Pak Guru [Sunsungwon]

3.4K 160 6
                                        

"Eh katanya ada wali kelas baru buat kelas 11D" Bisikan itu terdengar Sunghoon, dia yang mimpin kelas 11D. Semua anak di kelas itu dibuat tunduk dan nurut cuman sama dia, apa itu wali kelas. Ga ada yang betah sejak Sunghoon mulai bergerak memimpin.

"Kita liat aja nanti, siapapun dia, ga bakal betah di kelas kita" Ucapnya pada teman-temannya yang lain.

Ucapan itu di dengar Hera, gadis yang dulu pernah dekat dengan Sunghoon. Cerita sedikit, dulu Sunghoon itu bagian dari anak-anak berprestasi disekolah itu, Hera juga. Sampai suatu saat Sunghoon tertuduh menjadi pelaku pembakaran soal ujian akhir, Hera juga dulunya sempat curiga pada Sunghoon sebab semua bukti tertuju padanya. Tapi Sunghoon tetap bilang tidak salah, pria itu di skorsing satu bulan dan terancam tidak di naikan kelas.

Hera pikir, jika hal itu tidak dilakukan oleh Sunghoon, lalu oleh siapa. Tiada yang tahu, dan beginilah jadinya. Sunghoon memberontak dan tak akan pernah ingin naik kelas, begitu kata pria itu. Terbukti, kini Hera sudah berada di kelas 12 dan sebentar lagi akan mengikuti ujian kelulusan. Sementara Sunghoon masih menetap.

Mobil sedan berwarna merah itu menarik semua perhatian sekolah, tak pernah ada yang menaikinya sebelumnya. Belum sampai seseorang keluar setelah pintunya dibuka, pria berkulit putih pucat dengan kacamata hitamnya. Pakaian serba hitam dan juga totebag hitam, salah tempat kayaknya. Ini mau ngelayat atau mau ke sekolah.

"Ajg siapa weh?!"
"Eh ganteng banget astaga"
"Kiw WA, IG, apa aja deh"

Sunghoon lagi lagi di hukum, tapi kali ini hukumannya bukan lari atau segala macam olahraga. Sunghoon disuruh mencari banyak buku di perpus dan membawanya ke ruang guru, mending lari keliling lapangan 7x deh daripada disuruh bawa sepuluh buku tebal ini.

Mana cuman dia sendiri yang bawa, temannya yang kena hukuman disuruh bersihin wc utama sekolah.

Sunghoon susah lihat kedepan karena ketutupan buku, jadi dia andelin sisi kanannya. Dia ga tau ada apa di depannya, kayak rame gitu. Jadi dia perlu teriak.

"AWAS AWAS MINGGIR MINGGIR NINU NINU NINU, GUE LAGI BAWA BUKU AJG. MINGGIR!!!"

Kedengarannya sih kayak lagi ada kerumunan gitu, mana makin rame lagi. Hingga seseorang menubruk Sunghoon, tumpukan buku itu jatuh mengenai Sunghoon. Benjol dah tu pala.

"Maaf kak" Cicit seoarang gadis yang langsung membantu Sunghoon.

"Maaf kak maaf kak, jalan tu pake mata. Buta mata lo"

Dibentak begitu sama murid nakal membuat gadis itu menahan tangisnya, ini nih karena liat orang ganteng jadi nabrak orang lain. Tangan putih itu meraih satu buku yang tertinggal, Sunghoon melirik siapakah gerangan makhluk pucat itu.

Kacamatanya di lepas, tersenyum sangat manis kearah Sunghoon. "Kamu gapapa?"

Sunghoon speechless.
PLAK! /Mukul diri sendiri lewat batin. Sunghoon kembali fokus, dia percaya bahwa pria manis di hadapannya kini adalah guru yang beberapa orang maksud tadi. Dengan cepat dia merebut buku itu, namun tertahan. Buku itu ditahan orang ini.

"Tunggu, tangan kamu berdarah" Pria itu merogoh kantong celananya, dia selalu sedia hansaplast untuk dimanapun dan kapanpun.

Sunghoon tersengat oleh sentuhan tangan lembut itu, dan apa ini, tubuhnya membeku tak bisa di gerakkan. Dia seakan tersihir oleh pesona pria dihadapan nya, begitu putih, begitu cantik. Rasanya ingin-

"Lepasin" Ragu Sunghoon, haruskah ia membentak. Tapi tak tega.

Sunghoon kemudian berlalu dengan tergesa-gesa, memberikan buku itu pada guru yang menyuruhnya. Memegangi dada nya yang berdegup kencang, astaga apa yang tadi itu. Membuatnya merinding, bayang-bayang pria itu merasuki jiwanya.

AmaranthineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang