Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lihatlah para petani tanpa keluhan dengan senang menanam padi mereka, lihat para nelayan yang senang meski tangkapan mereka tak sebanyak hari lalu, lihat juga para pedagang yang dengan penuh senyuman menawarkan barang dagangan mereka. Rasanya seperti tak masalah jika mereka tak mendapatkan hasil yang memuaskan, karena pasti Tuan Putri yang cantik itu akan membantu mereka menyelesaikan masalah.
Turun langsung membantu mereka, kerap memberi ini dan itu. Rendah diri, mencintai rakyatnya, menjaga tatanan desa supaya seimbang, tentram, dan nyaman. Dan kabarnya Tuan Putri akan kembali mengunjungi desa, dengan putri kedua.
"Ada kabar baik dan buruk, yang mana yang mau kau dengar duluan" Ucap Jay sembari mengasah ujung anak panahnya, mereka ini prajurit kerajaan yang di utus untuk menjaga keadaan desa. Mereka bebas kemana saja selagi dalam masa tugas, rakyat desa juga sebaliknya berterima kasih pada mereka dengan seringkali memberi sedikit hasil tanam mereka maupun dagang.
"Berita buruk? Aku akan mendengar hal itu duluan" Lain halnya dengan Sunghoon yang seharusnya tetap berada di sisi Tuan Putri, bukannya bertugas dengan Jay di luar. Dia akan mengayunkan pedangnya pada siapa saja yang akan menyakiti Tuan Putri.
"Putri kedua akan menemani seseorang agung yang akan mengunjungi desa" Putri kedua itu sebenarnya adalah tunangan Jay, Ayah Jay adalah seorang Menteri yang artinya dekat dengan Raja. Begitulah keduanya jadi terikat, Jay sangat ingin menolak. Tapi ini termasuk perintah Raja.
"Siapa seseorang agung itu?"
"Ini berita baiknya, seseorang yang kau sukai"
"Tuan Putri Sunoo?"
"Benar sekali"
Terjadi jeda lama hingga pukulan pada kepala Jay mencairkan suasana. "Kenapa tidak bilang dari tadi, aku akan kembali untuk mandi dan bersiap" Sunghoon sangat antusias, akhirnya dia akan bertemu dengan pujaan hatinya lagi.
Sementara di Kerajaan megah itu, para pelayan khusus sibuk mencari gaun yang cocok untuk Tuan Putri kenakan. Sunoo menatap pantulan dirinya di cermin, tersenyum melihat kesibukan di belakangnya.
"Tak perlu berlebihan, aku akan memakai baju tanpa aksesoris apapun"
"Tuan Putri yakin? Kami sudah menemukan beberapa aksesoris untuk gaun biru anda"
Sunoo bangkit, senyuman itu masih belum turun. "Simpan saja, segera bersalin" Satu perintah diturunkan dan semua orang mulai menghampiri Sunoo, dia berdiri di kursi kecil dengan bantalan empuk. Mereka dengan hati hati memakaikan gaun itu, beberapa ada yang menyisir rambut panjang hitam legam itu, ada juga yang sibuk memasang jubah kerajaan pada Putri sebagai simbol dari Kerajaan itu sendiri. Terakhir memasangkan sepatu, Tuan Putri Sunoo sudah siap.
"Apa Putri kedua sudah selesai?"
"Belum Tuan Putri, atau ingin kami panggilkan"
Tangan lentik itu terangkat. "Tak perlu, biar aku yang menghampiri nya"