Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jack meletakkan ponselnya di atas nakas saat tak lagi mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, ini gila. Apa yang harus dia lakukan, sejurus kemudian Seno melaangkah keluar dengan tampilan shirtless dan rambut basahnya.
Memang apa yang akan mereka lakukan, maksudnya Jack tak berniat mengundang Seno ke rumahnya untuk hal lain selain menemaninya.
"Jack, kamu tidur?" Gosh suara itu membuat Jack menegang, dasar Jaya dan Helen. Jack jadi kepikiran sekarang.
Menoleh sedikit ke arah Seno, melakukan gerakan seakan-akan dia sangat mengantuk. "Eung, aku tidur duluan ya"
Seno hanya diam tak menyahut, Jack pura-pura tidur tapi tak kunjung tidur sampai Seno terlelap. Jantungnya berdegup tak karuan, apa yang dia harapkan? Ketakutan yang tanpa alasan ini sia-sia.
"Are you really sleeping, Seno?" Tubuhnya dia condongkan ke ujung kasur, mengintip Seno yang tampak sangat nyenyak dalam tidurnya. "Kamu kedinginan ga? Iya kedinginan, aku tidur di atas bareng kamu ya" Tanya sendiri jawab sendiri, Jack menertawakan tingkahnya. Andai Seno sungguh berbicara seperti itu kemudian beralih menuju kasurnya.
Jack berguling ke ujung sisi kasur lainnya, mulai menggigit kuku nya. Membayangkan Seno dengan suara dalamnya me- APA YANG SEDANG JACK PIKIRKAN.
"Ini gara-gara Jaya dan Helen, plis jauh-jauh deh kalian berdua. Lagian kan masih sekolah, emang boleh" Entah kalimat akhir itu akan menjadi pertanyaan atau sebagai nya.
Jack memutar tubuhnya lagi dan hampir memekik ketika mendapati Seno sudah berada di atas kasurnya, pria itu segera meraih tubuh Jack mendekatinya. "Don't make any noise, you might wake the others up later"
"Kamu ngapain???"
"Aku ga bisa tidur, kamu juga kan"
Jack mengernyit, kok tau. "Enggak tuh, balik kr bawah gih"
"Di bawah dingin, sayang"
Jack berusaha keluar dari dekapan Seno, hasilnya Seno semakin erat meremas pinggangnya. "Kamu dari tadi denger aku dong"