Mulut selembut plum dan semerah delima itu masih senantiasa mendesahkan nama dosennya, disana, diatas meja dengan penuh lembar dan berkas itu Sunghoon memasukkan tangannya di dalam liang hangat mahasiswinya. Bagaimana tubuh ini bisa seindah itu, kulit seputih susu itu kini memiliki banyak ruam merah di sekitaran leher dan payudara yang tergoncang itu. Sunghoon dengan cepat menggerakkan dua jarinya dan melepasnya setelah Sunoo mendapatkan klimaksnya.
Sunoo, mahasiswa yang sudah tidur bersama beberapa dosen di kampus guna mendapatkan nilai yang sempurna. Omong kosong, bukan itu tujuannya. Dia hanya, maniak sex. Dia pintar, sangat. Bahkan anak konglomerat ini mendapatkan beasiswa karena kecerdasan nya, satu lagi kelebihan Sunoo. Gadis itu bisa membuat para dosennya gila karena tubuhnya, tak perduli dosen itu sudah memiliki istri atau apa. Dia juga sedang mengejar kenikmatannya.
Dan benar, setiap dosen memiliki gaya mereka masing-masing. Ah, Sunoo puas. Dia bangkit, dua gunung itu terlonjak saat si empu bangun dari posisi tidurnya. Melipat tungkai indah itu, mengikat rambut panjangnya. Melihat Sunghoon yang buru buru membuka celananya, Sunoo menggeleng saat Sunghoon kembali mendekatinya.
"No, enggak sir. Bukan ini yang aku mau, lepaskan baju itu. Sisakan dasinya"
Sunghoon menyeringai. "Kamu mau lihat tubuh ku?"
Sunoo mengerling, poni itu bergerak mengikuti anggukan kepalanya. Sunoo menunggu sembari mengecek kukunya dengan model baru kali ini, dia membayar mahal untuk memasang berlian dari cincin nya di kuku itu. Sunoo suka hal yang seksi, mahal, dan blink blink.
"Bagaimana?" Sunghoon dengan tubuh telanjang yang membuat gairah Sunoo memuncak, membiarkan dasi itu berada di leher jenjang itu adalah poin utamanya. Menggapai dasinya, menarik Sunghoon dan menyatukan labium mereka.
Sunoo hampir terpekik saat Sunghoon dengan gerakan yang tiba-tiba menggendongnya, mereka pindah di sofa. Sunghoon yang sudah tak tahan lagi mulai memasukkan ujung penisnya, kening Sunoo mengerut. Menggigit jari nya karena sensasi berbeda dari dosen ini, meski tergesa-gesa, Sunoo akui Sunghoon memperlakukannya dengan lembut.
Bahkan pria itu membisikkan kalimat cinta yang Sunoo ragukan kebenarannya. "Aku mencintaimu sayang, kamu cantik, aku suka aroma tubuhmu. Aku menyukai ekspresi dan suara rintihan itu, kamu tau aku gak pernah mendapatkan semua ini dari istriku"
Sunghoon meloloskan habis batangan itu, Sunoo menahan jeritannya. Suara yang sengaja di imutkan itu membuat Sunghoon antusias.
Sunoo meraih wajah itu, memainkan bibir tipis itu dengan jemarinya. "Apa istrimu membosankan, Sir?"
"Sangat, aku malah mencintai semua yang ada di dirimu"
"Benarkah? Kalau begitu teruskan Sir, aku ingin melihat seberapa hebat kamu hingga buat aku kepayahan" Suara tawa di akhir seakan menantang Sunghoon, pria itu mulai bergerak. Pelan dan dalam, Sunoo mendesah pelan. Begitu lembut, mereka sudah seperti pengantin baru saja.
Dia jadi teringat akan Dosen Jay, dimana pria lajang yang anti dengan pernikahan dan hubungan sejenis itu terlalu kasar padanya. Gerakannya langsung cepat, dan Sunoo tak pernah mendapatkan Jeda. Jay, dosen pertama yang tak memakai pengaman saat bercinta dengan Sunoo.
Dosen itu bilang tak akan keluar di dalam, tapi dia membuktikan ucapannya. Jay, tipikal om om yang suka memesan gadis lewat online. Dia hanya bisa bermain sekali dengan Sunoo, dan Sunoo tak akan mau lagi. Sunoo mencari kepuasan, bukan dia yang harus memuaskan. Meski begitu Sunoo akan selalu mengingat permainan dosen itu.
Mendadak temponya berubah, tubuh Sunoo mulai terlonjak lonjak. Sunghoon bangkit, memiringkan tubuh Sunoo dan mengangkat satu tungkainya. Menusuk telak begitu dalam, Sunoo melirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Short StoryCerita oneshoot dengan Sunoo-tokoh utama di setiap cerita. ⚠️ -bxb -bxg -gs ©𝐋𝐲𝐫𝐚 𝐲𝐨𝐚
