wisna dan Wisma tak ada kesalahan dalam pelafalan percakapan mereka dengan bahasa internasional itu.
Pintu kamar mandi itu terbuka, masih tak mengganggu pikiran Chloe yang berkecamuk. Kesadarannya kembali saat tangan Wisma masuk ke dalam pakaiannya, meraba perut datar Chloe. Tubuh yang dingin setelah mandi itu membuat Chloe merinding, menangkup wajah Wisma yang kini bersandar di ceruk lehernya.
”Mas bakal kangen kamu, sayang”
Perlahan Chloe meletakkan ponselnya diatas nakas, pasrah ketika Wisma membawa tubuhnya ke tengah kasur. Mengukung Chloe kemudian mengecup setiap sudut wajahnya menarik tawa geli Chloe.
”Cuman 2 hari mah kecil buat aku, janji ga bakal kangen”
Ucapan itu membuat Wisma mengernyit, ekspresi wajahnya berubah sedih. Jadi siapa yang kucing disini, haha. ”Kok gitu” tubuhnya merosot menindih Chloe, meletakkan wajahnya di depan dada Chloe. ”Mas kira kamu bakal kangen”
Tawa Chloe menggema. ”Udah pasti kangen, aku tipe yang kalo kangen berisik. Nanti ganggu mas disana, jadi aku janji ga kangen”
Chloe berkesempatan mengusap kepala Wisma, sementara Wisma asik mendengarkan detak jantung Chloe. Ini menenangkan bagi keduanya. ”Gimana kalau mas ga keberatan kamu ganggu”
Senyuman itu mengembang manis hingga guratan kucing di pipinya muncul. ”Pagi kita video call, malam kita telponan. Gimana?” Menjulurkan tangannya.
Wisma mengangkat tubuhnya, menjabat tangan Chloe kemudian mengecup bibirnya. ”Setuju”
”Besok aja aku siapin baju mas ya” Pandangan Chloe beralih menuju tubuh atas Wisma yang telanjang, menggigit bibir bawah nya saat jarinya menari di dada Wisma.
Seringainya muncul menjadi tanda awalan yang bagus, Chloe dapat menyadari tatapan menggelap suaminya. Begitu attractive di atas dengan rambut legam yang masih meneteskan air sebab Wisma tak mengeringkannya dengan benar, juga napas begitu hangat melewati bibir ranum yang entah mengapa selalu menggoda Chloe untuk menciumnya.
”Cuz you want me to prepare you clothes, right?” Wisma mengikis jaeak wajah mereka, sengaja berbicara di depan bibir Chloe. Ready to devour those lips until he is satisfied. “But you might misunderstand, because I prefer to tear it up”
Chloe terpekik saat Wisma benar-benar merobek kaos putih yang dia pakai, menyerbu tonjolan kemerahan itu. Menarik desah yang cukup keras, Wisma benar- lebih nyaman melakukannya di kamar. Masalahnya Chloe tak tau apakah pintu itu sudah di kunci atau belum, sebelum Chloe akan mempertanyakan hal itu Wisma lebih dulu meraup bibirnya.
Melumat, juga menyesap lidahnya. Tangan Chloe memainkan surai Wisma untuk menyalurkan fakta bahwa dia menikmati hal yang mereka lakukan, hingga satu gerakan membuat Chloe kini berada di atas Wisma.
Menertawakan dirinya saat melihat penampilannya. ”Aku mirip gembel sekarang, mas”
“Gembel cantik” Wisma sedikit meraba tubuh mulus itu hingga akhirnya menyingkirkan kain yang dia robek tadi, menarik tubuhnya agar bisa duduk menghadapi Chloe yang nyaman berada di pangkuannya.
Tonjolan itu membengkak, warnanya merah muda menggoda Wisma untuk kembali mendekat dan menyesap. Wisma pikir dia bisa membuat itu semakin membengkak.
“Angh mash, jangan di gigit!”
Chloe mendorong wajah Wisma menjauh dari dadanya, dia dapatkan kini nipple nya memerah. Wisma menampilkan wajah tengil yang anehnya membuat suami Chloe semakin tampan, jantung Chloe berdetak lebih kencang kini. ”Biar ga gede sebelah isep juga yang sebelahnya”
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Historia CortaCerita oneshoot dengan Sunoo-tokoh utama di setiap cerita. ⚠️ -bxb -bxg -gs ©𝐋𝐲𝐫𝐚 𝐲𝐨𝐚
