Sagara (au)

1.3K 31 11
                                        

"Maybe we can do it here too, you know..," bisik Saga, dengan sekali gerakan memutar tubuh Hesa untuk menghadapnya.

Menatap mata bambi itu dalam, Hesa menarik napas dalam ketika Saga meremas pinggangnya. Seringai itu perlahan muncul ketika berhasil membuat telinga kekasihnya memerah, ok lupakan champagne itu. Sagara lebih memabukan.

Hesa lupa cara bernapas saat Sagara mendekat kemudian menggigit kecil daun telinganya, whisper in a damn deep voice. "Baby, you so red."

Dalam keadaan ini merah yang menghiasi wajah cantik Hesa semakin membuat Saga ingin segera membubuhkan kecupannya di setiap sudut tubuh yang lebih kecil, meletakan kedua tangan nya pada pembatas mengukung Mahesa, mengisyaratkan pria itu untuk menghabiskan minumannya.

Dengan sekali teguk gelas itu sudah tak berisi. "Giliran kamu-"

"Feed me." Saga masih enggan melepas tatapan nya, perlahan Hesa membawa gelas milik Saga ke depan bibirnya.

Entah apa yang dia lakukan, semuanya seperti tak tertangkap jelas oleh ingatan nya. Namun fokusnya tetap ada pada Sagara, mabuknya membuat Hesa tak sengaja menumpahkan sedikit champagne itu ke tubuh half naked Saga.

Meraih tangan Hesa. "You get drunk with just one sip-" Mata Saga terbelalak ketika Hesa melakukan pergerakan pertamanya, grab Sagara's neck. Sticking out his tongue to touch the skin of Saga's neck, menariknya dari bawah ke atas.

Saga menengadah, tertawa dengan tingkah laku bambi-nya yang mulai memasuki fase tipsy. Bernapas tepat di adam apple yang naik-turun itu. "Babe, I lost control of myself. I'm not responsible for what happens next," ucap Hesa dengan cegukan di akhir.

Saga benar-benar tertawa kali ini. "Itu harusnya jadi kalimat aku, but babe, kamu harus sadar. Aku ga bakal biarin kamu lupa sama malam ini." Saga dengan pergerakannya yang tiba-tiba mengangkat tubuh Hesa, membawa pria itu menduduki pembatas balkon. Hesa akan menoleh ke bawah, dia ingat mereka berada di lantai 9.

Saga tak membiarkan Hesa beralih kemana pun, menangkup pipi Hesa dengan satu tangan dengan tangan lain nya mengawasi tubuh Hesa. Menarik ciuman dalam nan lama, Hesa rasa dia akan jatuh saat itu juga. Jatuh dalam tatapan menggelap Saga lebih tepatnya.

Nakal, tangan Hesa menjalar membuka resleting celana Saga. Melesakkan tangannya ke dalam sana, meremas benda tegang itu. Melepaskan tautan mereka, tertawa senang ketika mendengar geraman di selingi desahan tertahan Sagara.

"Hey naughty, don't try to attract other people's attention with anything other than your sighs." Hesa terpekik berpikir bahwa dia benar-benar akan jatuh, melainkan kini dirinya berada di atas kasur empuk sebelumnya. Dia mabuk.

Bahkan dia baru menyadari dingin yang menyentuh kulitnya, entah sejak kapan dia naked. Matanya berkedip, jantungnya berdegup dengan kencang. Hesa mendesah entah karena alasan apa sampai dia mendongak melihat perbuatan Saga, menyatukan milik keduanya menggerakan tangannya cepat.

Saga menatap bambi-nya, Hesa di luar kendali. Namun dia sudah kepalang menikmati apa yang mereka lakukan, dengan penuh kesadaran mendesahkan nama Hesa ketika klimaksnya menghampiri. Menggigit bibir bawahnya melihat tubuh Hesa terhiasi cairannya, milik Hesa masih menegang. Bambi-nya belum mendapatkan kenikmatan, Saga akan membantunya namun pergerkan Hesa lebih cepat mengambil kendali atas dirinya sendiri.

Saga meluangkan waktunya untuk meletakkan ponselnya di sudut ruangan, merekam kegiatan mereka. Beralih menuju botol yang separuh isinya telah lenyap, membuang semua air itu di kamar mandi. Minuman itu membuat Hesa-nya tak sadar, maka satu video akan membuat Hesa mengingat malam ini.

Saat Saga kembali pada Hesa, betapa terkejutnya pria itu melihat kekasihnya yang telah memasukkan dua jari ke pusatnya, dengan bibir bawah yang di gigit guna menahan desahnya. Menatap Saga dengan mata mabuknya.

AmaranthineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang