[6]My Angel Devilz - My Lovely Phoenix

1.3K 52 22
                                        

Sunghoon ga tau apa yang akan terjadi selanjutnya, yang diatau pria tampan ini mengajaknya terbang karena masih belum mengantuk. Melarangnya memainkan ponsel sebab katanya tak bagus untuk matanya, tapi sekarang Sunoo malah melakukan hal yang ga bagus buat jantungnya.

Apa-apaan pake acara lepas baju segala, menyisakan celana jeans panjang ditengah malam yang dingin ini. Sunghoon mau nolak tapi ga enak, dia mengusap kakinya yang terkena rumput basah di halaman belakang.

“Kedinginan?”

Pake nanya.

“Banget”

Sunoo tertawa, ada nada khawatir dalam tawanya. Dengan mendadak membawa Sunghoon ke gendongannya, ini kalo tetangga ngamuk karena suara teriakannya jangan salahin Sunghoon, salahin aja Sunoo. beruntungnya mereka ga ada tetangga yang jarak rumahnya dekat, semuanya jauh.

T-tapi, kenapa ini sangat nyaman. Sunghoon mengeratkan pelukannya pada leher Sunoo, tak menyadari pria itu sedang menatapnya lekat.

“Hangat” Rasa dingin yang menusuk tulang segera beralih ke dalam kenyamanan dan kehangatan sejak Sunoo menggendongnya. Sunghoon mendengar sesuatu mengepak.

Merasakan tubuhnya disambut angin malam, mengintip ke bawah. Mereka sungguh-sungguh terbang, anehnya Sunghoon tak merasa takut sama sekali. Beralih memperhatikan wajah tampan Bos Phoenixnya, Sunghoon sempat iri dengan kulit bersinar itu, terlihat sangat lembut dan kenyal.

Sunoo masih terus mengepakkan sayap hitamnya, menuju kehadapan sang rembulan. Ingin memberitahukan pada Bunda bahwasannya dia telah menemukan hidupnya, meminta restu dalam damainya cinta yang membuncah belakangan ini. Merasakan kehadiran Jungwon, tersenyum penuh setelah mereka berada tepat dihadapan sang bulan.

Sunghoon suka bulan dan ini pertamakali dia melihat benda bulat bercahaya itu dengan sangat jelas dan dari jarak yang cukup dekat, dua sudut bibirnya terangkat penuh. Menoleh pada Sunoo yang juga menatap bulan, terhenyak dengan kikian kecil di dalam perutnya. Dia pikir Maves juga bisa menikmati malam yang indah ini.

Suasana dengan cepat berubah, pria itu menangis. Air matanya jatuh di lengan Sunghoon, dia indah namun kesakitan. Sesuatu menghantarkan apa yang selama ini di rasakan Sunoo, Sunghoon merasakannya, tepat di hatinya.

“Kalian telah di restui, kini kamubisa merasakan apa yang dia rasakan. Begitupun sebaliknya, perasaan kalian menyatu”

Rasa itu tak sekedar membuncah, mengalir ke sanubarinya. Kesepian, sesak setelah di tinggalkan, hampa selama proses menunggunya.

Sunghoon meraih pipoi Sunoo, mengusap pelan sisa air mat aitu dengan ibu jarinya. “Jadi selama ini kamu nunggu aku” Entah pertanyaan atau pernyataan, kala manik legam dengan iris amber itu bertemu, dan saat anggukan kecilnya menghaluskan air mata Sunghoon meluruh.

“Maaf”

Maves dalam dirinya pun ikut merasakan atsmosfer yang kala itu naik diantara keduanya, butuh ribuan tahun untuk Sunoo si makhluk Whizliz bertemu dengan sejatinya pasangan hidup.

Dari hati yang sedang bingung berlabuh pada tempat yang salah, kemudian meluruh tanpa dosa, terombang-ambng dalam lautan luka, mengingat misteri dunia yang ia tinggali, sampai akhirnya Sunghoon datang dengan sendiriannya.

Bagi Sunghoon, kisah cintanya sangat sederhana. Namun bagi Sunoo, semuanya berproses lama.

“Makasih masih bertahan sampai aku datang, maaf juga karena aku hampir mau pergi dari kamu. Tolong bertahan sampai akhir sama aku ya” Pucuk hidungnya memerah seiring lancarnya bulir bening itu keluar.

Anggukan kepala Sunoo menjawab semuanya. “Aku kuat Sunghoon, calon suami kamu ini kuat. Buktinya masih bisa gendong kamu”

Manakala mata itu terpejam menguras sisa liquidnya meluruh, Sunoo mendekat untuk memberi ciuman tepat di bibir tipis Sunghoon. Dua labium itu lama menempel, Maves milik Sunghoon bereaksi. Membelah diri membuat pasangannya sendiri. Sesuatu yang bercahaya dari diri Sunghoon melewati rongga antar sesapan keduanya, masuk ke tubuh Sunoo.

AmaranthineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang